Awang: Kita Tidak Ingin di Kaltim Terjadi Kelangkaan BBM

Tingkatkan Komunikasi dan Koordinasi Pusat-Daerah

JAKARTA – Kaltim dikenal begitu kaya dengan sumber daya energi, namun kondisi yang terjadi malah sebaliknya. Kaltim saat ini masih kekurangan energi baik listrik maupun bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini juga membuat pemerintah daerah berkali-kali meminta pemerintah pusat untuk mengatasi permasalahan pasokan energi bagi Kaltim.

Hal itu diungkapkan Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dalam dialog Metro TV di sela Indonesia Investasi Forum 3 di Hall Cendrawasih Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (21/1).

“Kondisi yang terjadi sekarang ya seperti itu. Kita ingin pusat bertindak adil. Sebagai daerah penghasil sumber energi, kita tidak ingin di Kaltim ataupun Kalimantan secara keseluruhan terjadi kelangkaan BBM ataupun kekurangan pasokan listrik,” ungkap Awang Faroek.

Menurut dia, memang masa sekarang ini pemerintah pusat melalui program Masterplan Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), menjadi salah satu harapan besar bagi masyarakat daerah, khususnya di luar Pulau Jawa untuk membangun daerahnya. Kaltim bersama empat provinsi lainnya masuk dalam Koridor Ekonomi Kalimantan III.

   “Koridor III adalah lumbung energi. Jika sebagai lumbung energi ya betul-betul energi itu bisa dibangun di Kalimantan. Jangan hanya diambil sumber energinya saja tapi tidak kebagian apa-apa,” jelasnya.Awang Faroek meminta kepada pemerintah pusat untuk segera melakukan pembatasan ekspor batu bara.

Meskipun saat ini yang sudah dibatasi adalah baru untuk ekspor mineral, namun Awang Faroek optimis untuk batu bara segera terjadi.

“Batu bara harus dibatasi, tidak semuanya diekspor, harus diolah didalam negeri. Karena batu bara bisa dimanfaatkan untuk fertilizer (pupuk), ethanol, amonium nitrat, kita juga bisa bangun power plant besar dengan batu bara sebagai bahan bakarnya,” ucap Awang.

Diakui, ada beberapa hal yang kerapkali menjadi hambatan pembangunan di daerah, yakni kurangnya komunikasi dan koordinasi dari pusat ke daerah maupun dari daerah ke daerah lainnya. Koordinasi sangat penting. Presiden, sebutnya, telah memerintahkan untuk menghilangkan debottlenecking pembangunan, jika perlu dibuatkan regulasinya.

“Namun kenyataannya, pada tingkatan pemimpin diatas ya, tetapi setelah turun kebawah di situ ada masalah. Ada egoisme sektoral di masing-masing sektor. Itu kadang-kadang yang membuat kita jengkel. Urusan yang seharusnya bisa diselesaikan satu bulan, bisa jadi setahun. Bayangkan saja jika ada investor yang ingin menanamkan modalnya dan harus menunggu waktu selama itu,” urainya.

Sedangkan terkait tahun politik pada 2014 ini, dimana akan berlangsung Pemilu Legislatif pada April dan menyusul Pemilihan Presiden (Pilpres), Awang Faroek pun memberikan komentar.“Harapan saya adalah seorang pemimpin yang bisa membuat the strong government (pemerintah yang kuat). Siapa saja calonnya yang penting bisa membuat Indonesia lebih maju lagi, masyarakatnya semakin sejahtera,” harapnya. (her/hmsprov).

//Foto: Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dalam dialog Metro TV. (heru/humasprov kaltim).

Berita Terkait
Government Public Relation