Masyarakat Diajak Berpartisipasi dalam Pemberian Nama BSB

SAMARINDA - Bandara Samarinda Baru (BSB) Sungai Siring terus dikebut penyelesaiannya.  Diharapkan awal Januari 2017 sudah bisa beroperasi menggantikan Bandara Temindung Samarinda. 

Kepala Biro Humas dan Protokol Setdaprov Kaltim Tri Murti Rahayu mengatakan, selain fisik bandaranya yang baru, nama bandaranya pun nanti harus baru. Saat ini Pemprov Kaltim melalui Biro Humas dan Protokol sedang melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait rencana penamaan bandara baru tersebut. 

"Kami mengundang semua lapisan masyarakat  untuk berpartisipasi  mengusulkan penamamaan BSB. Sekarang ini kita masih dalam tahap sosialisasi untuk  menjaring  usulan nama. Selanjutnya kami akan memilih 5 nama dengan poling tertinggi," kata Tri Murti Rahayu, Rabu (22/6).

Tri Murti menjelaskan, Pemprov telah menyusun tim penamaan BSB yang terdiri dari berbagai kalangan, melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, media massa, Kantor Bahasa dan tokoh Kaltim.

Penamaan BSB lanjut Tri, harus melalui mekanisme yang sudah ditetapkan dengan mengacu pada 8 prinsip pemberian nama rupabumi.

"Ada 8 prinsip dalam pemberian nama rupabumi salah satu diantaranya bandara merupakan unsur rupabumi buatan. Penggunaan huruf romawi dan bahasa asing juga harus diperhatikan. Nama juga tidak boleh terlalu panjang. Meskipun kita beri kesempatan luas ke masyarakat namun kaidah pemberian nama harus diikuti dengan baik," ujarnya.

Nantinya, lanjut Tri, akan ada satu aplikasi di situs resmi Pemprov Kaltimprov.go.id yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk memberikan masukan pilihan nama untuk BSB.  

"Kita akan memberikan waktu satu bulan  mulai 11 Juli -10 Agustus kepada masyarakat untuk mengusulkan nama yang disertai alasan. Setelah satu bulan kita pilih lima nama yang tertingggi kemudian kita tawarkan kembali ke masyarakat lewat poling," kata Tri Murti

Sejumlah nama yang saat ini muncul menjadi usulan adalah Aji Pangeran Afloes (penggagas provinsi Kalsel, Kalbar dan Kaltim), APT Pranoto (gubernur Kaltim pertama), Sultan Aji Muhammad Idris (Sultan Kutai), Daeng Mangkona, Haji Muhammad Kadrie Oening (mantan Walikota Samarinda), HM Ardans (mantan gubernur Kaltim), Ruhui Rahayu, Kudungga (asal muasal kerajaan Kutai), Suwandi (mantan Gubernur), Mulawarman (Raja Kutai) dan Awang Long. (mar/sul/humasprov)

Berita Terkait
Government Public Relation