Kalimantan Timur
Karang Mumus yang Nyaris Hilang Kelestariannya

Menyusuri SKM Bersama Tim Tagana Kaltim

DALAM rangkaian HUT  ke-10 Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Kaltim, Sabtu sekitar pukul 09.30 Wita, Tim Ekspedisi Tagana  Kaltim melakukan aksi bersih-bersih sekaligus pemetaan banjir di Sungai Karang Mumus (SKM).

Dengan dukungan satu perahu karet dan perahu fiberglaas bermesin tunggal berkekuatan 200 PK, membawa  rombongan tim yang  siap menyusuri SKM.  Berangkat di dermaga tidak jauh dari kantor KPPP menuju titik akhir  tujuan  Waduk Benanga yang  berjarak sekitar 20 km.

Sungai Karang Mumus  berada di jantung ibu kota Kaltim. Sepanjang perjalanan pemandangan yang dijumpai adalah padatnya pemukiman di bantaran SKM, dangkalnya sungai dan lingkungan sungai yang tidak terawat karena banyaknya sampah. Tim juga disuguhi aktivitas warga SKM mulai mandi, cuci sampai buang hajat yang bercampur industri tahu dan tempe serta pemotongan ayam.

"Sehingga wajar saja bila hujan turun maka banjir pun datang. Sungai Karang Mumus memiliki masalah sangat krusial, tentunya kondisi ini harus menjadi perhatian Pemkot Samarinda maupun instansi terkait lainnya," kata Pembina Tagana  Kaltim yang menjadi pimpinan rombongan ekspedisi, Ayi Hikmat.

Menurut Ayi Hikmat, yang juga Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial (Banjamsos) Dinsos Kaltim ini, memang melihat kondisi seperti sekarang ini, SKM perlu mendapat perhatian serius dengan perencanaan yang matang.

Untuk menyelesaikan masalah SKM harus ada kesadaran dan kepedulian warga kota. Tanpa kepedulian maka kebijakan pemerintah kota yang dibuat tak akan ada artinya. Selain itu SKM juga menjadi masalah masa lalu, pola hidup kejiwaan manusia, budaya rantau dan segala macam kebudayaan Samarinda. Pemerintah pun dituntut tegas dengan solusi yang adil.

Hasil ekspedisi ini nantinya akan direkomendasikan kepada Pemkot Samarinda untuk disikapi, dimana titik-titik lokasi SKM yang sangat urgen untuk menjadi perhatian dalam rangka pengendalian banjir. Pada 2010 juga melakukan  kegiatan yang sama tetapi kondisi SKM masih lumayan bersih.

Tahun ini setelah dilakukan pemantauan kembali, teryata kondisi SKM semakin parah. Pendangkalan terjadi dimana-mana sehingga jika dibiarkan apa yang terjadi lima tahun mendatang SKM bukan berbentuk sungai lagi tetapi bisa berubah menjadi parit.   

Perjalanan teryata tidak seindah yang dibayangkan, perahu karet dan perahu fiberglas yang ditumpangi rombongan awalnya lancar-lancar saja, sesampai di Tepian Lempake hanya sekali-kali motoris mengangkat mesin karena mati, kipas berkali-kali tersangkut sampah.

Untuk mencapai ujung SKM memang tidak mudah perlu mental dan fisik yang kuat, karena anggota Tagana sudah terlatih semua tantangan dan rintangan bisa dilewati meskipun harus bersusah payah.

Awalnya tim menyusuri SKM sangat mudah namun setelah melewati tepian Lempake rintangan sangat banyak banyak potongan-potongan kayu hingga sampah  menjadi momok rombongan, karena perahu sering ngadat kipas mesin tersangkut sampah. Terpaksa para anggota Tagana terjun ke sungai. Teryata kedangkalan di hulu SKM sangat parah ada yang sepinggang bahkan ada yang sebetis orang dewasa.

"Seharusnya yang dilebarkan jangan hanya di kawasan Lempake saja tetapi sepanjang hulu SKM, lihat banyak sekali tonggak-tonggak bekas pohon ikut menyumbat sungai ini," kata Ayi yang ikut turun langsung melakukan aksi bersih-bersih SKM.

Bahkan saat rombongan hampir sampai di bendungan Benangga masih terjadi rintangan berat sebuah pohon ukuran besar tumbang menutup sungai bersama tumpukan sampah baik enceng gondok juga sampah rumah tangga. Terpaksa gergaji mesin (chainsaw) ikut dimanfaatkan untuk memotong kayu tersebut.

Melihat rintangan sangat berat tim Ekspedisi tim Tagana Kaltim tidak patah arang  dengan penuh semangat dan dengan rasa kesatuan yang kuat sampah dan pohon tumbang sebagai penghalang berhasil disingkirkan.

"Kami pantang pulang sebelum berhasil sampai tujuan, apapun rintangan akan kami terjang," kata Ayi sembari memberi semangat kepada anak buahnya.

Meskipun berbagai rintangan sangat banyak menghadang, rombongan akhirnya bernafas lega sekitar pukul 18.00 Wita, capek perasaan was-was akhirnya sirna setelah mendengar  gemuruh air Waduk Benanga. (sarjono/sul/hmsprov)

//Foto: NASIB KARANG MUMUS. Tim Ekspedisi Tagana  Kaltim berusaha lolos di badan sungai yang dangkal. Pemkot dan masyarakat Samarinda seakan kurang memperhatikan nasib Sungai Karang Mumus. Kewajiban semua pihak melestarikannya jika tidak akan menimbulkan bencana.(sarjono/humasprov kaltim).

Berita Terkait