Cagar Alam dan Budaya Sangkulirang Menuju Warisan Dunia
SAMARINDA - Seminar Internasional yang mengangkat tema; ”Kawasan Cagar Alam dan Budaya Sangkulirang; Sebuah Langkah Awal Menuju Warisan Dunia”, rencanya akan berlangsung di Balikpapan, Senin 23-27 September 2013. Seminar ini digelar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Samarinda Wilayah Kerja Kalimantan.
Seminar ini sangat penting, khususnya dalam upaya pengelolaan kawasan Cagar Alam dan Budaya Sangkulirang dengan manfaat maksimal dan kelestariannya tetap terjaga.
Untuk diketahui, Provinsi Kaltim luas wilayahnya 20.865.774 km2 atau seluas satu setengah kali Pulau Jawa, memiliki beragam potensi sumber daya alam dan budaya,  termasuk di dalamnya adalah kawasan Karst Sangkuliarang yang terletak di dua Kabupaten yakni Kabu-paten Kutai Timur dan Kabupaten Berau.
Kawasan Karst merupakan wilayah yang tidak terbentuk dalam hitungan tahun, tetapi pembentukannya melalui proses geologi selama jutaan tahun melalui pengangkatan dasar laut ke permukaan bumi, kemudian terjadi proses karstifiksi yang merupakan proses pelarutan senyawa karbonat sebagai bahan utama batu gamping. Oleh karena itu tidak heran di beberapa lokasi kawasan Karst ditemukan fosil-fosil cangkang makhluk laut. 
Suatu kawasan Karst atau wilayah yang memper-lihatkan bentang alam Karst dengan kandungan keane-karagaman hayati dan non hayati yang khas, juga meliputi komponen sosial budaya berupa masyarakat yang tinggal di dalamnya sehingga diperlukan pengelolaan yang tepat untuk mengakomodir keseluruhan komponennya, kawasan Karst Sangkulirang yang tersebar dari pedalaman barat menuju pesisir Timur. 
Potensi utamanya sebagai sumber air bagi sungai-sungai besar di semenanjung Mangkalihat. Yang tidak kalah pentingnya adalah fungsi kawasan Karst tersebut sebagai daerah resapan air bagi sungai dan danau, baik di atas permukaan tanah, maupun di bawah permukaan tanah. Sungai-sungai yang memiliki daerah resapan di Karst Sangkulirang antara lain Bengalon, Bangka, Karangan, Kerayan dan Baai  di Kabupaten Kutai Timur serta Lesan, Tabalar dan Dumaring di Kabupaten Berau.
Berdasarkan ekspedisi keanekaragaman hayati yang telah dilakukan adalah Biodiversity and cultural Heritage Expedition di tahun 2004 kerjasama antara Puslit Biologi LIPI,TNC dan ITB, diperoleh informasi berharga mengenai sisi biologi kawasan Karst Sangkulirang beserta dampak-nya terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Dari hasil ekspedisi tersebut ditemukan terdapat 120 jenis burung yang berhasil diamati, seperempatnya me-wakili burung-burung non migrant dan non lahan basah dari seluruh pulau Kalimantan. Ditemukan juga 92 spesies kelelawar, dari jumlah tersebut 34 spesies dikonfirmasikan baru ditemukan, dan 38 spesies lainnya telah ada sebe-lumnya. Serangga Gua juga sangat melimpah jumlahnya, dijumpai lebih dari 200  spesies serangga, 1500 buah yang dikoleksi sebagai specimen yang mewakili ratusan spe-sies, selain itu telah terkumpul 400 spesies tumbuhan dan 51 spesies ikan oleh para peneliti.
Tingkat keendemikan jenis di Karst Sangkulirang sangat tinggi karena spesies-spesies tersebut sangat tergan-tung dari bantuan kapur Karst untuk bertahan hidup. Terisolasinya kawasan Karst ini dari kawasan karst lain juga turut menetukan tingkat keendemikan jenisnya yang terdirinya dari siput, invertebrate Gua,  tumbuhan dan ikan. 
Para ahli yang mengikuti ekspedisi tersebut sepakat bahwa Karst Sangkulirang sangat penting bagi keragaman siput di seluruh penjuru Kalimantan. Beberapa jenis ikan yang dikoleksi juga sangat mungkin menjadi spesies baru ilmu pengetahuan dan paling tidak satu di antaranya diyakini hanya ditemukan di daerah tersebut dan Sungai Kayan. Demikian pula halnya dengna serangga Gua yang banyak diantaranya hanya terdapat di Karst Sangkulirang.
Selain memiliki potensi yang begitu besar kawasan Karst Sangkulirang juga menghadapi berbagai permasa-lahan yang mengancam kelestariannya diantaranya Penebangan hutan yang intensif, Pengambilan sarang burung wallet yang berlebihan, Terganggunya keseimbangan keanekaragaman hayati akibat keberadaan perkebunan skala besar, aktifitas pertambangan yang merusak Geomorfologi Karst dan keanekaragaman hayati, dan Kawasan Karst berstatus hutan produksi.
Masing-masing permasalahan tersebut, jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan permasalahan baru yang berantai. Sebagai contoh penebangan hutan yang intensif dan penebangan hutan yang tidak terkendali akan menimbulkan persoalan-persoalan baru seperti munculnya lahan kritis, konflik dengan masyarakat adat, menu-runnya atau hilangnya keanekaragaman hayati, menurunnya daerah resapan air dan sebagainya. Persoalan-per-soalan baru tersebut kemudian akan menimbulkan masalah selanjutnya seperti meningkatnya hama penyakit, banjir, kekeringan dan sebagainya. Sehingga efek penebangan hutan akan seperti bola salju yang terus bergulir.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, maka semua permasalahan tersebut harus segera dapat diatasi, terlebih lagi jika kelak status Cagar Alam dan Budaya Sangkulirang dijadikan sebagai Warisan Dunia yang tentunya juga akan menjadi kebanggaan kita semua.(hms/adv)
 
//Foto: Karst Sangkulirang yang menawan. (dok/humasproiv kaltim).
 
Berita Terkait
Government Public Relation