Gubernur : Infrastruktur Penunjang Juga Harus Siap

Pemprov Kembangkan Tujuh Kawasan Industri


SAMARINDA – Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak mengatakan Kaltim saat ini sedang melakukan pengembangan tujuh kawasan industri unggulan berdasarkan pendekatan klaster. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi habisnya sumber daya alam yang dimiliki Kaltim dimasa yang akan datang.
Tujuh kawasan industri unggulan yang dimaksud adalah Kawasan Industri Karingau (KIK) di Balikpapan, Kawasan Industri Jasa dan Perdagangan di Samarinda, Kawasan Industri berbasis Migas dan Kondensat di Bontang, Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy yang berbasis pertanian dan oleochemical di Kutai Timur.
Selanjutnya, Kawasan Industri Pariwisata Kepulauan Derawan di Berau, Food dan Rice Estate Delta Kayan di Bulungan dan Kawasan Perbatasan.
Pengembangan ketujuh kawasan tersebut, menurut gubernur, harus didukung dengan infrastruktur penunjang yang baik di sekitarnya. Dicontohkan, seperti KIK di Balikpapan, yang ditunjang dengan pengembangan Bandara Sepinggan dan Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan dengan Penajam Paser Utara (PPU), sekaligus sebagai jalur utama Trans Kalimantan di wilayah selatan.
“Tidak hanya itu, untuk mewujudkan interkonektivitas antar kawasan industri juga dibangun Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (99,02 kilometer) yang nantinya akan berlanjut hingga ke Bontang, Sangatta dan Maloy. Selain itu, kita juga akan terus meningkatkan Jalan Trans Kalimantan hingga ke wilayah utara Kaltim,” ujar Awang.
Sedangkan untuk mendukung Kawasan Industri Jasa dan Perdagangan di Samarinda, juga dilakukan pembangunan Bandara Samarinda Baru (BSB), Jembatan Mahakam IV (Jembatan Kembar), Jembatan Mahkota II dan Convention Hall. Untuk Kawasan Industri di Bontang, telah dibangun pabrik amonium nitrat dan sedang dilaksanakan pembangunan PT PKT V.
Kemudian, untuk KIPI Maloy, infrastruktur penunjang yang dibangun diantaranya 10 pelabuhan yang terinterkoneksi dengan Maloy Trans Kalimantan Economic Zone (MTKEZ), rel kereta api Muara Wahau-Lubuk Tutung (135 kilometer), coal terminal, power plant mulut tambang dan alumunium smelter.
Sementara itu pada Kawasan Industri Pariwisata Kepulauan Derawan, dibangun bandara di pulau Maratua. Selain itu, juga dibangun sejumlah hotel baik di kawasan Tanjung Selor maupun Tanjung Batu sebagai pintu masuk ke Derawan.
Untuk mendukung kemandirian dan ketahanan pangan nasional, Kaltim juga mengembangkan Food dan Rice Estate Delta Kayan seluas 50.000 hektare di Bulungan. Dimana sudah dilakukan panen padi perdana pada food estate milik Solaria Group di Desa Salim Batu, Tanjung Palas Tengah, Bulungan.
“Kawasan perbatasan juga tidak lepas dari perhatian Pemprov Kaltim dengan membangun infrastruktur jalan dan jembatan, peningkatan dan pembangunan tiga bandara perbatasan sebagai upaya membangun jembatan udara dan memecahkan keterisoliran wilayah perbatasan,” jelasnya. (her/hmsprov).

 
 

Berita Terkait