Balitbang Kemenhan RI Kunjungi Kaltim

Bahas Pertahanan Negara

SAMARINDA- Memiliki kekayaan alam yang besar dengan keanekaragaman hayati merupakan modal dasar bagi pembangunan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Kaltim. Kekayaan yang besar dan berlimpah ini tentu sangat bermanfaat terutama dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik di sektor pertanian, pangan, industri dan kesehatan serta bidang lingkungan.

Namun sebaliknya, dengan adanya kemajuan teknologi, keanekaragaman hayati juga bisa berdampak menjadi salah satu ancaman bagi pertahanan Negara bila mana potensi keanekaragaman hayati ini disalagunakan.

“Hal tersebut akan menjadi suatu ancaman bagi pertahanan Negara, mengingat salah satu bahan baku penggunaan senjata biologi atau agensia biologi berasal dari keanekaragaman hayati,” kata Kepala Balitbangda Kaltim Prof Dr H Dwi Nugroho Hidayanto ketika pertemuan dan kunjungan peneliti Balitbang Kementerian Pertahanan RI di kantor Balitbangda Kaltim Jalan MT Haryono Samarinda baru-baru ini.

Selain itu, lanjut dia, pertemuan dan kunjungan Balitbang Kemenhan RI ke Kaltim dalam rangka mengkaji bagaimana sumber daya alam Kaltim dapat mendukung ketahanan Nasional. Menurut dia, ketahanan nasional bukan berarti hanya tugas dan tanggung jawab seorang tentara atau TNI, tapi ada ancaman lain di luar militer yang harus dihadapi dan menjadi tanggung jawab bersama, seperti melemahnya kondisi alam, terjadinya degradasi lingkungan, musnahnya hutan, hilangnya berbagai satwa dan lain sebagainya.

Semua itu terjadi tanpa disadari. Karena itu, melalui kunjungan Balitbang Kemenhan ke Balitbangda Kaltim  dapat memberikan informasi  dan bagaimana mendukung ketahanan nasional di Kaltim dari ancaman Agensia Biologi.

Kepala Litbang Kemenhan Mayor Inf Sudarsono mengatakan pemanfaatan kekayaan alam yang baik juga menjadi alasan pemerintah untuk mempertahankan keamanan Negara, sehingga tidak disalahgunakan bangsa lain di daerah ini.

Menurut dia, ancaman yang paling penting diperhatikan adalah penggunaan potensi keanekaragaman hayati berupa “Agensia Biologi” penyakit menular atau racun yang dapat digunakan dalam bioterorisme melalui hewan dan tanaman sebagai bahan baku senjata biologi.

“Sasaran dari penggunaan senjata biologi atau pemusnah massal itu berdampak sangat hebat dan luas, menyentuh segala aspek kehidupan. Penggunaannya pun sulit diprediksi dan ditangani,” jelasnya.

Masalah tersebut tentu sangat mengganggu stabilitas keamanan di daerah. Karena itu, dia  menyarankan agar pengelolaan keanekaragaman hayati di Kaltim hendaknya diolah dengan suatu sistem pengamanan yang komprehensif dimana banyak Negara di dunia dan organisasi kesehatan dunia WHO menyebutnya dengan sebutan biosecuriti dan biosafety untuk kepentingan biodefence atau pertahanan Negara.

Di Indonesia biosecuriti dan biosafety masih dilakukan atas kepentingan sektoral sesuai bidang dan kepentingan berdasarkan persepsi masing-masing. Ke depan, Balitbang Kementerian Pertahanan melakukan upaya membangun sinergitas dalam pelaksanaan biodefence sebagai pencegahan terhadap bioterorisme.     

Untuk pelaksanaan biodefence tersebut, maka perlu adanya penyelarasan tugas dan fungsi masing-masing pemangku kepentingan untuk dapat mewujudkan suatu wadah koordinasi yang disepakati bersama.

Diharapkan permasalahan biodefence dapat menjadi sumbangan pemikiran yang melahirkan sebuah solusi pemikiran tentang mekanisme koordinasi terpadu dalam meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman penyebaran “Agensia biologi” yang membahayakan pertahanan negara. (jay/sul/hmsprov)

Berita Terkait
Government Public Relation