AWS Miliki MRI Pertama di Indonesia

Mulai Difungsikan Maret Ini

SAMARINDA- Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie (RSUD-AWS) Samarinda sejak tahun ini memiliki alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk alat diagnostik terkini dengan menggunakan medan magnet memeriksa bagian tubuh tanpa pembedahan yang merupakan pertama di Indonesia.

Alat tersebut, didatangkan dari Amerika yang berkekuatan 1,5 tesla (satuan intensitas magnetik). Alat ini tergolong paling canggih. Kata Usman, sejauh yang dia tahu MRI di Kaltim kecepatannya  belum ada yang mencapai 1,5, 32 channel digital.

“Alat ini sejak Senin 10 Maret 2014 sudah mulai difungsikan. Bahkan, saya telah mencoba alat tersebut sebagai pasien. Alhamdulillah bisa digunakan dengan baik dan apa yang menjadi keluhan masyarakat, tentang kondisi dalam kepala bisa diketahui, apakah ada penyempitan pembuluh darah atau tidak. Apalagi alat tipe yang kita miliki satu-satunya di Indonesia,” kata Direktur RSUD AWS dr H Rachim Dinata Marsidi di Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (11/3).

Dia mengimbau masyarakat bisa memanfaatkan alat tersebut. Sesuai dengan rujukan dokter. Memang, sebelumnya alat tersebut masih dalam percobaan. Tetapi, sejak Senin (10/3) sudah bisa difungsikan.

Melalui alat tersebut, masyarakat atau pasien yang diperiksa bisa mengetahui secara jelas bagaimana kondisi yang terjadi di dalam kepala. Bahkan laser dari MRI yang digunakan sudah bisa difungsikan.

“Alat ini bisa digunakan untuk mengetahui kelainan syaraf di tulang belakang hingga ke otak, penyumbatan pembuluh darah bisa diketahui. Jadi, semua bisa difungsikan dan masyarakat bisa melihat langsung apakah ada yang tersumbat atau tidak pembuluh darahnya atau terputus,” jelasnya.

Menurut dia, tipe alat ini baru AWS yang memiliki. Karena, biasa yang digunakan rumah sakit ternama di Indonesia hanya mencapai 18 hingga 19 channel digital. Bahkan, alat serupa juga akan di rumah sakit di Jakarta, yakni Rumah Sakit Abdi Waluya.

Dokter yang memeriksa pasien merupakan dokter dari AWS. Karena, alat ini hanya bertujuan untuk membaca kelainan syaraf yang terjadi pada pasien. “Hasilnya bisa dilihat dalam bentuk CD dan film,” jelasnya.

Mengenai biaya untuk pemeriksaan tersebut memang tergolong mahal, namun bisa digunakan dalam jaminan BPJS. Tetapi, pemeriksaan tersebut sesuai dengan rujukan dokter di praktek atau di rumah sakit.

“Alat tersebut digunakan di ruang radiologi. Tetapi, semua itu berdasarkan rujukan dari dokter spesialis,” jelasnya.

Menurut dia, pengoperasian alat tersebut bagian dari program kerja AWS dalam mewujudkan kinerja yang baik menuju 100 hari kerja Gubernur Kaltim dan Wagub Kaltim.(jay/hmsprov)

//Foto: BERSAMA DOKTER. Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak berbincang dengan dokter RSUD A Wahab Sjahranie. (jaya/humasprov kaltim).

 

Berita Terkait