Kegiatan Mapala Harusnya Sampai ke Perbatasan


 

SAMARINDA – Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) yang terbentuk di setiap perguruan tinggi merupakan kegiatan ekstrakulikuler positif yang dilakukan para mahasiswa.

Namun, ada saja yang berakibat negatif sampai terjadi korban jiwa (meninggal dunia) karena kegiatan di lapangan diisi dengan tindakan kekerasan yang dilakukan para senior (anggota Mapala lama) kepada para yunior (anggota baru).

Karenanya, Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak menyatakan keprihatinannya atas peristiwa yang terjadi di beberapa perguruan tinggi di luar Kaltim.

Tetapi pada dasarnya lanjutnya, dirinya sangat mendukung kegiatan Mapala karena sangat positif sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap alam dan lingkungan.

Khusus Mapala di Kaltim, Gubernur mengharapkan agar dapat melakukan kegiatan yang lebih baik diantaranya berpetualang ke kawasan pedalaman dan perbatasan.

“Kaltim tidak memiliki gunung-gunung seperti Pulau Jawa. Tapi kita punya daerah pedalaman dan perbatasan. Saya harap Mapala datang ke Long Pahangai atau Long Apari. Itu daerah-daerah perbatasan kita,” kata Awang Faroek di hadapan mahasiswa Untag Samarinda, pekan lalu.

Menurut dia, di kawasan pedalaman, daerah terpencil dan perbatasan itu para anggota Mapala bisa melihat langsung kondisi alam dan lingkungan yang masih alami.

Termasuk keadaan masyarakatnya baik terkait adat istiadat maupun seni dan budaya serta tata krama kehidupan yang belum terjamah dan tergerus kemajuan teknologi maupun informasi.

“Kondisi di kawasan tersebut tentu akan bisa meningkatkan kepekaan, pemahaman dan kepedulian anggota Mapala untuk lebih mencintai dan menghargai nilai-nilai kehidupan bermasyarakat terlebih alam dan lingkungan. Sebab itulah makna dasar kegiatan Mapala,” tegas Awang Faroek.

Dia berharap kasus kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa terhadap anggota Mapala tidak terjadi di perguruan tinggi Kaltim. (yans/sul/humasprov)

Berita Terkait
Government Public Relation