Kuliah Umum Perdana ITK Tahun 2018, Awang : Mahasiswa Pemicu dan Pemacu Perubahan

Awang Faroek (kedua dari kiri) bersama panelis pada kuliah umum di ITK. (hadri/humasprov kaltim).

BALIKPAPAN –  Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang berkedudukan di Kota Balikpapan bertanggungjawab menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter, berkualitas, unggul dan  dan berdaya saing global. ”Tujuan pendirian ITK memang itu. Jadi jangan salah arah. Mahasiswa dan alumni ITK diharapkan tidak hanya cerdas tetapi memiliki karakter. Kita tidak boleh kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang juga berakhlak mulia,” ujar Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dalam Kuliah Umum Perdana tahun 2018 di Kampus ITK, Senin (13/8).

Pada kesempatan itu Gubernur memaparkan panjang lebar tentang pendirian ITK dan dia memuji kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo yang menurutnya peduli pada pembangunan di Kaltim, termasuk mendukung pendirian ITK di Balikpapan dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kalimantan Timur di Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Di hadapan para mahasiswa baru ITK yang tahun ini diterima sebanyak 1.002 orang, Gubernur menyinggung tentang pentingnya generasi muda turut menyukseskan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Revolusi mental sangat penting untuk membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Berwibawa, memiliki peradaban yang unggul dan mulia. 

Mahasiswa juga disebut Awang sebagai pemicu dan pemacu perubahan dalam masyarakat dalam bentuk teoritis dan praktis. Contohnya mahasiswa menyususn sistem organisasi kemahasiswaannya secara desentralisasi (otonomi), ternyata kemudian Negara juga memberlakukan sistem otonomi daerah. Selain itu, mahasiswa menginisiasi pemilihan langsung presiden mahasiswa, ternyata kini presiden Indonesia juga dipilih secara langsung oleh rakyat.

TRANSFORMASI

Pada bagian lain Gubernur juga mengatakan saat ini bangsa Indonesia telah berhasil meraih konsolidasi demokrasi. Kini saatnya kita harus berani melakukan berbagai lompatan transformasi, khususnya fundamental perekonomian dan pembangunan nasional.

Menurut Awang paradigma pembangunan yang bersifat konsumtif harus diubah menjadi produktif. Pembangunan harus dimulai dari pinggiran, dari daerah dan desa-desa dengan meningkatkan produktivitas sumber daya manusia, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan digerakkan oleh sikap mental kreatif, inovatif, dan gigih dengan manfaatkan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

“Tanpa keberanian melakukan lompatan tersebut, kita tidak akan pernah bisa meletakkan pondasi pembangunan nasional yang kokoh, mandiri secara ekonomi, dan menegakkan kepentingan nasional,” kata Awang.

Dalam mengisi dan mewarnai pembangunan, para pemuda – khususnya para mahasiswa sebagai agent of change (agen prubahan), ujar Awang tidak boleh tinggal diam. Digambarkan, pada tahun 2045 nanti, Indonesia akan merayakan 100 tahun kemerdekaannya. Pada saat itu diprediksi 52 persen dari total 309 jiwa penduduk Indonesia adalah berusia produktif di mana 80 persen adalah kelas menengah dan 75 persen tinggal di perkotaan. Perekonomian Indonesia menjadi yang terbesar kelima di dunia. 

”Namun demikian, visi 100 tahun kemerdekaan Indonesia tersebut hanya akan terwujud apabila kita  mampu menjaga stabilitas ekonomi dan politik serta menjaga keterbukaan untuk memanfaatkan ide, investasi dan perdagangan global,” tegasnya seraya menambahkan bahwa masyarakat Kaltim dari sekarang harus optimistis memasuki usia 100 tahun perayaan kemerdekaan tersebut karena prestasi Kaltim saat ini merupakan salah satu yang terbaik dari 34 provinsi di Indonesia.

Diungkapkan, survei national University of Singapore Lee Kuan Yew Competitiveness Institute, Kaltim memiliki tingkat daya saing ke-3 setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur. Sementara itu, capaian indikator makro ekonomi Kaltim; Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 75,12 yang merupakan peringkat tertinggi ke-3 nasional; Tingkat kemiskinan 6,03 persen (peringkat terendah ke-8 nasional), pertumbuhan ekonomi  3,13 persen, tingkat inflasi 3,15 persen, tingkat pengangguran 6,90 persen, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) 83,19, angka harapan hidup yang telah mencapai 73,65 tahun, Indeks Kepuasan Layanan Infrastruktur (IKLI) 6,70 dan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 79,81.

“Indeks-indeks tersebut bisa kita dapatkan karena stabilitas keamanan Kaltim yang kondusif. Oleh karena itu kita harus lanjutkan dan pertahankan keunggulan komparatif Kaltim menjadi keunggulan kompetitif di masa yang akan datang,” kata Awang. (ri/sul/humasprovkaltim)

Berita Terkait