Beranda Negara yang Membutuhkan Perhatian

Kunjungan Jurnalistik ke Mahakam Ulu ( bagian 1)

 

Sebagai Daerah Otonomi Baru,  kondisi  Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, masih jauh dari kata bagus. Banyak kekurangan dari berbagai sarana dan prasarana wilayah. Sarana jalan, air bersih, kesehatan dan listrik sangat terbatas, sehingga perlu perhatian semua pihak, sebagai upaya percepatan pembangunan daerah yang disebut beranda negara, karena kawasan tersebut berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.

Berkaitan dengan hal itu, jajaran Biro Humas dan Protokol Setprov Kaltim dan sejumlah wartawan media cetak dan elektronik, baru –baru ini melakukan kunjungan jurnalistik ke daerah itu. Berikut tulisan bersambung dari hasil kunjungan tersebut.

 

Speed Boat berkapasitas 20 penumpang bermesin dua masing-masing berkekuatan 200 PK yang ditumpangi 18  wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik serta sejumlah pejabat dan staf BiroHumas dan Protokol Setprov Kaltim,  perlahan mendekati dermaga di Desa Ujoh Bilang, Kecamantan Long Bagun,  Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) yang merupakan Daerah Otonomi Baru (DOB) termuda di Kalimantan Timur.

Setelah menempuh perjalanan satu hari satu malam dari ibukota Kaltim, Samarinda menggunakan angkutan kapal sungai, yang hingga kini masih menjadi andalan warga setempat, dengan waktu tempuh dua hari dua malam hingga ke Kecamatan Long Bagun.

Rombongan wartawan yang melakukan Kunjungan Jurnalistik ini, tidak bisa meneruskan perjalanan dengan kapal,  karena kondisi air sedang surut sehingga hanya sampai di Kecamatan Tering, yang merupakan wilayah Kabupaten Kutai Barat sebagai daerah induk Kabupaten Mahulu.

Karena kondisi air yang tidak memungkinkan,  rombongan jurnalistik  meneruskan perjalanan dengan speed boat yang telah disiapkan Pemkab Mahulu. Beruntung, ternyata dengan sarana perahu cepat ini, rombongan bisa tiba lebih cepat di ibukota Mahakam Hulu.

Dengan sarana tersebut, perjalanan melalui air dari Kecamatan Tering ke Ujoh Bilang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam, Namun rombongan harus mampir dulu untuk makan siang di Desa Datah Bilang, sehingga  perjalanan tersebut harus ditempuh sekitar 4 jam.

Rombongan jurnalistik merasa lega,  karena perjalanan bisa lebih cepat dibanding jika harus tetap naik kapal, diperkirakan baru sampai tujuan  paling cepat pada pagi keesokan hari, sehingga total waktu tempuh dari Samarinda ke Long Bagun atau ke Ujoh Bilang, dengan kapal mencapai dua hari dua malam.

Sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Gruti di Kecamatan Tering, Motoris Speed Boat Putra Daerah, Dalung banyak bercerita terkait sarana transportasi di kawasan tersebut. Dalam perbincangan tersebut, Dalung mengatakan jika kondisi air Sungai Mahakam surut,  speed boat dan long boat merupakan  satu-satunya sarana transportasi dari Tering ke sejumlah daerah di Mahakam Ulu yang terdiri atas lima kecamatan, yakni Long Hubung, Long Bagun, Long Naham, Long Pahangai dan Long Apari.

Kondisi itu terjadi karena sampai kini sejumlah kawasan tersebut belum memiliki sarana jalan darat yang menghubungkan Kecamatan Tering di Kutai Barat ke lima kecamatan di Kabupaten Mahulu yang merupakan daerah perbatasan dengan negara tetangga Malaysia.

Dalung menjelaskan ongkos angkutan dari Tering ke Ujoh Bilang relatif mahal, yakni untuk perorangan dikenakan biaya Rp350 ribu untuk sekali jalan, dengan speed boat berkapasitas 15 penumpang.

Namun bagi penumpang yang ingin menyewa, tanpa harus menunggu penuh bisa mencarter dengan harga Rp3,5 juta untuk sekali jalan. Apabila carter pulang pergi akan dapat potongan harga Rp1 juta alias  cukup membayar Rp6 juta.

“Ongkosnya memang mahal, karena biaya BBM untuk speed boat juga besar. Sekali jalan dari Tering ke Ujoh Bilang membutuhkan BBM premium mencapai 200 liter, sementara harga premium di daerah ini mencapai Rp9 ribu perliter dalam kondisi normal, kalau BBM langka, harganya bisa mencapai 18 ribu perliter,” kata Dalung.

