Buka Pintu Kerjasama Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Gubernur bertemu Dubes Norwegia

JAKARTA–Pemprov Kaltim memiliki beberapa pilihan strategi pembangunan untuk lima tahun ke depan bahkan hingga 2030 dalam rangka mewujudkan pembangunan Kaltim yang berkelanjutan. Salah satu yang menjadi konsentrasi pembangunan di Kaltim adalah terkait dengan kebijakan transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam (SDA) terbarukan (renewable resources).

Demikian diungkapkan Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dalam pertemuan dengan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa (15/4) malam.

“Kita juga memprioritaskan kemitraan dan kerjasama dengan mitra pembangunan dalam rangka pelaksanaan pembangunan rendah emisi salah satunya dengan Norwegia yang sangat konsen terhadap hal tersebut. Untuk itu kita sangat berharap dukungan dari mitra pembangunan untuk pelaksanaannya,” ungkap Awang Faroek.

Awang Faroek mengatakan Kaltim merupakan salah satu provinsi yang mempelopori mitigasi perubahan iklim. Bahkan Kaltim aktif menghadiri pertemuan nasional dan internasional terkait hal itu, di Kyoto (Jepang), Bali, Copenhagen (Denmark), Oslo (Norwegia) dan Rio de Janeiro (Brasil.

Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, menurut dia, Kaltim berusaha untuk mendapatkan pengetahuan yang up to date dan bertukar pengalaman tentang mitigasi dan perubahan iklim.

“Komitmen kita adalah ikut menyelamatkan dunia melalui antisipasi perubahan iklim. Dan Kaltim menjadi anggota Task Force yang beranggotakan 22 provinsi dan negara bagian dari Indonesia, Amerika Serikat, Brasil, Nigeria, Peru dan Spanyol,” katanya.

Di tingkat daerah, sebut dia, Pemprov Kaltim pada Januari 2010 telah mendeklarasikan Kaltim sebagai Green Province dengan slogan Kaltim Green (Kaltim Hijau) dan menjadikannya sebagai kerangka kerja pembangunan di Kaltim. Salah satu komitmen dari Kaltim Hijau adalah One Man Five Trees (Omfit) atau satu orang menanam lima pohon. Dengan partisipasi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kaltim, maka realisasi penanaman hingga saat ini bahkan jauh melebihi target yang telah ditentukan.

Selain itu, Kaltim juga provinsi yang komit terhadap program penurunan gas rumah kaca serta pembangunan rendah karbon. K

 

altim juga memiliki Dewan Daerah Perubahan Iklim yang berisikan ahli-ahli lingkungan dengan tugas membantu gubernur dalam membuat kebijakan pembangunan, khususnya terkait pembangunan Kaltim yang berkelanjutan.

“Kaltim dan Kaltara juga memiliki Taman Nasional Kayan Mentarang atau dikenal dengan sebutan Heart of Borneo. Dimana kawasan seluas 1,3 juta hektare merupakan hutan yang masih utuh dan menjadi kawasan konservasi yang dilindungi,” sebutnya.

Untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, Awang Faroek mengatakan telah melakukan beberapa terobosan, diantaranya menekan terjadinya deforestrasi hutan dengan menerbitkan moratorium perijinan pertambangan, perkebunan dan kehutanan, dalam rangka menertibkan perijinan yang tumpang tindih, hingga dicapai status lahan yang clean and clear.

“Khusus kehutanan kita mendorong digalakkannya HTI (Hutan Tanaman Industri), karena itu bisa dikontrol. Disamping juga ada hutan kemasyarakatan dimana masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan hutan. Namun yang jelas, kita perlu banyak belajar dari Norwegia dan negara Skandinavia lainnya yang sukses dalam pembangunan kehutanan dan pertanian,” harapnya.

Dia juga berharap melalui pertemuan ini ada hubungan kerjasama antara Norwegia dengan Kaltim, ataupun membangun hubungan sister city antara kota di Norwegia dengan kabupaten/kota di Kaltim.

Sementara itu, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik memberikan apresiasi atas komitmen Kaltim dan program pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup. Terutama tentang pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Disamping itu juga tentang bagaimana menyeimbangkan antara pengembangan pertambangan batu bara dengan pengembangan EBT.

“Saya sangat terkesan dengan presentasi gubernur. Dan ini meningkatkan minat saya untuk mengunjungi Kaltim,” ungkapnya.

Menurut dia, Norwegia memang sangat konsen terhadap mitigasi dan perubahan iklim. Bahkan di Indonesia, Norwegia memiliki dua organisasi yang bermitra dengan pemerintah Indonesia dan daerah, yakni Global Green Growth Institute (GGGI) dan Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+). Kedua organisasi tersebut juga sudah memiliki perwakilan di Kaltim. (her/sul/hmsprov)

///FOTO : Gubernur Awang Faroek Ishak dan Duta Besar Norwegia, Stig Traavik berjabat tangan usai pertemuan. Kaltim membuka pintu kerjasama untuk pembangunan berwawasan lingkungan. Suasana pertemuan gubernur dan Dubes Norwegia Stig Traavik. (heru/humasprov)

 

Berita Terkait
Government Public Relation