Kalimantan Timur
Dukung Pengembangan Pembelajaran Wirausaha Kreatif, SMKN 3 Kaltim Terapkan TEFA

Sitti Aisyah

 

SAMARINDA - Mendukung pembelajaran wirausaha industri kreatif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), diperlukan berbagai cara, sehingga siswa yang lulus dari sekolah tersebut mampu menjadi SDM berkualitas dan kreatif. Caranya dengan melaksanakan model pembelajaran Teaching Factory (TEFA).

Inilah yang dilakukan SMKN 3 Samarinda, Kaltim. Di mana pengembangan pembelajaran wirausaha tersebut proses pendekatannya adalah perpaduan metode yang sudah ada yaitu CBT (Competency Based Training) dan PBT (Production Based Training).

CBT adalah pelatihan yang didasarkan atas hal–hal yang diharapkan oleh siswa di tempat kerja. CBT ini memberikan tekanan pada apa yang dapat dilakukan oleh seseorang sebagai hasil pelatihan (out put) bukan kuantitas dari jumlah pelatihan.

PBT (Production Based Training) adalah suatu proses pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen.

“Pendekatan pembelajaran ini adalah suatu konsep pembelajaran dalam ruangan kelas dan laboratorium (Bisnis Center dan Restoran) atau menerapkan pelatihan dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan indusri dan pengetahuan dari sekolah,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kaltim Dayang Budiati didampingi Kepala SMKN 3 Samarinda Sitti Aisyah di Kantor Disdik Kaltim, Selasa (6/6).

Melalui pendekatan pembelajaran tersebut maka etos kerja siswa dalam melaksanakan praktek produktif lebih baik. Hal ini ditunjukan dengan adanya peningkatan waktu penyelesaian dan juga kualitas pekerjaan semakin baik. Misalnya, siswa Program Keahlian Patiseri dan Jasa Boga harus mampu membuat perencanaan produksi makanan dengan modal yang sudah ditentukan hingga memasarkan dan menghitung laba.

Pengembangan pembelajaran ini dilandasi oleh tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, pendekatan pembelajaran yang berbasis produksi dan pembelajaran di dunia kerja. Dukungan mutu pendidikan dan latihan yang berorentasi hubungan sekolah dengan dunia industri dan dunia usaha menerapkan Bisnis Center dan Restoran di sekolah.

Landasan lain adalah semakin mahalnya biaya bahan praktek siswa, peralatan yang harus terpelihara dalam kondisi standar, motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi warga sekolah serta menimbulkan kepercayaan diri dan juga kebanggaan bagi lulusan.

“Model ini adalah pembelajaran yang berorientasi bisnis dan produksi. Atau suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill) dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Di mana, siswa melaksanakan pembelajaran dengan presentase 30 persen teori dan 70 persen praktek,” jelasnya.

Kepala SMKN 3 Samarinda Sitti Aisyah mengaku telah meneliti model pembelajaran ini di sekolah tersebut. Karena itu, melalui model pembelajaran ini diharapkan siswa yang lulus dari sekolah tersebut mampu menjadi SDM kreatif dan mandiri.

Melalui model tersebut sekolah ini mampu menghasilkan output yang andal. Karena model ini menuntut agar siswa mampu kreatif khususnya mampu mencari relasi yang luas dengan dunia industri sebagai pendukung dan mitra kerja.

“Inilah yang dilakukan sekolah, sehingga dapat memiliki mitra kerja kegiatan sekolah. Karena, jaringan kemitraan yang luas dengan dunia industri adalah salah satu aset maha penting bagi SMK Negeri 3 Samarinda,” jelasnya.

Hingga saat ini, kemitraan telah dibina sejak awal dan dikembangkan terus semakin luas. Bahkan setiap hari Sabtu dan Minggu banyak permintaan dari dunia industri untuk memakai jasa siswa dalam pesta-pesta di hotel atau di gedung-gedung pertemuan yang ada di Kota Samarinda. 

Siswa secara bergantian diberi kesempatan untuk menimba ilmu dan pengalaman selama menjalankan casual training. Selain mendapat pengalaman kerja, siswa juga memperoleh keuntungan berupa satu kali makan dan honor yang berkisar antara Rp25 ribu-Rp50 ribu dalam sekali event.

Pembelajaran ini telah berkembang di Pulau Jawa dan di Kaltim hanya SMK Negeri 3 Samarinda yang melaksanakan. ( jay/sul/es/humasprov)

 

Berita Terkait