Kalimantan Timur
Awang Faroek Ishak dalam Buku "Teladan Dari Timur"

Ilmuwan terkemuka dunia, Albert Einstein pernah mengatakan, bahwa seseorang tidak mungkin mampu memecahkan masalah yang dihadapi saat ini dengan menggunakan cara berpikir yang sama dengan saat masalah itu dibuat. Maknanya, setiap pemecahan masalah membutuhkan paradigma baru, visi baru dan strategi baru.
Kemudian Osborn, pengarang buku kepemimpinan mengidentifikasi tiga hal mendasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar sukses melakukan perubahan, yakni kecerdasan, keberanian dan empati. Kecerdasan diperlukan setiap pemimpin  untuk mengidentifikasi masalah dan menemukan pemecahan masalah, sementara keberanian seorang pemimpin sangat diperlukan karena setiap  keputusan akan selalu berhadapan dengn resiko gagal yang sama besarnya dengan resiko sukses.
Selanjutnya, untuk satu perubahan positif, kedua hal diatas belumlah cukup. Seorang pemimpin juga harus memiliki empati. Empati itulah yang menggerakkan seorang pemimpin untuk membantu masyarakat yang dipimpinnya untuk memecahkan masalah.
Demikian  beberapa baris kalimat dari  sekian panjang untaian alenia yang ditulis Gubernur Kalimantan Timur, Dr H Awang Faroek Ishak dalam karya buku terbarunya yang dilaunching di Hotel Mulia Jakarta, Selasa (26/11). Buku tersebut berjudul  “Teladan Dari Timur”.
Dalam buku terbaru setebal 354 halaman tersebut, Gubernur Awang Faroek Ishak mengupas lengkap permasalahan yang dihadapi Kaltim dan perubahan-perubahan yang berhasil dilakukan sepanjang periode pertama kepemimpinannya (2008-2013).
“Ketika pertama kali memimpin Kaltim sebagai provinsi yang kaya minyak, gas dan batu bara, ditambah lagi dengan potensi kehutanan, pertanian dan perikanan yang sangat besar, saya menemukan situasi yang sangat kontras dengan kondisi masyarakat Kaltim yang masih banyak miskin, lingkungannya rusak, pembangunan manusianya masih terbelakang, infrastruktur dasar masih minim dan lainnya,” tulis Awang Faroek dalam bukunya.
Predikat Kaltim yang serba fantastis untuk urusan daerah kaya dengan sumber daya alam, ternyata tidak sebanding dengan kesejahteraan masyarakatnya, apalagi jika membandingkan dengan Jawa dan Sumatera.  
Pendapatan perkapita sebagai total output perekonomian Kaltim (Produk Domestik Regional Bruto/PDRB dengan migas) dibagi jumlah penduduk memang lebih besar dibanding PDRB perkapita penduduk Jawa.  Tapi persentase kemiskinan penduduk Kaltim ternyata jauh lebih tinggi.
Saat itu, Awang Faroek memandang bahwa Kaltim sedang mengalami gejala, growth without development (tumbuh tanpa pembangunan) alias pertumbuhan tinggi, tapi penikmatnya lebih banyak orang luar Kaltim.
“Growth oriented hanya menghasilkan keterbelakangan. Ini yang saya coba lakukan perubahan dalam lima tahun kemarin. Hasilnya memang tidak instan, tapi saya akan terus lakukan perubahan ini untuk generasi mendatang, untuk Kaltim yang lebih maju berdaya saing dan tidak lagi bergantung pada batu bara dan migas karena masa depan kita sesungguhnya ada di pertanian,” kata Awang Faroek usai peluncuran buku yang dihadiri sekitar 2.000 undangan tersebut.
Berangkat dari pemikirannya itu, Gubernur Awang Faroek lalu membawa dua jargon penyemangat yakni, “Kaltim Bangkit” dan “Membangun Kaltim Untuk Semua”. Makna dari kedua jargon ini, kurang lebihnya serupa dengan komentar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan sejumlah proyek MP3EI di Kaltim, Oktober 2012 lalu.
Bahwa Kaltim saat ini bagaikan raksasa yang selama ini tertidur pulas, yang kemudian terbangun dan bukan hanya berdiri, tetapi sudah berlari semakin kencang, semasa kepemimpinan Gubernur Awang Faroek.
Sedangkan “Membangun Kaltim Untuk Semua”,  kental dengan makna, bahwa seorang Awang Faroek Ishak adalah sosok pemimpin yang sungguh-sungguh mengayomi rakyat, tanpa membedakan suku, agama, ras dan antargolongan serta pandangan politik atau apapun.
Semua rakyat Kaltim, di perkotaan, pedesaan, daerah pedalaman, terpencil dan perbatasan, semua harus menikmati kue pembangunan secara adil dan merata. Gubernur Awang Faroek Ishak telah mengimplementasikan semua pikiran-pikirannya itu dalam program-program pro rakyat sepanjang lima tahun yang lalu.
“Program-program yang baik akan terus kita lanjutkan, yang kurang baik akan kita sempurnakan dan semunya hanya untuk kesejahteraan rakyat Kaltim. Mimpi saya, Kaltim akan menjadi provinsi terbaik di luar Jawa. Sumber daya alam kita boleh berkurang, tapi kualitas sumber daya manusia kita harus lebih meningkat,” ujar Awang Faroek.
Buku Gubernur Awang Faroek ini, sekaligus menjadi penguat dan penyemangat daerah-daerah khususnya dari Kawasan Timur Indonesia, agar pemerintah pusat perlu lebih banyak memberikan perhatian kepada daerah di Kawasan Timur Indonesia.
Sejumlah masterplan pengembangan kawasan industri baik di Balikpapan maupun di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy menegaskan bahwa penguatan ekonomi negara juga harus dilakukan di sisi tengah dan timur Indonesia.
“Kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini ditopang oleh kekuatan 34 provinsi yang menjadi pilarnya. Jika kesejahteraan masyarakat terbangun di semua provinsi maka disintegrasi bangsa tidak akan pernah ada sebab bangsa ini justru akan semakin kuat dan kokoh,”  tegas Awang. (sul/hmsprov)

///FOTO : Dr H Awang Faroek Ishak menyerahkan buku kepada Anwar Nasution pada launching buku berjudul  “Teladan Dari Timur” dan “Awang Faroek Ishak Di Mata Para Sahabat”.(samsul/humasprov kaltim)


 

Berita Terkait