Kalimantan Timur
Gubernur Tanam Jagung di Talisayan, Dorong Industri Pakan Ternak di Berau


 

TALISAYAN – Gubernur Awang Faroek Ishak melanjutkan kampanye gerakan tanam jagung ke wilayah paling utara Kaltim, Kabupaten Berau.  Gubernur meyakinkan, jika petani mau bekerja keras dan terus mencari peluang-peluang usaha dari pertanian jagung, termasuk dengan kolaborasi tanaman lainnya, maka kesejahteraan petani akan jauh meningkat. 

 “Jika ingin sukses, maka petani harus mau bekerja keras. Selain itu, cari terus peluang-peluang usaha terkait jagung ini. Pemerintah akan terus melakukan pembinaan, memberikan banyak pilihan dan silakan tentukan sendiri yang terbaik demi peningkatan kesejahteraan petani,” kata Awang saat bertatap muka dengan para petani dan melakukan gerakan tanam jagung di Desa Suka Murya, Kecamatan Talisayan, Sabtu (3/12). 

Dijelaskan Gubernur, untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani jagung, sinergi akan terus dilakukan antara Pemprov   Kaltim dan Pemkab Berau melalui instansi tehnis terkait untuk mendorong pengembangan industri pakan ternak di Kabupaten Berau.

Kehadiran perusahaan-perusahaan industri pengolahan pakan ternak, kata Gubernur akan memberikan nilai tambah produk, dan tidak membuat Kabupaten Berau hanya menjadi penghasil jagung.

“Saya berharap segera dibuat perjanjian antara Kementerian Pertanian dengan perusahaan industri pakan ternak untuk menampung semua produk jagung Kaltim dan mengolahnya di sini, Pengembangan industri lain berbahan jagung juga masih sangat potensial,” tambah Gubernur.

Tahun ini Kaltim mendapat alokasi 11.500 hektar untuk penanaman jagung. Berau yang menjadi sentra pengembangan tanaman jagung dan menjadi penyumbang 60 persen kebutuhan jagung Kaltim mendapat alokasi penanaman 5.000 hektar. Kabupaten lain yang potensial dalam pengembangan jagung adalah Kutai Timur, Penajam Paser Utara dan Paser.

Jika Kaltim sukses, minimal dengan asumsi panen 80 persen dari 11.500 hektar yang telah ditanam, maka pada 2017 Kaltim  akan mendapat alokasi dari Kementerian Pertanian sebanyak 27.000 hektar.

Gubernur menantang para petani Berau agar tahun depan bisa menanam 7.000 hektar. Bahkan, jika daerah lain tidak sanggup, penanaman jagung akan diarahkan ke Kabupaten Berau hingga 20.000 hektar.

“Kalau di Jawa, mau nanam lagi tidak ada lahan. Kalau di sini, mau nanam lagi, paling sakit pinggang. Karena itulah kita akan terus dorong penerapan pola pertanian menggunakan mekanisasi,” sambung Gubernur disambut aplaus para petani.

Sebelumnya, saat menyampaikan laporan pada forum tatap muka Gubernur dengan para petani di Talisayan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kaltim H Ibrahim mengungkapkan, pada 2015 Kaltim masih kurang sekitar 7.000 ton. Tapi  dengan menanam 11.500 hektar dan asumsi panen minimal 80 persen, maka kebutuhan jagung Kaltim sudah akan tercukupi.

“Insya Allah kebutuhan jagung kita pada 2017 akan  tercukupi,” kata Ibrahim.

Selama ini kekurangan jagung di Kaltim dipasok dari Sulawesi dan Jawa Timur. Ke depan diharapkan Kaltim bisa mencapai swasembada dan justru daerah lain yang akan mengambil jagung dari Kaltim.

“Bukan hanya itu, kita sangat berharap Berau tidak hanya akan menjadi penghasil jagung yang besar, tetapi industri pengolahan jagung juga ada dibangun di Berau. Harus ada pabrik pakan ternak di sini, karena industri unggas dan tambah terus bertambah.  Selain untuk pakan ternak juga untuk pakan ikan,” tambahnya.

Ibrahim juga mengungkapkan, masih terdapat permasalahan yang kerap dialami petani, terutama terkait harga jual jagung, khususnya bagi petani yang telah melakukan MoU dengan sejumlah perusahaan. Petani yang tidak ikut MoU dengan perusahaan justru bisa mendapatkan harga jual yang lebih baik antara Rp2.400 hingga Rp2.500 perkilogram. Sedang petani yang melakukan MoU hanya dihargai Rp2.000 perkilogram.  

“Petani berharap agar harga jual jagung mereka bisa lebih baik lagi, bisa keatas lagi. Kehadiran industri pakan ternak bisa dipastikan juga akan meningkatkan harga jual jagung petani,”  kata Ibrahim.

Rata-rata produksi jagung petani antara 7 hingga 8 ton. Padahal prospeknya bisa mencapai 9 ton perhektar. Waktu tanam hingga panen sekitar 3 bulan. Saat panen petani dapat mengumpulkan uang hasil panen sekitar Rp27 juta atau rata-rata perbulan mendekati angka Rp10 juta.

Berau sendiri menjadi penghasil jagung dan kedelai nomor satu di Kaltim. Sedangkan untuk padi, Berau  berada di empat besar setelah Kukar, PPU dan Paser.

Bupati Berau Muharram sangat mendukung rencana ini dan berterima kasih karena Pemprov Kaltim terus memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pengembangan pertanian di Kabupaten Berau.

“Kami sangat berterimakasih dan akan lebih maksimal mendorong program tanam jagung ini. Kami juga akan berupaya keras agar dapat menarik industri pengolahan pakan ternak dan ikan agar bisa dikembangkan di Kabupaten Berau,” kata Muharram.

Turut mendampingi Gubernur Awang Faroek Ishak dan rombongan dalam kunjungan ke Biduk-Biduk dan Talisayan, Wakil Bupati Berau Agus Tantomo. (sul/humasprov)

Berita Terkait