AFI: Kaltim Sudah Berupaya Maksimal

Wujudkan Kemandirian dan Ketahanan Energi

SAMARINDA – Saat  menerima audiensi mahasiswa program studi Ketahanan Energi Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan Jakarta, Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak menegaskan dirinya bersama jajaran Pemprov Kaltim telah berupaya maksimal dalam mewujudkan kemandirian dan ketahanan energy di Kaltim termasuk Kaltara.

Upaya mengatasi masalah biarpet (listrik padam) di daerah telah diusulkan dalam program 10.000 MW tahap pertama Kaltim tidak masuk dan tahap kedua masuk dalam program nasional namun kapasitasnya kecil.

Padahal menurut Awang Faroek, Kaltim dikenal sebagai daerah yang memiliki potensi dan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang luar biasa khususnya minyak dan gas bumi (migas) serta batubara yang dapat digunakan sebagai sumber energy.

Bahkan, migas dan batu bara Kaltim ini sudah dieksploitasi sejak puluhan tahun lalu serta mampu menghasilkan puluhan juta metric ton setiap tahun. Namun, hingga saat ini tidak sedikitpun yang dimanfaatkan untuk keperluan energi di daerah.

“Usaha kita sudah maksimal selama ini, hanya saja kebijakan pusat menentukan semua batu bara dan gas itu lebih banyak di ekspor. Tetapi tidak ditinggalkan untuk kepentingan pembangunan listrik dan industri di Kaltim,” kata Awang Faroek Ishak di Ruang Rapat Tepian I, Jumat (28/3).

Misalnya, gas yang digunakan untuk energi pembangkit listrik sejak 35 tahun lalu selalu untuk memenuhi kebutuhan energi luar negeri (ekspor) dan baru sekarang ini dimanfaatkan dalam negeri itupun tidak untuk Kaltim.

Demikian halnya, batu bara yang dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik yang diperlukan cukup batu bara kalori rendah tidak perlu yang berkualitas tinggi dan  jenis batu bara kalori rendah ini banyak namun tidak dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal.

“Betapa bangga dan bahagianya kami selaku masyarakat Kaltim ini kalau SDA yang dimiliki dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi khususnya digunakan untuk pembangunan pembangkit listrik memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri,” ungkapnya.

Karenanya lanjut Awang, saat ini pemerintah daerah membuat kebijakan guna membatasi produksi dan ekspor migas maupun batu bara. Tujuannya, mengurangi percepatan kehabisan stok migas maupun batu bara sehingga nantinya dapat digunakan memenuhi keperluan dalam daerah.

Sementara itu Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan Jakarta Arsegianto mengemukakan tujuan audiensi ke Kaltim khususnya bertemu Gubernur Kaltim guna memperoleh masukan dan informasi tentang program-program pembangunan daerah.

“Selain mengenalkan keberadaan lembaga pendidikan tinggi milik kami, juga mendengar dan mengetahui langsung informasi pembangunan di daerah terkait dengan program pendidikan di universitas agar semakin berkembang dan sesuai kebutuhan pendidikan,” ujar Arsegianto.

Dalam kesepatan itu Arsegianto menawarkan pendidikan bagi masyarakat dan PNS asal Kaltim di Universitas Pertahanan yang berada dibawah binaan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.(yans/sul/es/hmsprov) .

 

/// foto: Gubernur Kaltim, Dr H Awang Faroek Ishak menyerahkan pelakat kepada Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan Jakarta Arsegianto. (fajar/humasprov kaltim).

 

Berita Terkait