Kota Mandiri di Lahan Eks Tambang

* Gubernur: Best Practice, Bagus Ditiru

SAMARINDA–Pembangunan kota mandiri berwawasan lingkungan pada lahan eks tambang di kawasan Prapatan, Berau oleh PT Berau Coal dapat menjadi best practice bagi seluruh perusahaan tambang di Kaltim maupun di Indonesia. Hal diungkapkan Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak di sela pertemuan dengan CSE Aviation, DPRD dan pengusaha se Kaltim di Pendopo Lamin Etam, Kamis (28/2) malam.
“Apa yang dibangun ini merupakan best practice yang bagus untuk ditiru oleh perusahaan tambang di Kaltim. Jadi, tidak hanya reklamasi dan revegetasi di lahan eks tambang, tetapi juga bisa membangun sebuah kota satelit yang berwawasan lingkungan,” ungkapnya.
Ia mengatakan dengan konsep pengembangan kawasan kota mandiri berwawasan lingkungan di kawasan Prapatan, kota satelit yang akan dibangun ini dapat menjadi salah satu percontohan untuk pengembangan kota hijau (green city) di Kaltim. “Jika semua meniru apa yang dilakukan oleh Berau Coal, maka lahan-lahan eks tambang di Kaltim akan berubah menjadi kawasan hijau yang sangat indah,” katanya.
Gubernur menyampaikan apa yang dilakukan Berau melalui PT Berau Coal hendaknya juga dapat ditiru oleh Samarinda. Sebagai ibukota provinsi yang marak dengan kegiatan pertambangan, saat ini Samarinda sudah terlihat kumuh, ditambah dengan ruang terbuka hijaunya (RTH) yang hanya 9,7 persen dari total luasan wilayahnya.
“Saya sudah bilang ke Walikota Samarinda, ambil itu lahan bekas tambang di utara dan di selatan Samarinda, susun dalam tata ruang baru, dan langsung 30 persen RTH bisa kita susun kembali dan hutan-hutan kota bisa kita bangun,” ucapnya.
Selain itu, lanjut dia, lahan eks tambang yang berada di sepanjang Balikpapan-Samarinda juga harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Seperti membangun lapangan golf berkelas dunia dengan sejumlah fasilitas pendukungnya.
“Pada lahan-lahan itu jika kita bisa tata dengan baik maka kita bisa membangun seperti Putra Jaya di Malaysia. Disini pemerintah bertindak selaku regulator, dan yang membangun adalah swasta,” tambahnya.
Lahan eks tambang memang menjadi perhatian serius Pemprov Kaltim. Karena lubang-lubang besar bekas galian tambang batu bara yang tidak di reklamasi dan revegetasi mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup. Untuk itu,  ia mengimbau kepada perusahaan-perusahaan pertambangan dapat melakukan reklamasi dan revegetasi atapun membangun sebuah kota satelit berwawasan lingkungan. (her/hmsprov).

//Foto: JADI KOTA. Lahan eks pertambangan batu bara di Kaltim. (dok/humasprov kaltim).


 

Berita Terkait