Bandara Sepinggan Balikpapan Dibangun Berkat Restu Sultan AM Sulaiman

Usulan rencana penambahan nama Bandara Sepinggan Balikpapan menjadi Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan tentu tidak begitu saja diajukan tanpa alasan yang kuat. Sebagian kalangan masih menolak rencana penambahan nama tersebut, tapi sebagian besar kelompok lainnya memberikan apresiasi tinggi atas rencana tersebut.
Selain telah meningkatkan kualitas pelayanan Bandara dengan sejumlah pengembangan yang semakin baik, modern dan lebih nyaman bagi para pengguna jasa Bandara, penambahan nama tokoh penting di Kaltim itu sekaligus akan membangkitkan kesadaran warga Kaltim untuk selalu mengingat dan mengenang jasa-jasa para leluhur.
HAB Abd Rachim gelar Pangeran Ratu Kesuma dari Lembaga Budaya Adat Kutai mencoba berbagi catatan tentang sejarah pembangunan Bandara Sepinggan Balikpapan, yang dibangun pada era Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dipimpin Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899) agar lebih banyak diketahui masyarakat Kaltim.   Berikut ini adalah singkat tulisan tentang sejarah hingga dibangunnya Bandara Sepinggan.
Pada 6 April 1844 Armada Belanda di bawah pimpinan t’Hooft menyerang Kota Tenggarong, Mesjid Agung, Istana Sultan. Ratusan rumah dibumi hanguskan. Sultan Salehuddin (1816 – 1845) dengan sangat terpaksa menandatangani kontrak politik yang diajukan dan ditandatangani Wakil Pemerintah Hindia Belanda Arnoldus Laurens Weddik, yang mengakui Pemerintah Hindia Belanda sebagai penguasa di seluruh Kesultanan Kutai.
Selanjutnya, pengganti Aji Muhammad Salehuddin,  Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899) dan assisten Resident Evaartd Hoppe pada tahun 1873 menanda tangani kembali kontrak politik disebut Lange Contract yang menyatakan bahwa status pemerintahan di Kutai bersifat Zeef Besrtaur atau berpemerintahan sendiri (otonom).
Karena itu pada 1894 Sultan Aji Muhammad Sulaiman memberikan hak menambang yang disebut Konsesi Pertambangan Minyak kepada Bataafsche Petroleum Maztshappy (BPM) di Balikpapan.
Pada salah satu ketentuan itu berbunyi: "Satu-satunya yang menguasai hak atas tanah adalah Kerajaan Kutai Kertanegara, termasuk hasil dalam tanah dan diatas tanah". Karena itu pada waktu BPM ingin melaksanakan pembangunan lapangan terbang di Balikpapan (Bandara Sepinggan Balikpapan), terlebih dulu meminta restu dari Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Itu artinya, pendirian Bandara Sepinggan Balikpapan kala itu, juga tidak lepas dari "restu" dan "ijin" Sultan Aji Muhammad Sulaiman.
Sedangkan kata Sepinggan dalam Bahasa Kutai berasal dari kata se berarti satu dan pinggan berarti piring. Jadi Sepinggan, berarti satu piring atau sepiring. Karena letaknya di kawasan Sepinggan, maka lambat laun masyarakat memberi nama lapangan terbang tersebut dengan  Lapangan Terbang Sepinggan atau sekarang disebut dengan Bandara Sepinggan Balikpapan.
"Di zaman Indonesia merdeka lapangan-lapangan terbang umumnya diberi nama para  leluhur atau tokoh-tokoh yang berjasa atau berkuasa pada waktu itu. Sebab itulah kami mendukung perubahan nama Bandara Sepinggan Balikpapan menjadi Bandara  Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan," kata Abd Rachim. (sul/hmsprov).
 

Berita Terkait