Awang: Percepatan Penyelesaian Konektivitas Jadi Prioritas

SAMARINDA – Kaltim merupakan bagian dari Koridor III Kalimatan dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), dimana Kalimantan ditetapkan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional.
Total investasi dalam program MP3EI Koridor III Kalimantan adalah sebesar Rp560 triliun. Dari dana itu, 20,9 persen bersumber dari BUMN, 47,9 persen dari swasta (private sector), 15,8 persen investasi pemerintah dan 15,4 persen merupakan investasi campuran. Dari seluruh proyek MP3EI di Kalimantan sebagian besar di dominasi pembangunan infrastruktur.
“Rp402 triliun dari total investasi MP3EI Koridor Ekonomi Kalimantan berada di Kaltim dengan empat lokusnya. Untuk mensukseskan MP3EI di Kalimantan, kita harus mengatasi persoalan mendasar yang merupakan isu strategis, yaitu konektivitas intra dan antar wilayah di Kalimantan,” ujar Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak, belum lama ini.
Terkait konektivitas intra dan antar wilayah di Kalimantan, Awang Faroek mengungkapkan beberapa usulan program prioritas pembangunan infrastruktur di Kalimantan yang akan diajukan kepada pemerintah pusat. Diantaranya adalah penuntasan pembangunan jalan Trans Kalimantan yaitu selatan, tengah, utara, lintas menuju perbatasan dan jalan penghubung lintas Kalimantan.
Selanjutnya, pembangunan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (99,02 kilometer), Pontianak-Singkawang (140 kilometer) dan Banjarmasin-Martapura (40 kilometer). Percepatan pembangunan Jembatan Loa Kulu di Kutai Kartanegara, Jembatan Pulau Balang (PPU), Jembatan Mahkota II (Samarinda), Jembatan Tabukan (Barito Kuala), Jembatan Antasari dan Basirih (Banjarmasin), serta Jembatan Kapuas III.
Kemudian, pembangunan Bandara Tjilik Riwut, Syamsudin Noor, Sepinggan, Samarinda Baru dan Ketapang.
Menurut dia, selain MP3EI, keberhasilan pembangunan Kalimantan kedepan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan dalam mengelola dan memanfaatkan keunggulan komparatif berupa kekayaan sumber daya alam yang dimiliki empat provinsi di Kalimantan, dengan meningkatkannya menjadi keunggulan kompetitif.
Selanjutnya, sambung dia, perlunya membangun daya saing dengan mengoptimalkan posisi geostrategis pulau Kalimantan. Sebagai ilustrasi, Kaltim sendiri, pada penilaian yang dilakukan oleh National University of Singapore (NUS) untuk program-program peningkatan daya saing berhasil menempati peringkat teratas secara nasional untuk empat kategori penilaian.
“Untuk kategori competitiveness Kaltim menempati peringkat ketiga dari 33 provinsi. Kemudian, financial business and man power (peringkat kedua), macro economy stabililities (peringkat keempat), quality of life and infrastructure (peringkat keempat). Saya yakin ketiga provinsi lainnya juga memiliki keunggulan-keunggulan. Mari tingkatkan daya saing ekonomi daerah,” ajaknya.
Selain itu, lanjut dia, empat provinsi di Kalimantan, termasuk Kalimantan Utara yang diresmikan pada 22 April 2013 harus siap menghadapi perubahan lingkungan strategis global maupun regional yang saat ini sedang berlangsung.
“Sebentar lagi kita akan menghadapi ASEAN Economic Community 2015. Kita harus siap, jika tidak akan ketinggalan dari negara tetangga kita,” ucapnya. (her/hmsprov).

////Foto : Awang Faroek Ishak
 

Berita Terkait
Government Public Relation