Kalimantan Timur
1.106 Peserta Ikuti Upacara HUT ke 60 Provinsi Kaltim

 

SAMARINDA- Sedikitnya 1.106 peserta mengikuti upacara puncak HUT ke 60 Provinsi Kaltim yang dipusatkan di Kompleks Stadion Madya Sempaja Samarinda, Senin 9 Januari 2017. Peserta terdiri dari jajaran TNI, Polri, ASN, Ormas, Mahasiswa dan Pelajar.

Upacara direncanakan dipimpin Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dan dihadiri pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kaltim, Bupati/Walikota se Kaltim serta perwakilan pegawai SKPD di lingkungan Pemprov Kaltim.

“Kita harapkan penyelenggaraan ini dapat berjalan maksimal. Karena, upacara ini merupakan puncak HUT Provinsi diharapkan berlangsung sukses dan lancar. Diperkirakan 1.106 peserta yang siap mengikuti upacara,” kata Koordinator Upacara HUT ke 60 Provinsi Kaltim Fachruddin Djaprie yang juga Kadispora Kaltim, ketika gladi kotor di Stadion Madya Sempaja Samarinda, Kamis (5/1).

Fachruddin mengatakan dari pelaksanaan tersebut juga dirangkai dengan tambahan kegiatan, yaitu penampilan ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita Provinsi Kaltim membawakan tarian Gemu Fa Mi Re dan Tari Jepen yang akan diikuti seluruh peserta dan undangan yang hadir. Selain itu, upacara juga dirangkai dengan launching e-Samsat dan i-Kaltim.

Mengenai Tari Jepen yang merupakan tari budaya kesenian Kutai dapat diikuti lebih dari 4.000 peserta. Karena, penampilan tari jepen akan dicatat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). “Jika yang mengikuti tarian tersebut terpenuhi, maka rekor cacatan MURI akan diterima Pemprov Kaltim. Artinya, budaya seni asal Kalimantan, khususnya Kutai akan menjadi catatan dunia. Sedangkan tari Gemu Fa Mi Re akan diikuti 600 orang,” jelasnya.

Selain itu, mengenai listrik, diyakini tidak akan terganggu. Karena, panitia telah menyiapkan genzet untuk menghandle permasalahan tersebut. Kemampuan daya genzet yang akan digunakan dapat mengatasi arus listrik mencapai.

“Cukup untuk menghandle 25.000 watt. Bahkan, genzet menjadi solusi utama untuk digunakan, sedangkan arus listrik dari PLN sebagai pendukung genzet. Karena, arus listrik dari PLN bisa saja terganggu. Misal, ada pohon tumbang atau tiang listrik yang roboh. Yang jelas, penyelenggaraan upacara siap dilaksanakan,” jelasnya.(jay/sul/ri/humasprov)

Berita Terkait