Pemprov Minta Masyarakat Tidak Mengucilkan Penderita HIV/AIDS

Pemprov Minta Masyarakat Tidak Mengucilkan Penderita HIV/AIDS

 

SAMARINDA - Mempringati Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2015, Pemprov Kaltim meminta agar masyarakat tidak mendiskriminasi atau memojokan penderita virus HIV AIDS. Apalagi, penderita HIV AIDS di Kaltim terus bertambah setiap tahun.

Sebaliknyam penderita HIV/AIDS diharapkan dapat diberikan motivasi, agar memiliki semangat hidup yang tinggi, sehingga mampu beraktivitas seperti masyarakat pada umumnya. Karena, penderita virus tersebut memiliki hak yang sama di dalam kehidupan masyarakat.

“Masyarakat umum lainnya diharapkan dapat mengetahui penderita virus tersebut. Diharapkan mereka dapat diperhatikan dengan baik, sehingga memiliki kesempatan berkarya, bukan malah memojokkan mereka bahkan menghindari mereka,” kata Wakil Gubernur Kaltim HM Mukmin Faisyal HP di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (2/12).

Menurut dia, penderita virus tersebut bukan hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak bahkan pada ibu rumah tangga juga bisa tertular. Karena itu, seluruh masyarakat diminta untuk waspada. 

Banyak cara yang dilakukan agar tidak tertular dengan virus tersebut, yakni menghindari kontak darah dengan penderita HIV, bersikap waspada pada jarum suntik dan alat bedah dan hindari seks bebas.

“Seluruh komponen masyarakat diharapkan dapat terlibat dalam pencegahan penularan virus tersebut. Pemprov telah melakukan berbagai upaya untuk pencegahan ini, yakni menginstruksikan kepada pemerintah kabupaten/kota agar berperan aktif memberikan penyuluhan bahaya virus tersebut dan bagaimana pencegahannya,” jelasnya.  

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dr Rini Retno Sukesi mengatakan Data Dinas Kesehatan Kaltim mencatat sejak 1993 hingga 2014 jumlah penderita HIV/AIDS yang pernah ditemukan mencapai 4.287 orang, 490 diantaranya meninggal dunia.

“Ini cukup banyak, semoga dengan sosialisasi yang terus dilakukan Dinas Kesehatan bersama instansi terkait dan berbagai LSM dapat mengurangi jumlah tersebut. Bahkan untuk 2015 saja per September yang positif mencapai 168 orang. Sehingga diharapkan masyarakat diminta untuk waspada terhadap virus tersebut dengan cara hidup sehat dan tidak berganti-ganti pasangan,” jelasnya.

Menurut dia, saat ini virus tersebut didominasi di daerah Samarinda, Balikpapan dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Bahkan saat ini sangat mencemaskan semua pihak, karena telah terjadi transisi epidemologi atau pergeseran penyebaran kasus, yang semula penyebaran hanya dilihat pada mereka yang terlibat sebagai pekerja seks komersial (PSK), pengguna narkoba suntik serta kaum homoseksual, kini bergeser kepada kelompok populasi yang beresiko rendah, yakni ibu rumah tangga (IRT), ibu hamil dan bayi.

“Penyakit yang diakibatkan oleh virus mematikan ini telah menyebar ke berbagai lini sosial. Untuk itu penanggulangan HIV-AIDS pun dilakukan terhadap semua kalangan. Sudah lama Badan Dunia untuk Penanggulangan HIV dan AIDS atau UNAIDS mengingatkan bahwa Indonesia berada di urutan nomor satu di antara negara-negara Asia terkait dengan tingkat kecepatan laju epidemi HIV ini,” jelasnya.

Adapun kontribusi terbesar dalam penularan HIV disebutkan dari hubungan seks tidak aman ke pemakaian narkoba dengan cara suntik. Departemen Kesehatan RI menyebutkan bahwa estimasi prevalensi HIV di kalangan Pengguna Napza Suntik (Penasun) mencapai 41.6 persen di Indonesia dan ditemukan di tiap provinsi.  “Karena itu, wajar jika semua harus waspada,” tegas Mukmin. (jay/sul/hmsprov)

Berita Terkait
Government Public Relation