Pelepasliaran Tiga Orangutan ke Hutan Kehje Sewen

Pemprov Komitmen Sediakan Habitat Layak Orangutan


SAMBOJA – Pemprov sangat mendukung  pelestarian keanekaragaman hayati di Kaltim. Termasuk pelestarian satwa langka  orangutan yang dilakukan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo/Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation di kawasan Samboja Lestari.
Hal itu dikemukakan Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dalam sambutan tertulis yang disampaikan Wagub H Farid Wadjdy, pada pelepasliaran kembali orangutan di kawasan Hutan Kehje Sewen Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Timur, yang dihadiri  Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) HR Agung Laksono, di Samboja Lestari, Ahad (14/4).
“Komitmen Pemprov tidak berubah. Kami masih terus menjalin kerjasama dengan Yayasan BOS maupun dengan jajaran Pemkab dan pihak terkait lainnya dalam upaya pengalokasian lahan sebagai areal konsesi restorasi ekosistem, khususnya untuk kepentingan penyediaan habitat layak bagi orangutan,” ujar Farid.
Selain itu, menurut Farid, Pemprov juga terus bekerjasama dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim untuk meningkatkan aktivitas pengawasan, pemantauan, penegakan hukum demi perlindungan habitat dan satwa liar yang masih tersisa di Kaltim. Hal ini juga sejalan dengan program Kaltim Green yang dilaksanakan oleh Pemprov.
“Branding Kaltim Green yang ditetapkan Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak pada Kaltim Summit 2010 dengan maksud menghijaukan kembali Kaltim yang dulu pernah hijau. Jika secara nasional satu orang cukup menanam satu pohon, maka di Kaltim satu orang menanam lima pohon atau One Man Five Trees (Omfit),” urainya.
Dijelaskan, Pemprov juga memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap pelestarian lingkungan hidup. Di Kaltim, sambung dia, banyak satwa yang terancam punah, selain orangutan ada pesut mahakam yang populasinya saat ini hanya sekitar 100 ekor. Kemudian, ada macan dahan dan badak di Kutai Barat, serta gajah kecil di Nunukan.
“Jadi, tugas dan tanggung jawab kita bukan hanya melestarikan orangutan, tetapi masih banyak satwa yang hampir punah dan harus kita selamatkan. Pemprov sangat mendukung kerjasama antara pemerintah, dunia usaha dan non-governmental organization (NGO) serta didukung oleh masyarakat dalam melestarikan keanekaragaman hayati di Kaltim,” tegasnya.
Sementara, Menkokesra, HR Agung Laksono, memberikan apresiasi tinggi atas komitmen dan upaya Pemprov Kaltim, Pemkab Kutai Kartanegara dan Kutai Timur, serta Yayasan BOS dan dunia usaha di Kaltim, atas kepeduliannya terhadap pelestarian orangutan yang merupakan satwa langka di Indonesia.
“Masyarakat Indonesia sesungguhnya sangat memerlukan orangutan yang hidup di habitat aslinya, yaitu hutan. Sebab manusia memerlukan hutan sebagai pendukung alamiah kehidupan, baik untuk pencegah banjir, erosi dan sebagai paru-paru dunia. Pelepasliaran orangutan ini adalah contoh baik dari Pemprov Kaltim, Kukar dan Kutim serta NGO dan dunia usaha tentang bagaimana pelestarian hutan untuk pembangunan berkelanjutan,” katanya.
Ditambahkan, orangutan sebagai satwa langka Indonesia berpotensi besar menjadi ikon pariwisata Indonesia. Dan untuk mendukung strategi dan rencana aksi konservasi orangutan Indonesia 2007-2017, Agung berharap semua orangutan yang ada di pusat rehabilitasi harus dikembalikan ke habitatnya paling lambat pada 2015.
“Pemerintah terus berusaha melestarikan orangutan. Hal itu menjadi sesuatu yang mendesak dan prioritas. Kita harus mengambil tindakan preventif, disamping pelestarian satwa-satwa langka, kita juga harus melakukan development forestry untuk menjaga habitat asli satwa-satwa langka,” tambahnya.
Orangutan yang dilepasliarkan dari program Reintroduksi Orangutan, Samboja Lestari, tiga ekor yang terdiri dari satu jantan (Leo) dan dua betina (Juminten dan Titin). Ketiganya dilepasliarkan ke Hutan Kehje Sewen di kawasan Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.
Pada kesempatan itu, Menkokesra Agung Laksono dan Wagub Farid Wadjdy juga melakukan penanaman pohon di kawasan Samboja Lestari. Turut hadir dalam acara itu, diantaranya Ketua Dewan Pembina Yayasan BOS Prof Bungaran Saragih, Kepala Dinas Kehutanan Kaltim, Chairil Anwar dan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kaltim, Riza Indra Riadi. (her/hmsprov)

///Foto : Wagub H Farid Wadjdy (empat dari kiri) dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) HR Agung Laksono (kiri) bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Kaltim melepasliarkan tiga orangutan yang dilakukan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo/Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation.(syaiful/humasprov kaltim)
 

Berita Terkait
Government Public Relation