Libatkan Swasta dalam Pengelolaan Stadion Palaran

Stadion Palaran Bisa Seperti Barcelona

 

SAMARINDA - Mewujudkan pengembangan pengelolaan sarana dan prasarana olahraga di Komplek Stadion Utama Palaran maupun Stadion Madya Sempaja Samarinda secara profesional. Karena itu  perlu peran swasta untuk mendukung pengelolaan tersebut, sehingga pemanfaatan stadion tersebut bukan hanya sebagai sarana olahraga melainkan juga untuk rekreasi atau obyek wisata bagi orang yang berkunjung ke Kaltim, khususnya ke Samarinda.

Harapan itu disampaikan Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dihadapan jajaran Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan KONI Kaltim serta sejumlah SKPD terkait,   saat meninjau Kampus Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Kaltim, Selasa (7/7).  

Awang mengaku bersyukur kepada gubernur terdahulu Suwarna AF yang berhasil membangun stadion olahraga, mulai dari Stadion Utama Palaran Samarinda dan Stadion Madya Sempaja Samarinda dan sejumlah sarana olahraga lainnya, sehingga sampai saat ini rakyat Kaltim dapat memanfaatkan. Bahkan Kaltim mampu mencetak atlet daerah yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Menurut dia, jika melihat bangunan Stadion Barcelona dan Intermilan, ternyata tidak jauh berbeda dengan Stadion Palaran maupun Sempaja milik Kaltim. Tetapi, dari segi pengelolaan, pengembangan di dua stadion tersebut jauh lebih baik.

“Saya sudah mempelajari ketika melihat stadion Barcelona dan Intermilan. Karena itu, ke depan pengelolaan stadion yang dimiliki Kaltim di Samarinda harus dikelola secara profesional. Caranya, dengan menggandeng atau dikelola pihak swasta. Seperti apa yang dilakukan Barcelona dan Intermilan,” kata Awang Faroek Ishak.

Menurut dia, pengelolaan tersebut ke depan tidak perlu lagi dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD). Karena, sesuai pengalaman selama dibentuk kedua UPTD tersebut, khususnya di Stadion Utama Palaran dengan menggunakan alokasi anggaran APBD, ternyata belum sanggup mengelola dan memelihara dengan baik dua komplek stadion sebesar itu.

Hanya saja, untuk menyukseskan pengelolaan hingga pemeliharaan tersebut, terlebih dulu harus diketahui berapa jumlah luasan lahan aset yang dimiliki Pemprov Kaltim, sehingga ke depan pengelolaan tersebut lebih jelas penataannya.

“Jadi, aset tersebut harus jelas dulu. Karena itu, saya meminta kepada Biro Perlengkapan Setprov Kaltim untuk menyelesaikan itu, sehingga tidak menjadi permasalahan dikemudian hari. Sebab, lahan yang kini dimanfaatkan untuk sarana dan prasarana Stadion Utama Palaran oleh Pemprov Kaltim mencapai 80 hektare. Karena itu, masalah ini harus diselesaikan terlebih dulu,” jelasnya.

Perencanaan pengelolaan Stadion Utama Palaran harus dibuat ulang. Sehingga upaya untuk menjadikan Stadion Utama Palaran sebagai sarana olahraga sekaligus lokasi rekreasi bisa terwujud, sebagiaman yang dilakukan pada Stadion Barcelona dan Intermilan.

Bahkan, ketika di Barcelona maupun Intermilan, untuk masuk ke lokasi stadion itu saja sangat susah dan harus menunggu waktu yang lama, yakni berjam-jam. Karena, wisatawan maupun orang yang berkunjung ke sana harus mengantri ketika masuk lokasi stadion utamanya.

“Jadi, saya ingin Stadion Palaran ke depan, pengelolaannya sama dengan Barcelona maupun Intermilan. Kita ingin, ketika orang luar ke Kaltim atau Samarinda, mereka tidak lupa berkunjung atau melepas lelah di stadion ini. Walaupun hanya numpang foto selfie. Apalagi, ditambah dengan wisata kuliner hingga penjualan souvenir, tentu stadion ini akan ramai dikunjungan wisatawan nusantara maupun manca negara,” jelasnya.

Awang berharap pengelolaan hingga pemeliharaan stadion tersebut dilakukan pihak swasta. Karena itu, mulai tahun depan, diharapkan untuk mencari pengelola yang professional dapat dilakukan lelang terbuka melalui layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) ke seluruh Indonesia.

Pemprov Kaltim yakin, pengelolaan yang dilakukan terhadapa Stadion Barcelona bisa diterapkan di Kaltim. Hanya saja, semua pihak harus kompak dan bersama-sama membangun sarana dan prasarana olahraga ini. Artinya, pengelolaan stadion harus dilakukan secara profesional.

Menurut dia, jika mencontoh pengelolaan Stadion Barcelona, semua perangkatnya mulai dari pintu masuk hingga ke kantor-kantor di dalam Komplek Stadion Barcelona semua menggunakan komputer. Bahkan, tenaga kerja dalam komplek tersebut mencapai 1.500 orang karyawan.

“Menangani pemotong rumput saja, dilakukan khusus. Begitu pula dengan listrik termasuk karcis masuk stadion juga ada yang menangani. Bahkan, untuk pengamanan di dalam stadion, terdapat aparat kepolisian yang khusus menangani dari provinsi bukan negara,” jelasnya.(jay/es/hmsprov).

 

///FOTO : Stadion Utama Palaran.(dok/humasprov)

 

Berita Terkait
Government Public Relation