Kalimantan Timur
Gaharu Kaltim Sangat Menjanjikan

Gaharu Kaltim Sangat Menjanjikan

 

SAMARINDA-Potensi tanaman gaharu di Kaltim ternyata sangat menjanjikan. Setidaknya hal itu dibuktikan oleh  pekebun gaharu asal Desa Sido Bangen Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Sumadiyono.  Dia mampu membuktikan, bahwa penanaman pohon penghasil gaharu sangat bermanfaat bagi keluarganya.

Sumadioyono telah menikmati hasil penanaman pohon gaharu ini. Panen pertama dilakukan pada oktober 2013. Satu pohon yang dipanen menghasilkan 2,3 kg gubal gaharu yang dijual dengan harga Rp26 juta/kg. Sehingga Sumadiyono mendapat uang dari penjualan gubal gaharu sebesar Rp59,8 juta.

Panen kedua dilakukan Maret 2014, satu pohon yang dipanen menghasilkan 1 kg gubal gaharu dijual dengan harga Rp13juta/kg. Sehingga dalam waktu kurang lebih enam bulan, Sumadiyono sudah mampu menghasilkan uang dari penjualan gubal gaharu sebesar Rp72,8 juta. Dari usahanya ini, kini Sumadiyono telah membeli dua unit sepeda motor. 

“Ini merupakan bukti bahwa gaharu sangat potensial ditanam di Kaltim.  Selain harganya yang cukup tinggi,  pemeliharaannya pun sangat mudah. Pemprov Kaltim siap mendukung penanaman pohon gaharu ini karena sangat menguntungkan," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kaltim Prof Dr Dwi Nugroho Hidayanto di Samarinda, Selasa (2/9).

Menurut dia, di Kaltim terdapat tiga jenis pohon gaharu yang sudah dikenal yaitu Aquilaria malaccensis, A Microcarpa dan A Beccariana. Meski demikian, di Kaltim dua jenis ini mampu dikembangkan Sumadiyono sejak 2006, yaitu sebanyak 79 pohon masing-masing 66 pohon jenis A Beccariana dan 13 pohon jenis A Microcarpa.

Selama ini, memang untuk mendapatkan gubal gaharu, yang  dijual di dalam negeri maupun ke luar negeri bisa mencari di hutan alam. Sehingga wajar saja pencari gaharu bisa mendapatkan uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah dari penjualan gubal gaharu yang didapat dari hutan alam. 

“Tetapi, di Kaltim kita bisa membuktikan, ternyata pekebun pohon penghasil gaharu mampu berhasil tanpa harus mencari di hutan. Bahkan hasil penjualan gubal gaharu dari budidaya tersebut, dapat membeli dua buah motor untuk kedua anaknya,” jelas Dwi.

Dwi mengatakan, pohon penghasil gaharu milik Sumadiyono dapat menghasilkan gubal gaharu, karena dilakukan penyuntikan (inokulasi) pada batang pohon menggunakan inokulan yang terbuat dari jamur Fusarium Sp. Penyuntikan dilakukan pada 2012, sehingga pada saat penyuntikan pohon gaharu telah berumur 6 tahun.

Dalam waktu kurang lebih dua tahun gubal gaharu pada pohon sudah terbentuk dan dilakukan pemanenan. Inokulan atau obat gaharu yang disuntikan ke batang pohon gaharu tersebut sudah diproduksi di daerah ini. Sehingga untuk penyuntikan (inokulasi) pohon penghasil gaharu yang lebih banyak lagi dapat dilakukan.

“Karena itu, Gubernur Kaltim Bapak Awang Faroek Ishak juga berharap pengembangan gaharu dari dilakukan di masing-masing daerah, sehingga tidak hanya terfokus pada pengembangan sektor perkebunan seperti sawit saja," jelasnya. (jay/sul/hmsprov)

Berita Terkait