Awang Faroek Sampaikan Hasil Pembangunan untuk Kesejahteraan Rakyat

Dialog Interaktif RRI Samarinda “Gubernur Menyapa”


SAMARINDA – Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak mengatakan, selain pembangunan infrastruktur, pertanian dan energi, pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas merupakan salah satu prioritas pembangunan. Pembangunan SDM dilakukan salah satunya dengan meningkatkan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, pengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja.
Sektor pendidikan, menurut Awang Faroek, Pemprov telah melaksanakan program Kaltim Cemerlang (Cerdas, Merata dan Prestasi Gemilang), dengan sejumlah programnya yaitu wajib belajar (Wajar) 12 tahun, kemudian memenuhi alokasi anggaran pendidikan 20 persen dari APBD.
“Dengan program Kaltim Cemerlang, Kaltim berada pada papan atas peringkat nasional untuk sektor pendidikan. Angka rata-rata lama sekolah (8,9 tahun) dan angka melek huruf (96,89) di Kaltim, yang merupakan tertinggi untuk wilayah Kalimantan. Kita sudah berada di atas rata-rata nasional. Indikator ini yang menilai bukan kita, tetapi dari pusat termasuk BPS,” ungkap Awang Faroek, pada Dialog Interaktif RRI Samarinda “Gubernur Menyapa” dengan tema Hari Pendidikan Nasional dan menyongsong Hari Kebangkitan Nasional, di Lamin Etam, Ahad (12/5) pagi.
Dijelaskan, berdasarkan hasil survei 85 persen masyarakat Kaltim menyatakan kepuasannya untuk pembangunan sektor pendidikan di Kaltim. Karena memang terjadi peningkatan kualitas pendidikan di Kaltim, yang dapat dilihat dari indikator lainnya, yakni Angka Partisipasi Kasar (APK) 2012, yakni SD/MI (110,38 persen), SMP/MTs (97,62 persen) dan SMA/MA (73 persen).
Selain itu,  keputusan pemerintah yang tidak melanjutkan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di daerah, tidak menghentikan upaya Pemprov Kaltim mencetak SDM yang unggul dan berkualitas. Pemprov telah mengambil kebijakan untuk tetap mengembangkan sekolah unggulan yang berbeda dengan di pulau Jawa dan tempat lain, karena siswa-siswi Kaltim dibiayai seluruhnya oleh pemerintah.
“Di sekolah unggulan ini tidak hanya masyarakat eksklusif saja yang bisa menikmati, tetapi anak-anak dari keluarga tidak mampu juga dapat merasakannya.  Syaratnya harus cerdas. Mereka akan dibiayai penuh oleh Pemprov. Jadi siswa-siswi hanya belajar dan belajar untuk mendapatkan hasil yang terbaik,” tegas Awang.  
Pemprov dalam kurun waktu empat tahun terakhir telah memberikan insentif sebesar Rp300 ribu bagi setiap guru dan mendorong Pemerintah Kabupaten/Kota melengkapinya hingga insentif guru minimal Rp1 juta untuk setiap guru perbulan. Pemprov juga terus berupaya untuk meningkatkan kompetensi dan kualifikasi guru menjadi minimal berpendidikan S1 dan S2. Dan saat ini lebih dari 51,99 persen guru-guru di Kaltim sudah menempuh pendidikan S1.
Pemprov juga telah mengalokasikan anggaran untuk Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) bagi siswa di setiap jenjang pendidikan. Awang Faroek mengakui untuk pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang masih rendah, Pemprov membantu melalui tutor PAUD, yang dimulai pada 2012 dengan alokasi Rp19,2 miliar.
“Dan yang terbesar adalah pemberian Beasiswa Kaltim Cemerlang kepada lebih dari 30 ribu penerima dengan ratusan miliar rupiah setiap tahun  yang telah disalurkan. Hal itu dimaksudkan untuk mempersiapkan dan mencetak generasi masa depan Kaltim yang andal dan berkualitas sehingga mampu bersaing dengan tenaga kerja dari luar negeri di era globalisasi,” ucapnya.
Awang Faroek mengatakan keberhasilan pembangunan sektor pendidikan di Kaltim merupakan hasil kerja bersama jajaran eksekutif, legislatif dan yudikatif yang juga didukung oleh TNI dan Polri, dunia usaha, LSM serta masyarakat.
Kedepan, Awang Faroek berharap ada terobosan-terobosan baru. Dirinya mengatakan akan memberikan instruksi kepada setiap bupati/walikota hingga camat dan lurah untuk mendirikan Posko Anti Putus Sekolah (Drop Out). Sehingga tidak boleh ada putra-putri Kaltim yang putus sekolah.
“Bagi siapa saja, baik bagi bupati/walikota, camat, lurah, kepala desa atau siapapun yang menemukan ada anak-anak yang hampir putus sekolahnya, harus dilaporkan ke Posko Anti Putus Sekolah, untuk segera ditindaklanjuti,” tegasnya.
Selain itu, yang terpenting menurut Awang Faroek adalah buku pelajaran gratis yang mulai akan diberikan pada awal tahun ajaran 2013/2014. Untuk anggaran, ujar Awang, sudah diusulkan sebesar Rp49,6 miliar pada APBD Perubahan 2013 untuk pengadaan buku bagi para siswa-siswi yang berdasarkan perhitungan jumlahnya sekitar 2.545 orang.
“Saya banyak mendapatkan keluhan terkait dengan buku pelajaran yang mengakibatkan banyak pungutan-pungutan yang diambil oleh sekolah. Tentu saja itu memberatkan orang tua. Buku pelajaran gratis yang diberikan akan dicetak di daerah, dan akan dilelang secara terbuka melalui LPSE. Ini juga dalam rangka memberdayakan perusahaan di daerah,” jelasnya.
Awang Faroek berharap dialog interaktif antara pemerintah dengan masyarakat melalui media elektronik seperti RRI Samarinda dan TVRI Kaltim terus dilanjutkan. Karena menurut dia, pada dialog interaktif saran dan kritik yang masuk merupakan masukan yang murni dari masyarakat dan tidak ada tendensi politik di belakangnya. (her/hmsprov).

/////Foto : Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak berdialog dengan masyarakat melalui siaran RRI Samarinda yang dipandu penyiar RRI M. Marisi.(fajar/humasprov kaltim)


 

Berita Terkait
Government Public Relation