Kalimantan Timur
Gubernur: MUI Harus Awasi Ajaran Radikal

SAMARINDA - Saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) IX Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kaltim, Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak  meminta agar MUI berperan aktif mengawasi ajaran yang mengarah pada radikalisme serta berpartisipasi memerangi penyalahgunaan narkoba.

"MUI Kaltim harus berperan mengawasi ajaran-ajaran yang bersifat radikal dan segala macam ajaran yang  bertentangan dengan agama termasuk memerangi narkoba," kata Awang Faroek Ishak di Pendopo Lamin Etam Samarinda, Selasa (9/2).

Dikatakan, sebagai kelompok mayoritas, umat Islam harus mampu menempatkan posisi agama Islam sebagai rahmatan lil 'alamin,  sehingga mampu menepis anggapan tentang Islam sebagai agama yang identik dengan tindakan kekerasan, seperti yang selama ini dengan sengaja dihembuskan pihak-pihak yang tidak suka melihat kejayaan  Islam. 

"Kita mengutuk keras tindakan anarkis berupa peledakan bom dan perusakan sasaran tertentu dengan dalih jihad demi menegakkan agama," tegas Awang.

Pemahaman terhadap ajaran agama yang bernuansa radikalisme, seharusnya menjadi pekerjaan rumah bagi para alim ulama dan para pendakwah untuk melakukan pembinaan, sebelum kalah cepat dengan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Sehingga sempat kecolongan, karena dengan tiba-tiba menyaksikan adanya peristiwa pengeboman di beberapa tempat di Tanah Air dan menimbulkan korban jiwa. 

Sementara itu ajaran dan aliran sesat juga tumbuh di mana-mana. Di Kaltim terdapat sejumlah kegiatan keagamaan beraliran sesat yang perlu mendapat pengawasan. Ratusan kepala keluarga pendatang dari luar Kaltim ternyata adalah anggota atau mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

karena itu, pemerintah menaruh harapan kepada  MUI untuk memecahkan setiap permasalahan keagamaan dan kehidupan umat Islam di dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

"Diharapkan MUI Kaltim dalam program kerja organisasi lima tahun ke depan terus melakukan perbaikan, penyempurnaan kehidupan masyarakat sesuai dengan peran MUI," tambahnya.

Awang Faroek juga meminta agar MUI tetap menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat, karena kondisi daerah Kaltim hingga kini tetap dalam keadaan aman dan kondusif. 

"Namun demikian kita tidak boleh lengah karena bukan mustahil konflik dan kerawanan sosial yang bersinggungan dengan isu suku, agama, ras dan antargolongan, serta masalah ketenagakerjaan, masalah politik, penyusupan faham bangsa asing dan lain sebagainya bisa saja terjadi," seru Awang Faroek. (mar/sul/es/hmsprov).

Berita Terkait