Bedah Caesar untut Tangani Gangguan Reproduksi Hewan

SAMARINDA–Setiap tenaga kesehatan hewan, baik dokter hewan maupun medik veteriner dan paramedic harus memiliki pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dalam penanganan reproduksi hewan ternak.

“Gangguan reproduksi pada hewan ternak akan menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi. Perlu penanganan yang tepat  dan karena itu dibutuhkan tenaga-tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik pula untuk penanganannya,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan drh Edith Hendartie saat mewakili Kepala Dinas Peternakan Kaltim H Dadang Sudarya pada pelatihan Bedah Caesar Ternak Sapi di Kelompok Usaha Peternakan Terpadu Kelompok Tani Maju Bersama Sei Siring, Rabu (8/5).

Penanganan gangguan reproduksi hewan ternak ini sangat komplek, namun kondisi ini belum diimbangi dengan jumlah tenaga kesehatan hewan yang memadai. Hingga saat ini di Kaltim jumlah tenaga kesehatan hewan hanya 40 orang.

Jumlah tenaga kesehatan ini sangat kontras dengan jumlah kecamatan yang harus dilayani.  Idealnya satu kecamatan tersedia seorang dokter dibantu dua orang medic atau paramedic veteriner (pendidikan Keswan D3).  Sehingga minimal dalam satu kecamatan tersedia tiga orang petugas kesehatan hewan. Padahal, di Kaltim terdapat 146 kecamatan yang berarti jumlah petugas kesehatan hewan dengan wilayah yang harus dilayani masih sangat jauh dari harapan.

Perlu dukungan dan komitmen semua pihak baik provinsi maupun kabupaten dan kota untuk menambah jumlah tenaga kesehatan hewan tersebut.  “Perlu komitmen pemerintah daerah meningkatkan perekrutan tenaga kesehatan agar kekurangan kuantitas tenaga kesehatan bisa segera terpenuhi. Sementara Disnak Kaltim akan terus berupaya meningkatkan kualitas mereka agar lebih terampil dalam penanganan gangguan reproduksi hewan milik peternak,” jelas Edith Hendartie. 

Sementara itu praktisi hewan besar yang juga Kabid Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur drh Heru Rachmadi mengemukakan setiap petugas kesehatan hewan harus memiliki keterampilan untuk mendukung kegiatan mereka sehari-hari.

“Pengetahuan dan keterampilan setiap petugas Keswan sangat menentukan kualitas pelayanan untuk menunjang produktivitas hewan ternak. Misalnya, berani melakukan bedah caesar terhadap hewan ternak yang mengalami stokia (kesulitan melahirkan) maupun penanganan gangguan reproduksi lainnya,” ungkap Heru Rachmadi. (yans/hmsprov)

Foto: BEDAH CAESAR. Praktisi hewan besar Heru Rachmadi (kanan) pada praktek penanganan gangguan reproduksi hewan ternak melalui bedah Caesar. (masdiansyah/humasprov kaltim)

Berita Terkait
Government Public Relation