Gubernur Ajak Masyarakat Bangga Jadi Warga Kaltim

SAMARINDA – Gubernur Kaltim Dr. H. Awang Faroek Ishak mengajak seluruh masyarakat Kaltim untuk bangga sebagai warga Kaltim. Kebanggaan ini harus mulai ditumbuhkan dengan cara  tidak lagi menyebut suku  bangsa, agama dan darimana dirinya berasal.

Demikian dikatakan Awang Faroek dalam Rapat Paripurna Istimewa, Kamis (15/8).

“Kita ingin menumbuhkan tagline baru yaitu bangga sebagai warga Kaltim. Jadi tiak ada lagi perasaan kesukuan, tidak ada lagi hal yang dapat merusak persatuan dan kesatuan.,” ujarnya.

Awang Faroek Ingin mencontoh warga negara  Singapura yang bangga dengan negaranya dan tidak bangga dengan asalnya. Padahal, warga Singapuran juga terdiri berbagai macam bangsa seperti Melayu, Cina, India,  dan lain-lain.

Bahkan Gubernur ingin  mengusulkan agar kriteria suku di KTP tidak  lagi tercantum dan hendaknya dihapuskan. Bangsa Indonesia, lanjutnya adalah  bangsa yang besar sehingga tidak perlu dibeda-bedakan asal, suku, agama dan golongannya.

Dengan demikian jika terjadi perselisihan atau perkelahian antar suku dan golongan,  tidak akan diselesaikan dengan kekerasan oleh paguyuban atau kelompoknya, melainkan diserahkan kepada pihak yang berwajib.

“Jangan ada lagi jika ada anak muda berkelahi dan membawa-bawa darimana asal sukunya. Malah kelompok dan paguyubannya yang ikut berkelahi. Apa urusannya. Berkelahi penanganannya adalah urusan kepolisian,” tegasnya.

Dirinya meminta masyarakat Kaltim dapat sadar dan dewasa dalam mengjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan agar tercipta Kaltim yang aman dan sejahtera.

Awang Faroek mengharapkan sudah cukup peristiwa yang terjadi di kota Tarakan dan jangan sampai terjadi kembali di kabupaten/kota lain. Caranya dengan menumbuhkan kebanggaan akan jati diri sebagai warga Kaltim.

Demikian juga tentang paguyuban, dirinya meminta agar mampu untuk mengurus warganya yaitu dengan member kemakmuran dan peningkatan pendapatan ekonomi. Agar tidak ada lagi warga Kaltim yang miskin dan terbelakang.

Begitu juga dengan urusan politik, ditegaskan Gubernur agar paguyuban-paguyuban tidak ikut berpolitik.

“Pengurus dan orangnya boleh berpolitik tetapi tempatnya harus di partai politik dan bukan di paguyuban,” ujarnya.

Dengan menumbuhkan rasa kebanggan menjadi warga Kaltim ini diharapkan akan dapat mempercepat pembangunan, mempercepat pertumbuhan ekonomi dan tentunya mempercepat kesejahteraan masyarakat .

“Keamanan  dan kedamaian itu harganya mahal. Jika tidak dijaga dengan baik tidak mungkin Kaltim memperoleh peringkat ke tiga secara nasional untuk daya saing. Jika tidak aman dan damai jangan harap ada orang mau datang berinvestasi ke Kaltim,” ujarnya.(yul/hmsprov)

Berita Terkait
Government Public Relation