Kalimantan Timur
BKPP Pacu Pengembangan Tanaman Jelai

BKPP Pacu Pengembangan Tanaman Jelai

 

SAMARINDA – Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Kaltim terus berupaya memotivasi sekaligus memacu petani melalui tenaga penyuluh lapangan untuk mengembangkan komoditas tanaman lokal khususnya Jelai.

“Kita masih menginventarisir lahan dan potensi pengembangan komoditas lokal khususnya tanaman Jelai. Kelebihannya tidak perlu perlakuan khusus serta umur tanam ini hanya empat atau lima bulan sudah panen,” kata  Kepala BKPP Kaltim H Fuad Assaddin, Selasa (9/12).

Menurut dia, tanaman Jelai bisa menjadi makanan alternatif guna mendukung program penganekaragaman (diversifikasi) pangan bagi konsumsi masyarakat. Selain untuk energi karena mengandung karbohidrat juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Produksi tanaman Jelai  sangat tinggi dalam satu hektar lahan mampu berproduksi antara tujuh hingga delapan ton walaupun di lahan kering atau pegunungan.

Saat ini lanjut Fuad, minimal harga Jelai atau Mutiara Cina sekitar Rp20 ribu per kilogram. Bahkan apabila sudah masuk super market atau diperlukan untuk konsumsi kesehatan maka harganya bisa mencapai Rp125 ribu per kilogram.

Selain itu, tanaman Jelai bisa diolah menjadi tepung Jelai yang fungsinya tidak jauh berbeda dengan beras. Secara spesifik Jelai terdapat dua jenis yakni beras Jelai dan ketan Jelai.

Tanaman Jelai sangat adaptif terhadap lahan kering terutama jika ditanam di kawasan pegunungan atau dataran tinggi yang kering. “Sesuai penelitian para ahli tanaman Jelai merupakan tanaman asli Asia Tenggara sehingga sangat sesuai ditanam di Kaltim,” ujarnya.

Melihat potensi dan nilai ekonomi serta keunggulan maupun keutamaan tanaman Jelai, ujar Fuad maka tidak ada salahnya masyarakat khususnya para petani untuk ikut dan berusaha mengembangkan tanaman Jelai.

“Kami optimis pengembangan tanaman Jelai mampu mempercepat pencapaian diversifikasi pangan di Kaltim selain pengembangan komoditi sukun, pisang, labu, ubi kayu atau umbi-umbian selain memenuhi kebutuhan karbohidrat masyarakat,” ungkap Fuad Asaddin.

Dia mengakui saat ini konsumsi masyarakat masih bergantung pada beras dan tepung sementara kedua komoditas tersebut Indonesia masih harus mendatangkan beras (impor) dari negara lain dengan biaya yang tinggi dan menguras devisa negara.

“Diversifikasi pangan masyarakat akan mengurangi ketergantungan konsumsi beras dan tepung yang tinggi dengan biaya besar. Khusus tanaman Jelai memiliki kandungan gizi dan protein yang sama dengan beras bahkan lebih baik,” kata Fuad. (yans/sul/es/hmsprov)

/////Foto : Fuad Asadin (kanan) di lahan tanaman Jelai. (dok /humasprov)

Berita Terkait