Kaltim Perlu Ekonomi yang Kuat dan Berkelanjutan

Gubernur Awang Faroek, Sekprov Rusmadi (moderator) dan Gubernur BI Agus Martowardojo saat Dialog Publik dengan tema "Mendorong Strategi Kebijakan Diversifikasi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Daerah untuk Menjaga Momentum Perbaikan Ekonomi Nasional". (seno/humasprovkaltim)

 

Kaltim Perlu Ekonomi yang Kuat dan Berkelanjutan, Diversifikasi Perlu Dukungan Infrastruktur Dasar

 

BALIKPAPAN - Lambannya pertumbuhan ekonomi Kaltim hingga kontraksi (pertumbuhan negatif) yang terjadi sepanjang 2015-2016 terjawab tuntas dalam Rapat Koordinasi Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia (BI) yang dilanjutkan dengan Diskusi Publik bertema "Mendorong Strategi Kebijakan Diversifikasi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Daerah untuk Menjaga Momentum Perbaikan Ekonomi Nasional" garapan BI dan Menko Kemaritiman.

 

Acara yang dimoderatori Sekprov Kaltim Dr H Rusmadi itu menghadirkan nara sumber diantaranya Gubernur BI Agus Martowardojo dan Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak. Rekomendasi yang dihasilkan diantaranya meyakinkan bahwa ekonomi Kaltim akan bergerak positif dengan strategi diversifikasi untuk mengoptimalkan semua potensi daerah melalui diversifikasi horisontal dan vertikal.

 

"Diversifikasi vertikal meliputi hilirisasi gas dalam bentuk petro chemical, hilirisasi  batubara, hilirasasi CPO melalui oleochemical. Sedangkan diversifikasi horisontal yang potensial adalah pengembangan sektor pariwisata dan perikanan," kata Rusmadi memberi kesimpulan pertama di akhir Diskusi Publik yang digelar Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Jumat (14/7).

 

Berikutnya upaya mendorong diversifikasi vertikal dan horisontal ini harus didukung infrastruktur dasar, yakni konektifitas, listrik dan energi. Berikutnya adalah kemudahan perijinan langsung di daerah untuk mendukung pengembangan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri terpadu. Rekomendasi lainnya adalah implementasi konektifitas antarwilayah harus  didukung dengan pengembangan infrastruktur pelabuhan untuk mendukung program tol laut yang terintegrasi dengan program rumah kita sebagai pusat logistik.  Sedangkan moda angkutan kereta api di luar Pulau Jawa akan lebih fokus untuk angkutan logistik.

 

Penguatan infrastruktur konektifitas difokuskan pada pengembangan pelabuhan, jalan tol, kawasan ekonomi khusus dan pengembangan bandar udara. Sementara pembangunan kemandirian dan ketahanan energi dilakukan dengan penguatan pengembangan infrastruktur energi yaitu melalui peningkatan efisiensi pengembangan energi baru terbarukan, penyelarasan target fiskal yang mendukung kebijakan energi serta penguasaan teknologi dan peningkatan nilai tambah.

 

Selain itu juga perlu melakukan peningkatan peran serta daerah melalui kebijakan participating interest (PI) dan pengembangan pembangkit listrik tenaga uap dan batubara mulut tambang. Menurut Rusmadi, upaya diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi ini perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Oleh karena itu diperlukan komitmen semua pemangku kepentingan untuk memperkokoh sinergi dan koordinasi kebijakan guna menjaga momentum perbaikan ekonomi daerah secara berkualitas. "Alhamdulillah, kawan-kawan di pusat juga sepakat memberi dukungan untuk itu," sambung Rusmadi.

 

Sebelumnya Gubernur BI Agus Martowardojo menguraikan pihaknya sengaja memilih Kaltim dan regional Kalimantan sebagai tuan rumah rapat koordinasi pemerintah, pemerintah daerah dan BI karena tema yang dipilih relevan untuk membantu Kaltim dan regional Kalimantan mendorong pertumbuhan ekonominya. "Selama dua tahun terakhir (2015-2016) pertumbuhan ekonomi Kalimantan berada di kisaran 1,4 persen hingga 2 persen. Masih sangat rendah jika dibandingkan dengan Pulau Jawa dan Sumatra dimana rata-rata pertumbuhan ekonominya sebesar 5 persen. Kontribusi Jawa dan Sumatera untuk pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 81 persen, sedangkan Kalimantan masih sangat rendah," beber Agus Martowardojo.

 

Lebih jauh Agus menjelaskan pertumbuhan ekonomi  rendah karena harga komoditi ekspor andalan Kalimantan jatuh di harga dunia. Regional Kalimantan sangat bergantung pada kekuatan sumber daya alam, yakni hasil tambang dan penggalian serta perkebunan yang sifatnya masih mentah. "Karena harga komoditas dunia jatuh, otomatis ekonomi Kalimantan ikut sulit. Kaltim bahkan pertumbuhan ekonominya selama dua tahun terakhir 2015-2016  itu negatif (kontraksi). Hal itulah yang kemudian ikut menyebabkan perekenomian Kalimantan secara regional menjadi rendah," jelas Agus lagi.

 

Oleh karena itu agar Kalimantan ekonominya tumbuh secara berkesinambungan dan kuat, diperlukan kekuatan baru yang tidak bergantung pada kekuatan sumber daya alam. "Ketergantungan itu harus pelan-pelan dikurangi, dengan cara melakukan diversifikasi untuk mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang lain," pungkasnya. (sul/humasprov)

 

Berita Terkait
Government Public Relation