Kalimantan Timur
Petani Perbatasan Dilatih Budidaya Kakao

SAMARINDA – Sebanyak 30 petani di Pulau Sebatik  Kabupaten Nunukan mendapat pelatihan teknik budi daya pengembangan tanaman Kakao. Sekaligus menjadikan kawasan perbatasan Kaltim, yang sekarang menjadi wilayah Kalimantan Utara   sebagai sentra pengembangan komoditi tanaman perkebunan.
“Kondisi di kawasan perbatasan ini sangat potensial untuk pengembangan tanaman perkebunan, diantaranya kakao. Petani perlu diberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan budidaya komoditi ini, terutama dalam mendukung pelaksanaan Gerakan Nasional (Gernas) Kakao di Kaltim yang meliputi peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi,” kata Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim Etnawati didampingi Kepala Bidang Produksi, Sukardi.
Menurut dia, kegiatan ini sangat menguntungkan bagi petani dan penyuluh di Sebatik terutama dapat memahami ilmu dan cara pemeliharaan tanaman Kakao yang baik, sehingga dapat meningkatkan produksi dan mencapai produktivitas yang maksimal secara berkelanjutan.
Dijelaskan, kakao di Sebatik harus terus ditingkatkan produksinya agar dapat memberi kontribusi bagi peningkatan kakao di Kaltim yang tingkat produksinya mencapai 23.206 ton dengan luas sekitar 23.492 hektare pada 2012.
“Pengembangan budidaya tanaman kakao sebagai bagian dari pengembangan pertanian dalam arti luas dan diharapkan semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menyandarkan hidupnya dari komoditi ini sesuai dengan kebijakan Gubernur Awang Faroek Ishak,” ujarnya.
Walaupun kabupaten perbatasan ini sudah secara resmi terpisah dengan Kaltim bersama empat daerah lainnya (Tarakan, Malinau, Bulungan, Tana Tidung), namun Disbun Kaltim tetap memberikan pembinaan bagi petani perkebunan di daerah tersebut.
Khusus untuk masyarakat yang menggeluti usaha budidaya tanaman kakao di Kaltim hingga 2012 telah tercatat sebanyak 18.651 orang. Karenanya, pengembangan tanaman kakao ini diharapkan mampu membuka peluang usaha di pedesaan.
“Jika ini bisa dikembangkan lebih baik lagi,  maka akan terbuka peluang usaha dan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan, khususnya dalam upaya bersama melakukan pengentasan kemiskinan dan mengurangi pengangguran melalui kegiatan perkebunan,” ungkap Etnawati.
Diakuinya, harga kakao Indonesia selalu anjlok di pasaran atau hanya mampu menempati posisi ketiga dunia dibawah Ghana dan Pantai Gading. Walaupun dari segi tampilan fisik dan kualitas produk  kakao asal Indonesia masih kalah bersaing karena tidak difermentasi. (yans/hmsprov).
 

Berita Terkait