Kenaikan Harga BBM dan Sembako Pengaruhi Inflasi Kaltim

Kenaikan Harga BBM dan Sembako Pengaruhi Inflasi Kaltim

 

SAMARINDA - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan sembilan bahan pokok (Sembako), terutama beras memberikan pengaruh terhadap meningkatnya harga-harga secara umum, sehingga mendongkrak nilai inflasi Kaltim pada Februari 2015, yakni  mencapai 0,12 persen.

Faktor penyebab inflasi juga dipengaruhi oleh pergerakan tujuh kelompok pengeluaran yakni bahan makanan, makanan jadi, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan dan transportasi.

"Semua kelompok yang mengalami kenaikan di Kaltim tentunya mengakibatkan inflasi. Sementara jika ada penurunan di kelompok ini maka akan mengakibatkan deflasi. Tetapi, diantara kelompok tersebut tentu tidak sama bobot kenaikannya. Misal, kenaikan harga rokok apakah sama dengan beras, tentu berbeda," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Aden Gultom pada siaran pers di Kantor BPS Kaltim, Senin (2/3).

Menurut dia, kenaikan BBM maupun beras pada umumnya memberikan dampak tinggi terhadap terjadinya inflasi. Sebab kedua item ini sangat dibutuhkan masyarakat  karena merupakan kebutuhan dasar masyarakat. 

Kenaikan harga beras di Kaltim bukan karena masalah produksi, tetapi lebih karena persoalan distribusi dari daerah lain.  Sebab hingga saat ini untuk bahan makanan, khususnya beras, Kaltim masih harus mendatangkan dari Sulawesi dan Pulau Jawa.

Jika distribusi bermasalah, bisa dipastikan terjadi kenaikan harga. Jika stoknya tidak tersedia, dipastikan Kaltim mengalami inflasi. "Jika Maret stok terbatas atau habis, dipastikan harga beras akan mahal, akibatnya Kaltim akan kembali mengalami inflasi," jelasnya.

Menurut dia, inflasi maupun deflasi yang terjadi di Kaltim penyebabnya adalah distribusi dan stok bahan makanan. Jika dirincikan menurut kota, Februari 2015 Samarinda mengalami deflasi -0,17 persen, Balikpapan mengalami inflasi 0,72 persen dan Tarakan deflasi -0,50 persen.

"Mengapa Balikpapan terjadi inflasi, ini karena stok bahan makanan di Samarinda dan Tarakan lebih baik dari pada Balikpapan. Akibatnya, harga barang di Samarinda dan Tarakan belum naik, ternyata Balikpapan sudah lebih dulu mengalami kenaikan. Inilah yang menjadi penyebab deflasi maupun inflasi tersebut," jelasnya.

Diharapkan, ke depan untuk mengatasi masalah tersebut, distribusi bahan makanan harus lebih baik, sehingga stok di Kaltim aman. Faktornya adalah infrastruktur dan iklim, karena  Kaltim masih tergantung pada pasokan bahan makanan dari Sulawesi maupun Pulau Jawa. (jay/sul/es/hmsprov)

///FOTO : Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak (tiga dari kiri) saat berbincang dengan penjual beras di pasar Segiri Samarinda. Naiknya Harga beras dipasaran menyebabkan nilai inflasi Kaltim meningkat.(dok/humasprov)

 

Berita Terkait
Government Public Relation