Biaya angkutan kian mahal jika kita melanjutkan perjalanan ke Long Pahangai dan Long Apari, karena untuk mencapai dua kecamatan ini hanya bisa ditempuh dengan speed boat atau long boat dan harus melewati riam atau jeram dengan arus deras dan berbahaya karena banyak batu besar di tengah sungai.

Tidak heran untuk mencapai kedua kecamatan tersebut, harus merogoh kantong lebih dalam. Sekali jalan ongkosnya mencapai Rp800 ribu hingga Rp1 juta perorang, dengan resiko bahaya, yakni speed boat terbalik  saat melewati sejumlah riam atau jeram tersebut.

Mahalnya ongkos angkut baik barang maupun orang di daerah ini juga berdampak pada mahalnya harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat, termasuk harga Bahan Bakar Minyak (BBM), misalnya harga premium di Long Bagun  saat ini mencapai Rp12 ribu perliter, sementara itu  di Long Pahangai dan Long Apari, yakni mencapai Rp25 ribu perliter.

Demikian juga dengan harga kebutuhan lainnya, misalnya bahan bangunan berupa semen, di Long Bagun saja semen 50 kilogram Rp150 ribu, tentunya di Long Pahangaidan Long Apari harganya bisa mencapai Rp500 ribu bahkan bisa Rp1 juta persak. Kondisi itu kian diperparah karena barangnya juga kadang langka, karena jumlah pasokan lebih sedikit dibanding permintaan.

Jika melihat kondisi yang dialami warga Mahulu dan sejumlah kawasan perbatasan lainnya, tentunya warga kota harusnya menyadari betapa kuat perjuangan anak bangsa di kawasan perbatasan yang tetap setia dengan Negara Kesatuan Indonesia (NKRI), meski harus hidup dengan biaya tinggi dan serba terbatas di Beranda Negara.

Kondisi itu, tentunya sangat berbeda dengan warga Indonesia di perkotaan yang setiap hari menikmati subsidi BBM dengan harga jauh lebih murah, demikian juga dengan berbagai harga bahan bangunan serta kebutuhan lain, dengan barang yang selalu tersedia setiap saat.

Jika beberapa waktu lalu, terjadi kelangkaan BBM di sejumlah wilayah di Indonesia akibat pembatasan kuota BBM subsidi, sehingga membuat panik masyarakat dan pemerintah. Sementara itu, sebagian besar  warga Kaltim di pedalaman dan perbatasan sudah merasakan keadaan itu sejak lama, bukan hanya BBM yang terbatas, harganya juga jauh lebih tinggi dari harga normal,  bahkan hal itu dirasakan hingga negeri ini telah berusia 69 tahun setelah merdeka.

Tidak berhenti di situ, perjuangan atau bisa juga dikatakan penderitaan warga Mahulu kian lengkap karena sejak lama tidak bisa menikmati penerangan listrik 24 jam, karena listrik di kawasan tersebut hanya menyala enam jam, yakni pada pukul 18.00 Wita hingga pukul 00.00 Wita.

Sehingga mulai pukul 00.00 hingga pagi hari menjelang, kawasan Ujoh Bilang dan sekitarnya akan gelap gulita, karena PT PLN hanya mampu memberikan penerangan enam jam setiap hari.

Tidak heran setiap rumah di kawasan ini, umumnya memiliki generator set (genset) mini untuk mengantisipasi terbatasnya pelayanan penerangan listrik oleh PT PLN persero. Bahkan yang mengherankan saat menyala malam haripun, kadang-kadang masih terjadi pemadaman.

Berbagai keterbatasan tersebut, membuat pengembangan kawasan ini terasa lambat, karena sarana dan prasarana pendukung belum memadai. Termasuk sarana jalan yang sangat minim. Sarana air bersih juga belum ada.

Memasuki kawasan Ujoh Bilang dari dermaga utama, sekitar 50 meter, kita sudah  masuk ke kawasan konsentrasi penduduk dengan jalan cor beton yang lebarnya tidak lebih dari 4 meter,  sehingga sebagian besar warga setempat hanya bisa mengandalkan transportasi kendaraan roda dua.

Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar jalan dalam kondisi yang kurang baik karena di sana sini terdapat lubang dan genangan air yang kian mempercapat kerusakan jalan di lingkungan tersebut. Wajar saja itu terjadi karena sejumlah jalan di daerah ini umumnya telah berusia tua. (eko susanto/sul/hmsprov/bersambung)

///Foto :  Suasana kota Ibokota Mahulu (Ujoh Bilang) Kecamatan Long Bagun. (fadliansyah/humasprov)

 

Berita Terkait