Pembangunan Berwawasan Lingkungan Sebagai Kewajiban

Kunjungan Jurnalistik ke Mahakam Ulu (3-habis) 

Walau baru berusia 15 bulan, namun jajaran Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB), menyadari betul betapa sejumlah kawasan mereka merupakan wilayah strategis. Yakni daerah penyangga bagi daerah lainnya, terutama Kutai Barat, Kutai Kartanegara bahkan Samarinda.

 Kesadaran itulah yang menjadikan Mahulu berupaya keras agar lingkungan di sejumlah kawasan di daerah tersebut tetap dipertahankan, dengan memanfaatkan hukum adat dan kearifan lokal dan selanjutnya juga akan diperkuat dengan peraturan daerah yang disesuaikan dengan budaya warga setempat.

Hukum adat dan kearifan lokal yang selama ini masih diterapkan sebagian besar warga setempat, terbukti mampu melestarikan alam. Misalnya  kondisi sejumlah anak sungai Mahakam yang masih asri sehingga warga setempat dengan mudah memancing berbagai ikan dan hasil sungai lainnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan untuk usaha. Tidak heran jika di kawasan tersebut tidak terlihat usaha perikanan dalam keramba, karena alam masih mampu menyediakan.

Contoh lainnya adalah, salah satu kawasan di Sungai Tepai juga menyediakan ikan secara alami dengan jumlah sangat banyak, sehingga warga setempat bersepakat dengan hukum adat melindungi kawasan tersebut. Hukum adat yang diterapkan adalah dilarang menangkap ikan dengan alat kimia, bom dan dengan energi listrik.

Ikan yang diambil dari Sungai Tepai adalah yang berbobot diatas 5 kilogram dengan cara ditombak atau dipancing atau cara lain yang tidak menimbulkan kematian massal, terutama bagi ikan-ikan kecil yang belum waktunya dipanen. Hal-hal positif inilah yang perlu diapresiasi dan dipertahankan.

Namun, Satu pelajaran yang menjadi perhatian, yakni terkait masalah banjir yang terjadi pada saat musim hujan yang diiringi dengan pasangnya air Sungai Mahakan dapat merendam sejumlah kawasan di Mahulu berlanjut ke Kutai Barat dan beberapa lokasi di Kutai Kartanegara bahkan tidak jarang juga sampai ke Samarinda.           

“Ini yang menjadi perhatian kita, sehingga sejumlah kawasan hutan dan alam wajib kita lestarikan, sebagai bentuk  pembangunan yang berwawasan lingkungan yang dampaknya tidak hanya dirasakan warga Mahulu tetapi juga oleh warga Kubar dan Kukar dan daerah sekitar,” kata Penjabat Bupati Mahulu MS Ruslan yang didampingi Kepala Bagian Umum, Humas dan Perlengkapan Setkab Mahulu, Nasution Ibau Djaang.

Daerah ini memiliki berbagai potensi sumber daya alam yang tidak sedikit, apabila diekspolitasi tentunya akan memberikan dampak ekonomis yang signifikan bagi warga Mahulu yang mencapai 28.000 jiwa.

Kendati demikian, semua potensi sumber daya alam harus dikelola dengan arif dan bijaksana, sehingga tidak berdampak buruk bagi anak cucu di masa depan, sehingga berbagai potensi yang harus dijaga sebaik mungkin dan warga sekitar  bisa hidup sejahtera.

Berbagai potensi sumber daya alam yang terkandung di Bumi Mahulu, antara lain uranium, emas, minyak dan gas serta batu bara yang kandungan kalorinya termasuk yang terbaik, yakni lebih dari 7.000 kalori (king kalori).

Karena SDA itu umumnya berada di dalam perut bumi, maka untuk mengeksploitasinya perlu perhitungan matang, tidak boleh serampangan yang pasti berdampak buruk bagi kelestarian lingkungan yang pada akhirnya merugikan masyarakat, baik secara moril dan materil.

