Akademisi Motor Penggerak Ekonomi Berbasis Pengetahuan

Akademisi Motor Penggerak Ekonomi Berbasis Pengetahuan

 

SAMARINDA - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kaltim Dwi Nugroho Hidayanto mengatakan, akademisi menjadi aktor dalam pengembangan ilmu pengetahuan teknologi (Iptek). Akademisi menjadi motor penggerak ekonomi berbasis pengetahuan. 

Karena itu, berdasarkan kerangka pikir tersebut Pemprov Kaltim melalui Balitbangda pada 2014 ini memberikan insentif riset sekaligus menjaring peneliti-peneliti potensial dari perguruan tinggi negeri maupun swasta (PTN-PTS) di Kaltim dengan tujuan menyumbangkan keahlian dan kompetensi yang dimiliki, sehingga peran  akademisi sebagai salah satu penggerak inovasi iptek untuk landasan pembangunan daerah yang berkelanjutan dapat direalisasikan.

Interaksi antara perguruan tinggi, pemerintah serta industri sangat erat hubungannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan teknologi di daerah. Karena itu, pemerintah sebagai regulator, fasilitator, intermediator dan katalisator dalam pengembangan dan penguasaan iptek serta penciptaan pasar juga wajib mendukung hasil penelitian yang dilakukan para akademisi.

"Selanjutnya, pihak industri berperan sebagai ujung tombak inovasi dan pembangunan ekonomi nasional maupun daerah,” kata Dwi Nugroho Hidayanto usai membuka seminar hasil kajian penelitian terapan dosen PTN-PTS 2014 di Kantor Balitbangda Kaltim, Kamis (11/12).

Menurut dia, pengetahuan dan teknologi merupakan bagian dari upaya dan buah pemikiran bahwa peningkatan kapabilitas inovasi harus menciptakan suatu jaringan yang komprehensif antara sumber daya alam, kompetensi sumber daya manusia, regulasi dan daya dukung produksi inovasi dalam Sistem Inovasi Nasional (Sinas) maupun Sistem Inovasi Daerah (SiDA).

Karena itu, kemampuan suatu masyarakat bangsa untuk melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan salah satunya sangat bergantung pada kapabilitas bangsa tersebut dalam meningkatkan inovasi.

“Pemprov Kaltim berharap melalui penelitian yang dilakukan dapat memberikan masukan yang berarti kepada pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota agar turut memberikan sumbangsih pemikiran untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pembangunan daerah,” jelasnya.

Adapun beberapa penelitian yang telah dilakukan PTN/PTS di Kaltim, antara lain pengaruh pemberian ekstrak bawang tiwai dan daun salam serta pengujian bakteri dalam bentuk sediaan pasta gigi dari Akademi Farmasi Samarinda, produk olahan emulsi labu dan minyak sawit untuk intervensi balita kurang vitamin A di Kaltim dari Unmul dan yoghurt herbal penurun glukosa darah dari Fakultas Farmasi Unmul. (jay/sul/hmsprov)    

//Foto: Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak mengamati hasil olahan berbahan baku sawit. (dok/humasprov kaltim).

 

Berita Terkait
Government Public Relation