Komitmen Kaltim Bangun Ekonomi Hijau

Komitmen Kaltim Bangun Ekonomi Hijau

 

SAMARINDA–Pembangunan berkelanjutan di Kaltim hanya dapat diwujudkan bila ada keseimbangan antara pilar ekonomi, lingkungan dan sosial dalam perencanaan pembangunan dan ekonomi yang membentuk ekonomi hijau (green economy).

Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak mengatakan perubahan dari kondisi ekonomi saat ini menuju ekonomi hijau atau ekonomi yang rendah karbon akan mewujudkan kondisi masyarakat yang lebih baik dan berkeadilan sosial mengurangi resiko lingkungan dan kerusakan ekologi.

“Model pembangunan ekonomi hijau diharapkan menjadi jawaban atas adanya saling ketergantungan antara ekonomi dan ekosistem serta dampak negatif akibat aktifitas ekonomi termasuk perubahan iklim. Sehingga model pembangunan ekonomi hijau akan ideal dilaksanakan dalam situasi, kondisi dan kebutuhan dalam mencapai visi ke depan di Kaltim,” kata Awang Faroek belum lama ini.

Awang Faroek menjelaskan proses transisi menuju paradigma hijau memerlukan perubahan mendasar dalam merumuskan kebijakan ekonomi, sosial dan lingkungan. Integrasi ketiga dimensi tersebut dalam perumusan kebijakan merupakan sebuah keharusan. Namun demikian, perlu dirumuskan sebuah solusi kebijakan yang saling menguntungkan.

“Upaya untuk pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan pekerjaan dan pemberian akses layanan kesehatan, pendidikan yang berkualitas dan semua fasilitas yang dapat dinikmati oleh suatu masyarakat modern harus dilakukan sejalan dengan penghargaan terhadap sumber daya alam (SDA) dan lingkungan guna mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dimaksud,” jelasnya.

Namun, pembangunan berkelanjutan di Kaltim dalam implementasinya mengalami sejumlah kendala, diantaranya pendekatan pembangunan yang dilakukan selama ini masih berorientasi pada sektor ekonomi saja, padahal persoalan pembangunan ekonomi tidak lepas dari sektor sosial dan lingkungan hidup.

Selanjutnya, terjadi penggunaan SDA yang hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan produk untuk memasok kebutuhan pasar, sehingga timbul eksploitasi SDA yang tak terkendali. Terdapat pemisahan dalam pengambilan keputusan kebijakan pembangunan di bidang investasi, keuangan, perdagangan dan teknologi dengan lingkungan hidup, sehingga kondisi lingkungan hidup kian bertambah parah.

Untuk itu, langkah yang diambil Kaltim dalam melaksanakan transformasi ekonomi berbasis unrenewable resources (sumber daya terbarukan) ke renewable resources (sumber daya tak terbarukan) sudah sangat tepat. Dimana telah diletakkan pondasi dasar transformasi ekonomi pada periode 2008-2013 dan kemudian dilanjutkan periode 2014-2018 sebagai tahapan penguatan kapasitas lokal dan implementasi.

“Saat ini kita sudah berada on the right track dalam rencana pembangunan jangka menengah dan panjang daerah. Tidak hanya sumber daya terbarukan saja yang menjadi fokus pemanfaatan serta pengelolaan ke depan, melainkan juga pengoptimalan sumber daya yang sifatnya tak terbatas (flow resources),” urainya.

Flow resources adalah sumber daya alam yang terus menerus ada dan dapat diperbaharui oleh alam. Sumber daya itu diantaranya tanah, air, udara, cuaca dan gelombang laut. Potensi tersebut ada di Kaltim dan jika ini mampu dioptimalkan maka  ketahanan energi akan benar-benar terwujud di Kaltim. (her/sul/hmsprov)

//Foto: Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak meninjau usaha perikanan di Kutai Kartanegara. Dengan ekonomi hijau lingkungan hidup terjaga dan menudukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat. (dok/humasprov kaltim).

 

Berita Terkait
Government Public Relation