Bangun Konektivitas Buka Keterisolasian Wilayah

Dari Arena Kaltim Summit II - 2013


Kalimantan Timur memiliki keunggulan geostrategis karena berada pada jalur  transportasi internasional, berbatasan dengan Selat Makassar dan Laut Sulawesi, yang merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI-II) yang menghubungkan daerah Utara (Philipina) ke arah Selatan (Samudra Hindia).
Keunggulan tersebut harus dapat benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Kaltim, khususnya untuk pengembangan sektor transportasi sebagai sarana penggerak perekenomian masyarakat. Sektor transportasi di Kaltim mengalami perkembangan signifikan dari tahun ke tahun.
Pertumbuhan sektor transportasi di Kaltim pada periode 2011-2013 merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan tiga provinsi lainnya di Pulau Kalimantan. Pada 2011 pertumbuhan sektor trasnportasi mencapai 5,77 persen. Sedangkan pada 2012 meningkat menjadi 8,4 persen dan pada triwulan I 2013 mencapai 5,16 persen.
Hal itu, menurut Staf Ahli Menteri Perhubungan Budi Mulyadi, menunjukkan perkembangan sektor transportasi di Kaltim juga memberikan kontribusi cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi Kaltim, meskipun masih dipengaruhi oleh dominasi sektor pertambangan dan migas.
Sektor pengangkutan (transportasi) bersama komunikasi memberikan kontribusi 11,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2011. Pada 2012 kontribusi menurun menjadi sekitar 10,25 persen. Sedangkan pada triwulan I 2013 kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap pertumbuhan ekonomi Kaltim sudah mencapai 7,61 persen.
Mengingat pentingnya sektor transportasi dalam memajukan perekonomian kerakyatan, Pemprov perlu melakukan kebijakan pengembangan transportasi di Kaltim seiring dengan Visi Kaltim Maju 2030 “Transformasi Ekonomi Setelah Migas dan Batu Bara”. Hal yang harus dilakukan diantaranya penyediaan infrastruktur transportasi, pengembangan infrastruktur transportasi di perbatasan (komersil).
Selanjutnya, peningkatan aksesibilitas dari sentra produksi menjadi wilayah  pemasaran, pembukaan simpul transportasi, pengembangan transportasi short sea shipping(pengembangan transportasi laut berbasis batas pantai) dan pengembangan jalur penerbangan commuter.
Guna merealisasikan hal tersebut, Pemprov juga harus memperhatikan isu strategis yang berkembang terkait sektor transportasi di Kaltim, berupa keterbatasan sarana trasnportasi yang menyebabkan keterisolasian wilayah, keterbatasan suplai energi dan tenaga listrik, serta perkeretaapian batu bara.
Isu strategis lainnya adalah rencana rute pelayaran Ro-Ro pada ASEAN Connectivity yang melintasi Sandakan (Sabah)-Tarakan (Kalimantan)-Pantoloan (Sulawesi). Pengembangan pelabuhan internasional Balikpapan, yaitu Terminal Peti Kemas Kariangau. Pengembangan kapasitas pelabuhan internasional Maloy. Rencana relokasi pelabuhan Balikpapan. Sarana dan prasarana di perbatasan dengan Malaysia.
Karena itu, Pemprov harus fokus pada pengembangan transportasi guna membangun konektivitas intra koridor (inter connectivity), konektivitas antar koridor (national connectivity) dan konektivitas global (global connectivity).
Hal itu juga seiring dengan rencana pengembangan sarana dan prasarana pulau Kalimantan dalam program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Dimana Kalimantan ditetapkan sebagai koridor III ekonomi sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang serta lumbung energi.
Sedangkan untuk Kaltim, terdapat tiga lokus utama MP3EI, yaitu Lokus 1 (Kutai  Timur dan Bontang) fokus pada pengembangan bauksit, alumina, kelapa sawit, batu bara dan perkayuan. Lokus 2 (Balikpapan dan Dsk) fokus pada kelapa sawit, migas dan perkayuan. Lokus 3 (Rapak dan Ganal) fokus pada migas.
Mendukung program MP3EI di Kaltim, perlu dilakukan pembangunan sarana dan prasarana transportasi, diantaranya pengembangan kapasitas Pelabuhan Maloy, pengembangan Pelabuhan Kariangau, pembangunan fasilitas Pelabuhan Penajam Paser Utara dan Kuala Samboja.
Selanjutnya, pengembangan Pelabuhan Tanah Grogot. Percepatan pembangunan Bandara Samarinda Baru (BSB) untuk mendukung pengembangan destinasi wisata Pulau Parai Kumala di Tenggarong. Pengembangan terminal dan fasilitas penunjang Bandara Sepinggan Balikpapan. (heru renaldy/hmsprov).

///Foto : Pengembangan Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk meningkatkan sarana transportasi di Kaltim.(fadli/humasprov kaltim)


 

Berita Terkait
Government Public Relation