Belajar dari Sejarah untuk Bersama Memahami

Dari Kunjungan FKUB Provinsi Kaltim ke Banten

SERANG. Kehidupan umat beragama di Indonesia semakin harmonis yang ditunjukkan dengan tingginya toleransi dalam kehidupan sehar-hari. Kondisi demikian harus terus ditingkatkan jika tidak menjadi masalah rumit yang bisa berujung pada konflik yang menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kesadaran demikian setidaknya menjadi alasan sebanyak 26 orang para pemuka agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kaltim melakukan kunjungan kerja ke FKUB Provinsi Banten pada 31 Maret sampai 1 April 2015 lalu.

Tampak dalam kunjungan itu Ketua FKUB Kaltim Drs H Asmuni Alie, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Kaltim Drs H Saifi MPd yang juga Wakil Ketua II Dewan Penasihat FKUB Kaltim dan Karo Kesra Pemprov Kaltim Ir H Syafrian Hasani MM, serta para pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

Sementara itu, dalam kunjungannya FKUB Kaltim menyempatkan diri berdialog dengan Ketua Umum Forum Komunikasi Umat Beragama Pusat, Ahmad Mubaroq di Jakarta, sedangkan di Banten diterima Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Banten Irfan Santoso dan Ketua FKUB Banten Prof Suparman Usman di ruang pertemuan Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B).

Kehadiran FKUB Kaltim di Banten juga ditandai dengan shalat berjamaah di Masjid Raya Al Bantani dan penyerahan Kitab Suci Al Qur’an, dialog di Sekretariat FKUB, kunjungan ke rumah ibadah Gereja GKI Serang, Pura Ekawira Kesatrian Gatot Subroto, Vihara Avalokitesvara Banten dan Klenteng Boen Tek Bio.

Semua anggota rombongan FKUB Kaltim menghadiri pertemuan dan kunjungan ke berbagai rumah ibadah. Terlihat betapa para pemuka agama tersebut berusaha mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang agama-agama yang diakui Pemerintah, serta bagaimana upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan.

Pada pertemuan di Banten terungkap, sebanyak 96.6% penduduk Provinsi Banten yang kini berjumlah lebih dari 11,8 juta jiwa beragama Islam, lainnya Protestan 1.2%, Katolik 1%, Budha 0.7% dan Hindu 0.4%, namun toleransi umat beragama masyarakatnya sangat tinggi dan semua pemeluk agama dapat melaksanakan kewajiban agamanya dengan baik.

Ketua FKUB Banten Prof Suparman Usman mengatakan, Banten kini menjadi barometer untuk etika kerukunan umat beragama di provinsi seluruh Indonesia. “Etika kerukunan antar umat beragama itu kini dituangkan dalam bentuk buku,” katanya.

Dia mencontohkan, setiap agama mempunyai ucapan salam, namun bagaimana pengucapannya, tentu ada tata cara atau etikanya. Menurut Usman, etika kerukunan umat beragama sangat penting untuk menghindari konflik dan masalah terkait etika beragama.

Bagi kalangan masyarakat keturunan, toleransi sangat didambakan. Menurut Oey Tjin Eng yang juga Humas dan pengelola Perpustakaan Perkumpulan Boen Tek Bio Tangerang, setiap umat beragama perlu belajar sejarah, utamanya asal-usul bangsa-bangsa. Dari situ juga akan dapat diketahui, Tuhan menciptakan manusia berbeda suku bangsanya, namun bersaudara. (ri/hmsprov)

 

//Foto: TINGKATKAN TOLERANSI. Anggota FKUB Kaltim bersama FKUB Provinsi Banten. (hadri/humasprov kaltim).

 

Berita Terkait