Krisis Daging Sapi Tidak Terjadi di Kaltim

Krisis Daging Sapi Tidak Terjadi di Kaltim

SAMARINDA – Kelangkaan daging sapi yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia seperti di ibukota negara, Pulau Jawa dan Sumatera tidak berimbas di Kaltim. Stok daging sapi di Kaltim bahkan diperkirakan mampu bertahan beberapa bulan ke depan hingga akhir tahun 2015.

“Kita tidak terkena krisis daging sapi seperti yang terjadi di Jakarta, Jawa dan Sumatera. Sebab, Kaltim hanya memasok sapi lokal bukan sapi impor,” kata Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Kaltim H Dadang Sudarya di ruang kerjanya kemarin.

Menurut dia, walaupun konsumsi daging di Kaltim setiap tahun terus mengalami peningkatan,  namun para pelaku usaha di subsektor peternakan ini sejak lama hanya memasok sapi lokal, sehingga ketersediaan selalu ada dan harga tetap stabil.

Dadang menyebutkan untuk  ketersediaan daging sapi masih melebihi kebutuhan (demand). Misalnya, ketersediaan sapi potong sebanyak 14.408 ekor  setara 2.262 ton daging, sementara kebutuhan masih sekitar 14.050 sapi atau 2.206 ton daging.

Dijelaskannya, krisis atau kelangkaan daging sapi di kota-kota  besar di Indonesia beberapa hari terakhir ini karena daerah-daerah itu memasok sapi potong dari luar negeri (sapi impor). Sementara pemerintah telah membatasi pasokan atau masuknya sapi impor sehingga berimbas pada kelangkaan daging sapi dan harganya pun meroket. 

Selain itu, kondisi pasokan daging sapi ke konsumen diperparah dengan prilaku importir atau feedloter (pelaku usaha penggemukan sapi potong impor) yang menahan sapi-sapi impor dikandang dan tidak dikirimkan ke RPH-RPH yang diperkirakan mencapai 230 ribu ekor.

“Kaltim tidak terpengaruh dengan pembatasan kuota sapi impor. Walaupun harga sempat terjadi kenaikan namun sejak akhir Ramadhan hingga saat ini harganya kembali turun. Sebelumnya Rp135 ribu per kg, sekarang berada pada kisaran Rp110 ribu hingga Rp125 ribu per kg,” jelas Dadang.

Dia menambahkan masyarakat khususnya pasar tradisional dan pedagang masakan sudah terbiasa dan menyukai daging sapi lokal. Sedangkan, impor daging beku hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar modern (swalayan), rumah makan (catering besar) serta hotel dan perusahaan.

Ketersediaan pangan asal ternak lainnya antara lain terdiri  dari kambing 9.448 ekor (128 ton), sementara kebutuhan 8.261 ekor (112 ton). Sedangkan untuk  daging beku  265 ton dengan kebutuhan sekitar 225 ton.

Ayam potong 8.194.604 ekor (8.440 ton)  dan kebutuhan 7.917.466 ekor (8.155 ton). Demikian pula dengan telur  yang mencapai 2.810 ton, sementara kebutuhan masyarakat sekitar 2.715 ton. (yans/sul/adv)

////Foto : Gubernur Awang Faroek Ishak saat melakukan sidak ke pasar tradisional di Kota Samarinda.  Kaltim tidak terpengaruh dengan pembatasan quota daging impor karena menggunakan sapi lokal. (dok humasprov)

 

 

Berita Terkait