Berau Menuju Transformasi Ekonomi Abadi

Menyertai Tim Penilai Panji Keberhasilan Wisata ke Berau (bagian 1)

 

Puluhan pari manta (Manta birostris) tampak menari-nari di dalam air laut yang jernih, membuat tim penilai Panji Keberhasilan Wisata Kaltim yang baru saja meninjau keindahan Pulau Kakaban, takjub dengan pesona laut di Gugusan Kepulauan Derawan dan sekitarnya.

Mengetahui hal itu, motoris speedboat  yang membawa tim penilai, langsung mengurangi kecepatan kapal untuk memberi kesempatan kepada anggota tim menikmati pemandangan unik tersebut.

Seakan sudah terbiasa, puluhan pari manta yang panjangnya mencapai satu hingga tiga meter itu tidak terusik  dengan kehadiran manusia dan terus asik mencari makanan.

Bahkan beberapa kawanan pari manta justeru lebih agresif dengan mengepakan sayap sehingga menimbulkan suara cipakan cukup keras akibat beradunya sayap manta dengan gelombang air laut.

Sementara itu, sekitar 100 meter arah kiri nampak Pulau Sangalaki yang merupakan kawasan konservasi berkembangbiaknya penyu, baik penyu hijau (Chelonia mydas)  maupun penyu sisik  (Eretmochelys imbricata) secara alami. Pulau ini menjadi lokasi bertemunya ratusan penyu dari penjuru dunia untuk bertelur.

Setelah berhenti sejenak menyaksikan pari manta, tim yang terdiri atas Profesor. Dr Suharno dari Universitas Mulawarman, Ketua Penelitian Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda,  Profesor. Dr  FL Sudiran serta  Kepala Seksi Niaga dan Jasa Badan Pusat Statistik Kaltim, Sudarsono yang didampingi Kepala Seksi Destinasi Dinas Pariwisata Kaltim Aidil Fauzi, melanjutkan perjalanan untuk melihat berbagai objek wisata lainnya di kawasan tersebut.

Sebelumnya tim juga dibuat takjub dengan keindahan danau di tengah Pulau Kakaban yang terkenal dengan ubur-ubur yng berenang terbalik dan tidak menyengat, sehingga sangat aman bagi wisatawan yang ingin berenang di danau yang airnya terasa payau itu.

Profesor Suharno menilai kekayaan alam, berupa gugusan kepulauan dan keindahan perairan laut dan dan sejumlah objek wisata lainnya  di Kabupaten Berau, merupakan anugrah Tuhan Yang Mah Esa sangat luar biasa.  Ternyata hal itu disadari oleh Pemkab Berau dengan mengedepankan pembangunan wisata sebagai salah satu program unggulan.

Langkah itu sangat tepat, karena dengan mengembangkan objek wisata yang berasal dari kekayaan alam pasti berdamak terhadap lestarinya lingkungan itu sendiri dan jika  dilakukan konsisten bisa dipastikan bisa dinikmati oleh generasi mendatang dari masa ke masa.

“Kita bisa katakana, Berau mampu memanfatkan kekayaan alam untuk menyokong transformasi ekonomi jangka panjang bahkan abadi dan dampaknya bisa dirasakan dari generasi ke generasi,” kata Suharno.

Kendati demikian, Suharno mengakui untuk membangun sebuah kawasan wisata baik berupa alam, membutuhkan kerja keras dan cerdas dengan dukungan dana yang tidak sedikit. Karena untuk memudahkan akses menuju kawasan wsiata alam umumnya perlu pembangunan infrastruktur serta berbagai sarana pendukung lainnya.

Sementara hasil yang didapat tidak serta-merta diperoleh dalam waktu cepat, karena kegiatan semacam ini bukan mengutamakan hasil, namun lebih mengedepankan dampak yang akan dirasakan masyarakat, seiring dengan kian berkembangnya sejumlah objek wisata.

“Saya kira Pemkab dan masyarakat Berau menyadari hal ini, sehingga kami menilai apa yang dilakukan pemerintah untuk kemajuan wisata mendapat dukungan dari warga,” ujar Suharno.

Dia mencontohkan, bila ada pengjung yang datang ke Berau dengan tujuan ke Gugusan Kepulauan Derawan, tentu harus melalui Ibukota Tanjung Redeb. Sbelum ke Derawan dan sekitarya pastilah pengujung akan membutuhkan angkutan, kemudian makan, bahkan menginap dan keperluan lain yang berkaitan dengan kebutuhan manusia.

Dari contoh ini, tentunya bisa dirasakan oleh pelaku ekonomi di Berau, yakni pemilik penginapan atau hotel, rumah makan, penyedia jasa angkutan darat dan air bahkan penyedia angkutan udara juga merasakan.

Itulah dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat, sedangkan bagi pemerintah tentunya peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari hotel, rumah makan dan jasa angkutan.

“Semakin maju kepariwisataan satu daerah, tentunya dampaknya juga kian besar dan meluas serta  membawa kesejahteraan bagi masyarakat, termasuk PAD satu daerah. Meskipun PAD tersebut tidak langung diterima dari  objek wisata yang dikembangkan,”  kata Guru Besar Bidang Pemasaran Fakultas Ekonomi Unmul ini.

Hal senada juga disampaikan Profesor FL Sudiran. Menurut dia transformasi ekonomi yang dilakukan Kaltim yaitu, mengubah ketergantungan ekonomi   yang kini bertumpu pada sumber daya alam  yang tidak bisa diperbarui menuju pengembangan ekonomi yang bersifat terus menerus atau yang dapat diperbarui. Sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

Harus diakui, Kabupaten Berau melangkah lebih baik dibanding daerah lain. Dia menilai dengan tersambungnya akses jalan  dan sarana transportasi lain ke sejumlah objek wisata, merupakan bukti kesungguhan dan kecerdasan jajaran Pemkab Berau menangkap peluang untuk kesejahteraan masyarakat di masa kini dan akan datang.

“Saya melihat jalan-jalan dalam kota lebih rapi demikian juga dengan sejumlah kawasan yang tertata baik, membuat setiap orang yang berkunjung ke Berau betah berlama-lama. Semua itu akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat, baik langsung maupun tidak,” kata Sudiran.

Sementara itu, Sudarsono juga mengakui bahwa Berau konsisten untuk mengembagkan wisata sebagai program unggulan, meskipun saat ini daerah ini sudah cukup sejahtera dengan sumber daya alam. Namun, Berau menyadari satu saat SDA pasti habis. Karena itu ketika SDA masih bisa diandalkan, perlu upaya mencari pengganti.

“Berau telah menemukan produk ungulan terebut, yakni sesuai dengan potensi daerah, yakni program pengembangan kawasan wisata yang tersebar di daerah tersebut,” kata Sudarsono. (eko susanto/adv-bersambung).

 Foto: Tim Penilai Panji Keberhasilan Pembangunan Pariwisata, dari kiri: Sudarsono,  Prof Dr Suharno dan Prof Dr  FL Sudiran didampingi Aidil Fauzi dengan latar belakang Danau di Pulau Kakaban. (Foto:eko susanto/humasprovkaltim).

 

Berita Terkait