Kalimantan Timur
Peringatan HAI ke 50

Pemprov Serahkan Penghargaan Keaksaraan  

 

SAMARINDA - Pemprov Kaltim menyerahkan penghargaan kepada warga tuna aksara. Penyerahan penghargaan ini merupakan rangkaian peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke- 50 tahun 2015.  

Penghargaan tersebut diberikan selain dalam rangka memperingati HAI juga sebagai kepedulian Pemprov Kaltim untuk penuntasan tuna aksara kepada warga belajar keaksaraan terbaik tingkat dasar (calistung), tutor keaksaraan terbaik, lembaga pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) teraktif. 

Adapun para penerima penghargaan, yakni penghargaan warga keaksaraan tingkat dasar calistung 2015, pertama Turah Irmayanti PKBM Bangun Rejo Samarinda, kedua Sutini PKBM Anak Bangsa Samarinda dan ketiga Susanti SKB Kota Samarinda.

Penghargaan tutor keaksaraan terbaik, pertama Painatur Rohmah PKBM Tiara Dezzy Samarinda,  kedua Muh. Izomi PKBM Ceria Kutai Kartanegara dan ketiga Eti Nurhayati UPTD SKB Kutai Timur.

Penghargaan lembaga PKBM teraktif penyelenggara program keaksaraan, pertama Hj Siti Jumariyah PKBM Tiara Dezzy Samarinda, kedua Suhermi PKBM Ceria Kutai Kartanegara dan Sabas Sihaloho UPTD SKB Kutai Timur.  Semua penerima penghargaan juga diberikan uang pembinaan.

Kepala Dinas Pendidikan Kaltim Musyahrim mengatakan peringatan HAI ke-50 Tingkat Provinsi ini merupakan tindak lanjut peringatan HAI ke-50 Tahun 2015. Kegiatan ini dalam rangka memperkuat komitmen para pemangku kepentingan di bidang pendidikan serta menggerakkan dan mensosialisasikan upaya percepatan penuntasan tuna aksara di Indonesia, khususnya di Kaltim. 

“Tujuan dari kegiatan ini adalah memotivasi semua pihak dalam menyukseskan gerakan nasional percepatan buta aksara (GNP-PBA),” kata Musyahrim di Kantor Disdik Kaltim, Kamis (5/11).

Dia mengatakan 2010 penduduk Indonesia usia 15-59 tahun yang melek aksara sekitar 95,21 persen. Angka ini kemudian naik pada tahun 2014 menjadi sebesar 96,3 persen. Angka tersebut menunjukkan keberhasilan bangsa ini memenuhi target Deklarasi Dakar tentang Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau Education For All (EFA) bahwa Indonesia dapat menurunkan separuh penduduk tuna aksara menjadi kurang dari 5 persen pada 2015.

“Keberaksaraan sebagai gerakan bersama adalah ikhtiar kita bersama. Setiap orang bisa ikut berkontribusi dengan langkah-langkah konkrit untuk meningkatkan keberaksaraan, yakni setiap orang tua perlu mengenalkan aksara sejak dini. Sekolah perlu membuka diri menjadi agen perubahan keberaksaraan dan mengambil peran aktif dalam kegiatan menulis,” jelasnya.

Agar angka buta aksara khususnya di Kaltim yang masih 1,22 persen atau sekitar 25.750 itu bisa dituntaskan bersama-sama, maka perlu ada pendampingan program. Bukan hanya membaca dan menulis tetapi dengan bisa membaca, menulis ditambah dengan aktivitas pendukung yang diberikan seperti kegiatan keterampilan.  

“Mari kita gelorakan budaya membaca. Dengan gemar membaca tentunya kita berharap masyarakat kita terbuka wawasannya,” kata Musyahrim. (jay/sul/es/humasprov)

Berita Terkait