Pemprov Kaltim Bergerak Cepat Kembangkan Ekonomi Unggulan
BALIKPAPAN - Pemprov Kaltim bergerak cepat melakukan pengembangan sektor ekonomi unggulan berbasis ”Sumber Daya Alam Terbarukan”. Sementara itu pengelolaan Sumber Daya Alam tidak terbarukan, misalnya  minyak dan gas bumi serta hasil-hasil pertambangan lain  akan lebih difokuskan pada produk hilirnya yang memiliki daya saing dan bernilai ekonomi tinggi.
Langkah ini sejalan pula dengan Visi Kaltim 2013 yaitu ”Mewujudkan Kaltim Sebagai Pusat Agroindustri dan Energi Terkemuka Menuju Masyarakat yang Adil dan Sejahtera”. 
Hal tersebut dikemukakan Gubernur Kaltim dalam sambutan tertulis yang disampaikan Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan HM Sa’bani pada pembukaan Pertemuan Nasional Masyarakat Perlindungan Tumbuhan dan Hewan Indonesia (MPTHI) XI di Balikpapan, Rabu (21/8). Pertemuan dihadiri Menteri Pertanian, Suswono sekaligus membuka acara dan pakar lingkungan Prof Emil Salim. 
Diungkapkan, Kaltim dikenal sebagai provinsi yang dianugerahi Tuhan dengan sumber daya alam (SDA) yang cukup besar, namun tergolong SDA yang tidak terbarukan, berupa minyak dan gas bumi serta hasil-hasil pertambangan, yakni emas dan batu bara yang berkontribusi besar bagi pembangunan daerah dan nasional. 
”Potensi Migas dan batu bara akan terus berkurang dan suatu saat akan habis dan tidak lagi dapat diandalkan sebagai penopang utama pembangunan. Di sisi lain, SDA tidak terbarukan dampaknya juga akan sangat besar pada penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan kemiskinan,” katanya.
Pemerintah Provinsi Kaltim pada 30-31 Juli 2013 lalu menggelar Kaltim Summit II di Kota Balikpapan dengan mengangkat tema “Transformasi Ekonomi Pasca-Migas dan Batu Bara” sebagai langkah untuk merumuskan kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Kaltim 2014 – 2018, sekaligus untuk mewujudkan Visi Kaltim 2030 yaitu; “Pertumbuhan Kaltim Hijau yang Berkeadilan dan Berkelanjutan”.
Di hadapan sekitar seribu peserta se-Indonesia itu, HM Sa’bani mengatakan, Provinsi Kaltim memiliki kawasan hutan dan sumberdaya alam lainnya dengan aneka ragam jenis tumbuhan dan hewan (flora dan fauna) serta sangat potensial untuk usaha pertanian dan peternakan (agribisnis).
Namun belakangan ini, hutan Kaltim mendapat berbagai gangguan dan keragaman tumbuhan maupun hewan yang ada di dalamnya juga makin berkurang. ”Hal ini sedikit-banyaknya juga berdampak pada tumbuhan dan hewan yang sudah dikembangkan atau dibudidayakan oleh para petani dan peternak, sehingga mempengaruhi kelangsungan usaha yang mereka laksanakan,” katanya.
Diharapkan, melalui pertemuan MPTHI didapat rumusan-rumusan dan masukan yang berguna dalam upaya perlindungan tumbuhan dan hewan, sekaligus memanfaatkannya dengan baik untuk kesejahteraan petani dan peternak pada msayarakat umum.
Menteri Pertanian Suswono dalam amanat pembukaannya memberi apresiasi yang baik pada pertemuan Nasional MPTHI ini. ”Seiring dengan makin ketatnya persaingan di era perdagangan bebas dunia saat ini, maka mengharuskan kita memperkuat ketahanan pangan nasional. Jadi peran MPTHI sangat penting guna mewujudkan kemandirian pangan dan meningkatkan daya saing produk pertanian,” ujarnya. (ri/hmsprov).
 
//Foto : Asisten II Setprov Kaltim HM Sa’bani didampingi Menteri Pertanian Suswono menyerahkan penghargaan kepada para-pihak terkait usaha perlindungan tumbuhan dan hewan se-Indonesia.(harry/humasprov kaltim).
 
Berita Terkait
Government Public Relation