Pencegahan Kasus KDRT dan Anak

Sekolah di Kaltim Harus Lebih Peka

 

SAMARINDA – Tingginya kasus penganiayaan yang mengarah pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang korbannya adalah anak-anak menuntut kepedulian dan kepekaan masyarakat, termasuk aparatur sekolah terhadap siswa dan anak didik.

“Kepekaan masyarakat terlebih sekolah harus lebih tinggi guna mencegah terjadinya kasus KDRT bagi anak-anak,” kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kaltim Hj Ardiningsih didampingi Kabid PP dan PA Hardiana Muriani.

Menurut dia, kejadian yang menimpa Angeline yang mengakibatkan bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar di Bali itu meninggal dunia hendaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Padahal ujarnya, pihak sekolah sudah melihat ada indikasi yang tidak baik terjadi pada diri Angeline, sebab ditemukan luka tubuh yang tidak wajar namun tidak ditindak lanjuti. Sekolah juga diminta lebih peka, jika ditemukan ketertutupan pihak keluarga. Apalagi jika ditemukan banyak kejanggalan terhadap diri siswa didik di sekolah.

Karenanya, diharapkan masyarakat ataupun pihak sekolah apabila melihat atau menemukan prilaku maupun kondisi yang tidak wajar pada diri siswa didik atau warganya, maka segera melakukan komunikasi dengan pihak keluarga siswa.

“Sebab, anak itu hanya bisa keluar rumah saat sekolah. Jika menemukan hal-hal atau prilaku maupun kondisi yang tidak wajar pada diri siswa didik, maka segera tindaklanjuti,” harap Ardiningsih.

Namun lanjutnya, apabila saat berkomunikasi dengan pihak keluarga ternyata tidak ada respon atau mendapat perlawanan, maka sekolah dapat meminta bantuan lembaga terkait utamanya pusat pelayanan terpadu perlindungan perempuan dan anak (P2TP2A) bahkan pihak kepolisian.

“Kita pernah menangani kasus KDRT yang melibatkan anak sekolah. Namun, berkat kepekaan dan kepedulian pihak sekolah yang tinggi sehingga kekerasan terhadap anak sekolah itu dapat dicegah dan korban dapat diselamatkan,” ungkap Ardiningsih. (yans/sul/es/hmsprov).

Berita Terkait