Kinerja Indsutri, Perdagangan, Jasa dan Koperasi Membanggakan

SAMARINDA – Kinerja Industri, perdagangan, jasa dan koperasi di Kaltim patut dibanggakan karena memberikan sumbangan terhadap Product Domestic Regional Brutto (PDRB) hingga 35 persen, yakni  dari Rp391.41 triliun pada 2011 menjadi Rp419,10 triliun pada 2012.
Demikian dikatakan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi UKM, H.M Djailani, Rabu (14/8), terkait tentang kinerja industri, pedagangan dan jasa di daerah ini.
Harapannya, dengan peningkatan tersebut berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, seiring dengan tersedianya berbagai fasilitas memadai untuk memperlancar arus barang dan jasa antara kabupaten/kota.
“Kita yakin kinerja industri, perdagangan, jasa dan koperasi akan terus membaik dan dapat memberikan kesejahteraan lebih cepat kepada masyarakat Kaltim,” ujarnya optimistis.
Harus diakui pembentukan nilai PDRB Kaltim masih bertumpu pada sektor pertambangan, migas  dan penggalian,  Namun sektor-sektor lainnya telah bertumbuh sesuai dengan pengembangan kegiatan ekonomi, sesuai dengan potensi di masing-masing kabupaten/kota.
Kota Samarinda dengan industri perkayuan, Balikpapan dan Bontang melalui industri pengilangan minyak dan kimia serta Kabupaten Kutai Kartanegara, Paser, Kutai Timur berupa industri pengolahan Crude Palm Oil (CPO).
Terkait soal batu bara yang selama ini dijual dalam bentuk bahan metah, Djailani mengatakan Kaltim terus memperjuangkan penghentian ekspor batu bara dalam keadaan mentah dan lebih mengutamakan kebutuhan daerah, sehingga memberikan manfaat lebih besar bagi daerah.
Dicontohkan, seharusnya daerah bisa memanfaatkan batu bara secara maksimal untuk pembangkit listrik, namun kenyataannya pasokan untuk daerah saja sangat kurang, karena sebagian besar dijual ke luar daerah bahkan luar negeri.
Begitu juga dengan gas, Kota Bontang telah ditetapkan sebagai kluster industri berbasis gas dan kondensat, tetapi pasokan gas untuk pabrik tidak mencukupi. Bahkan, gas yang ada ingn disalurkan melalui pipa ke Pulau Jawa.
“Ini yang terus kita perjuangan agar batu bara tidak diekspor dalam bahan mentah dan gas tidak dikirim terlalu banyak ke daerah lain,  sehingga memberikan keuntungan besar bagi warga Kaltim,” ujarnya.
Berdasarkan data statistik,  menunjukkan pertumbuhan produksi industri mikro dan kecil pada triwulan II 2013 naik 13,19 persen dibanding periode yang sama pada 2012 dan naik 4,37 persen jika dibanding triwulan pertama Januari-Maret.
Secara umum kegiatan manufaktur pada triwulan ke dua ini menunjukan peningkatan produksi jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya, meskipun terlihat adanya pertumbuhan yang sedikit melambat pada kelompok industri besar dan sedang.(yul/hmsprov)

///Foto : Kaltim terus berupaya agar perdagangan batu bara asal Kaltim dijual tidak dalam bentuk mentah.(dok/humasprov kaltim)


 

Berita Terkait