Selain memiliki SDA, potensi pertanian dalam arti luas juga luar biasa, terutama lahan yang masih terbuka serta berbagai komoditi unggulan yang kini telah dikembangkan masyarakat, antara lain coklat, karet, sarang burung walet, gaharu dan beras avung yang kulitasnya setara dengan Beras Adan di Krayan, Nunukan.

Pengembangan potensi pertanian dalam arti luas, nampaknya lebih relalistis karena merupakan sumber daya yang dapat diperbarui, meskipun tidak menutup kemungkinan mengeksploitasi SDA yang tidak dapat diperbarui, tentunya setelah dengan pertimbangan matang melalui perhitungan dari segala sisi kehidupan.

Berbagai potensi pertanian tersebut, yakni pengembangan kebun coklat di Mahulu sudah dilakukan warga setempat sejak lama dan hingga kini sudah ada di 13 kampung dengan produksi rata-rata mencapai  60 ton perbulan.

Potensi perkebunan kakao ini masih terbuka luas, apalagi coklat dari daerah ini memiliki kualitas terbaik di dunia, karena pengolahan yang dilakukan warga masih tradisional, yakni mengeringkan buah coklat dengan panas matahari. Tidak heran jika coklat dari daerah ini bisa dihargai tinggi oleh pengepul, yakni Rp26.000 perbulan.

Demikian juga halnya dengan perkebunan karet yang tersebar di sejumlah kecamatan di Mahulu juga telah dikembangkan warga setempat sejak lama, namun sayangnya harga di tingkat petani masih terlalu rendah, yakni baru mencapai Rp5.000 perkilogram.

Kondisi ini tentunya membuat petani kurang bergairah untuk mengembangkan komoditas tersebut. Namun seiring dengan kelengkapan sarana infrastruktur ke depan, diyakini harga karet berangsur membaik.

 Demikian juga dengan potensi gaharu yang harganya cukup baik juga kegiatan usaha masyarakat, meskipun hingga kini sebagai warga setempat masih mengandalkan kawasan hutan untuk mencari gaharu alam.

Pengembangan usaha perkebunan besar swasta untuk komoditas karet dan perkebunan sawit juga terus didorong sehingga daerah ini mampu membangun pertumbuhan ekonomi dengan berpijak pada sumber daya alam yang dapat diperbarui.

Selanjutnya pengembangan peternakan sapi, kambing dan babi yang juga memiliki potensi besar terus dikembangkan, baik melalui melalui program yang dilakukan pemerintah maupun bantuan dari sejumlah perusahan swasta dengan program corporate social responsibility (CSR).

“Pastinya kita akan berupaya mendorong terciptanya peningkatan ekonomi masyarakat dengan mengutamakan kegiatan usaha yang memanfaatkan SDA yang dapat diperbarui, termasuk pelibatan masyarakat di dalamnya,” kata Ibau Djaang.

Terkait dengan pelibatan masyarakat, perlu dilakukan sosialisasi dan mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini masih membuang sampah di sungai. Meskipun hal itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena memang hingga kini di Mahulu belum memiliki sarana pembuangan dan pengolahan sampah yang memadai.

Terkait dengan hal itu, Pemkab Mahulu sudah merencanakan pembangunan kawasan pembuangan dan pengolahan sampah yang memadai, termasuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.

Pendidikan kebersihan dan membuang sampah juga diberikan kepada anak-anak usia dini, melalui berbagai lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sehingga semua masyarakat mulai anak-anak remaja hingga orang tua menyadari betul betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan bagi pelestarian lingkungan. (eko susanto/sul/hmsprov)

////FOTO :  Sungai Mahakam merupakan salah satu sumber penghidupan warga Mahulu dan sejumlah daerah sekitarnya, sehingga perlu dijaga kelestariannya.(fadli/humasprov)

 

Berita Terkait
Government Public Relation