Kalimantan Timur
Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Kualitas Jalan

Dari Musrenbang Regional Kalimantan 2014 (2)

Percepatan penyelesaian konektivitas intrawilayah dan antarwilayah Kalimantan menjadi salah satu pembahasan utama pada Musrenbang Regional Kalimantan 2014. Hal itu didasari atas keadaan konektivitas di pulau Kalimantan saat ini masih sangat memprihatinkan. Keterkaitan perdagangan, produksi dan transfer antar wilayah masih sangat kecil dibanding keterkaitan ekonomi Intrawilayah di Kalimantan.

Kerusakan ruas jalan lintas Kalimantan masih terjadi hampir sepanjang tahun terutama di musim hujan. Jalan lintas Kalimantan dengan kondisi baik saat ini hanya 60,01 persen dari total panjang 6.541,71 kilometer yang terdiri dari poros selatan (3.214,33 kilometer), poros tengah (1.680,08 kilometer) dan poros utara (1.647,30 kilometer).

Di beberapa wilayah Kalimantan masih terdapat ruas jalan yang masih belum terhubung (missing link), yakni Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan dengan Penajam Paser Utara yang berada pada poros selatan untuk wilayah Kaltim. kemudian, Jembatan Tayan yang menghubungkan Kalteng-Kalbar yang juga berada pada poros selatan.

Sejalan dengan semakin tumbuhnya ekonomi di Kalimantan maka frekuensi dan muatan kendaraan yang melintasi jalan nasional juga terus meningkat. Dengan demikian harus dilakukan antisipasi melalui peningkatan kapasitas maupun kualitas jalan dengan prioritas jalan lintas Kalimantan, yang mendukung kawasan strategis dan wilayah pertumbuhan.

Selain itu, guna menciptakan keterpaduan antar moda melalui percepatan dan peningkatan kapasitas layanan transportasi laut dan udara dalam rangka meningkatkan hubungan perdagangan dan transfer barang dan jasa antar wilayah di luar Pulau Kalimantan.

Dengan demikian, Forum Kerjasama Revitalisasi Percepatan Pembangunan Regional Kalimantan (FKRP2RK) menilai pembangunan konektivitas intrawilayah Pulau Kalimantan harus difokuskan pada percepatan penyelesaian jalan lintas Kalimantan poros selatan, poros tengah serta poros utara melalui peningkatan kapasitas dan pelebaran ruas jalan.

Disamping juga melakukan percepatan penuntasan pembangunan jembatan bentang panjang di Pulau Kalimantan, yang selama ini menjadi missing link antar wilayah pada Jalan Trans Kalimantan.

Tidak hanya pada jalur darat, untuk lebih meningkatkan dan memadukan moda transportasi di Kalimantan, FKRP2RK juga memandang perlu untuk melakukan pengembangan interkoneksi penerbangan antar ibukota provinsi se-Kalimantan.

“Selama ini jika ingin ke Kalbar atau Kalteng kita harus lewat Jakarta atau Surabaya, demikian juga sebaliknya. Kenapa tidak kita buka saja jalur transportasi udara langsung antar ibukota provinsi di Kalimantan,” ungkap Ketua FKRP2RK periode 2013-2014, Awang Faroek Ishak.

Untuk itu, perlu dilakukan percepatan pengembangan bandar udara (bandara) sesuai dengan masterplan dan kebutuhan di masing-masing provinsi. Seperti halnya di Kaltim yang telah memiliki sekitar 20 bandara di masing-masing kabupaten/kota.

Selain itu, FKRP2RK juga menilai perlunya diadakan kerjasama antar provinsi untuk subsidi ongkos angkut antar wilayah di Kalimantan melalui APBD masing-masing provinsi, sehingga penerbangan yang dikhususkan bagi masyarakat Kalimantan ini tetap bisa dilaksanakan dan tidak tergantung dengan APBN saja.

Untuk perhubungan laut, dilakukan pengembangan pelabuhan laut sesuai dengan rencana induk dan kebutuhan di masing-masing provinsi. Yang terpenting, pelabuhan laut tersebut harus dapat memberikan manfaat untuk regional Kalimatan.

Pembangunan rel kereta api batu bara Kalimantan, juga mendapatkan perhatian dari FKRP2RK, karena melalui jalur rel kereta ini diharapkan juga mampu membuka keterisoliran wilayah dan membangun konektivitas antar wilayah. Kedepan, perkeretaapian ini tidak hanya dikhususkan pada angkutan batu bara, melainkan akan ditingkatkan menjadi angkutan penumpang dalam rangka tersedianya jenis angkutan massal dan murah ke depannya.

“Kaltim bekerjasama dengan Rusia sudah membangun jalur kereta api dari Kutai Barat ke Balikpapan. Nah sekarang tinggal bagaimana melanjutkannya ke Kalteng melalui Puruk Cahu. Jadi jalur yang selama ini terisolir bisa terbuka, dan perekonomian masyarakat juga semakin meningkat,” jelas Awang Faroek.

Untuk konektivitas (infrastruktur), pada 2013 FKRP2RK telah menyampaikan usulan program/kegiatan pembangunan kepada pemerintah pusat untuk didanai melalui APBN 2014. Hasil evaluasi atas usulan program/kegiatan konektivitas senilai Rp11,72 triliun untuk 2014, realisasinya sebesar Rp6,4 triliun.

Sedangkan usulan program/kegiatan prioritas untuk pembangunan konektivitas regional Kalimantan 2015 adalah sebesar Rp21,931 triliun dari total usulan bersama dengan pemenuhan energi dan ketahanan pangan sebesar Rp54,626 triliun.

Dengan percepatan penyelesaian konektivitas di regional Kalimantan, diharapkan transaksi ekonomi yang selama ini sebagian besar hanya dalam wilayah bisa berkembang menjadi antar wilayah (provinsi), tentunya didukung dengan optimalisasi keterkaitan antar wilayah. (her/sul/bersambung/hmsprov)

//Foto: UNTUK KEMAJUAN KALIMANTAN. Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroiek Ishak memberi keterangan pers seusai pembukaan Musrenbang. (johan/humasprov kaltim).

Berita Terkait