Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Pengaruhi Data IPG

Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Pengaruhi Data IPG

 

SAMARINDA – Kegiatan usaha ekonomi yang digeluti kaum perempuan ternyata mempengaruhi data indeks pembangunan gender (IPG). Khususnya data pilah untuk sumbangan pendapatan laki-laki maupun perempuan selain pendidikan dan kesehatan.

“Pemberdayaan ekonomi perempuan yang digeluti kaum hawa sangat mempengaruhi data IPG untuk sumbangan pendapatan. Disitu akan terlihat seberapa besar peran dan kepemilikan usaha kaum perempuan,” kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kaltim Hj Ardiningsih, di Samarinda, Rabu (26/8).

Menurut Ardiningsih, selama ini banyak kaum perempuan atau ibu rumah tangga (IRT) yang aktif sebagai pelaku usaha bahkan terbilang pemilik usaha tersebut. Namun, kenyataannya saat dilakukan pendataan pilah untuk sumbangan pendapatan ternyata tidak tercatat.

Hal ini terjadi lanjut dia, karena ijin usaha itu dibuat atas nama laki-laki atau dalam hal ini suaminya. Sehingga, perempuan tidak tercatat sebagai pemilik usaha walaupun usaha itu dikelola dan diusahakannya.

“Perbandingan sumbangan pendapatan dalam keluarga IPG sesuai data pilah yang diperoleh menunjukkan angka yang sangat jauh berbeda. Untuk erempuan hanya 21,9 persen sedangkan laki-laki mencapai 28,1 persen,” sebut Ardiningsih.

Kedepan, Ardiningsih berharap agar kaum perempuan memiliki keberanian membuat atau mengurus sendiri kepengurusan ijin usaha yang dikelola dan diusahakannya atas nama diri sendiri.

Sejauh ini menurut Ardiningsih, di Kaltim utamanya daerah sentra pertanian maupun kelautan dan perikanan telah menunjukkan kemampuan kaum perempuan dalam mengelola serta menggeluti kegiatan usaha khususnya usaha rumahan (home industry) cukup besar.

Selain mengelola dan melakukan kegiatan usaha juga tidak sedikit dari mereka ternyata boleh dikatakan sebagai pemilik usaha rumahan tersebut. Namun, karena ijin yang dimiliki atas nama suami maka penyumbang pendapatan terbesar dalam keluarga itu adalah suaminya.

“Data yang diperoleh berdasarkan catatan dan survei untuk data pilah IPG. Namun, karena tercatat ijin atas nama suaminya maka usaha itu dianggap milik suami. Padahal, tidak sedikit kaum perempuan mampu mengelola bahkan pemilik usaha tersebut,” ungkap Ardiningsih.

Dia menambahkan, pihaknya secara intensif dan aktif melakukan bimbingan manajemen usaha bagi kaum perempuan atau ibu rumah tangga pelaku usaha rumahan untuk membuat proposal untuk pengurusan ijin serta pimjaman modal di perbankan.(yans/sul/es/adv)    

Berita Terkait