Bere Ali : Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal

JMF Bontang 2013 dibuka


BONTANG - Perusahaan yang beroperasi di Kaltim diminta untuk lebih memprioritaskan tenaga kerja lokal dibanding  tenaga kerja dari luar Kaltim.  Selain akan membantu mengurangi jumlah pengangguran, kebijakan perusahaan tersebut juga akan memberi kontribusi besar dalam upaya pengentasan kemiskinan di daerah ini. Jumlah pengangguran di Kaltim hingga Agustus 2013 masih tercatat 8,04 persen.
Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Provinsi Kaltim,  H Bere Ali saat mewakili Gubernur Awang Faroek Ishak, membuka Job Market Fair (JMF) 2013 di Kota Bontang, Selasa (19/11), mengatakan, setiap perusahaan di Kaltim harus memiliki komitmen kuat memprioritaskan sumber daya manusia atau tenaga kerja lokal.  
“Saya sudah mengelilingi semua meja perusahaan dan mereka pun tegas akan memprioritaskan tenaga kerja lokal. Saya pikir ini komitmen yang sangat baik yang harus dimiliki semua perusahaan yang beroperasi di Kaltim,” kata Bere Ali, usai membuka JMF 2013 Bontang dan melakukan peninjauan ke seluruh meja perusahaan yang dipusatkan di Aula Koperasi PT. Pupuk Kaltim.
Bere menambahkan, jika saat ini spesifikasi dan kemampuan para calon tenaga kerja masih belum sesuai standar perusahaan, maka perusahaan dapat meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal itu melalui pelatihan-pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) yang tersedia. Perusahaan dapat memanfaatkan kerjasama dengan sejumlah BLK di Kaltim.    
Terserapnya pencari kerja, secara otomatis akan mengurangi angka pengangguran. Saat seseorang sudah mendapatkan pekerjaan, maka dia tidak lagi menganggur. Dengan bekerja, maka mereka akan mendapat penghasilan dan secara langsung akan mengurangi jumlah penduduk miskin di Kaltim yang kini tinggal 6,06 persen.  
“Tugas pemerintah adalah menjadi fasilitator untuk mempertemukan para pencari kerja dan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Salah satu upaya yang dilakukan melalui Job Market Fair ini,” seru Bere Ali.
Lebih jauh mantan Kepala Dinas Sosial Kaltim ini menguraikan, angka pengangguran di Kaltim yang tercatat sebesar 8,04 persen hingga Agustus tahun ini, masih sangat tinggi. Penyebabnya sangat beragam. Diantaranya karena tingginya angka pertumbuhan penduduk 3,82 persen pertahun. Dari jumlah itu, 1,2 persen berasal dari  angka kelahiran, sementara 2,6 persen pengaruh migrasi penduduk luar Kaltim. Faktor migrasi ini pula yang mendorong tingginya angka pengangguran di Kaltim, termasuk di Bontang.   
Jika dibandingkan, jumlah pengangguran di Kaltim pada 2009 masih cukup tinggi yakni 11,11 persen. Dalam RJPMD 2009 – 2013 persentase jumlah pengangguran ditargetkan tersisa sekitar 7,22 persen. Sedangkan capaian hingga 2012 adalah 8,04 persen.   
“Penurunan jumlah pengangguran ini sudah sangat baik. Kita harus optimis pada akhir 2013, angka pengangguran di Kaltim akan mampu kita tekan hingga target yang telah ditentukan. Salah satunya dengan menggelar JMF ini,” jelas Bere.   
Bere melanjutkan, dalam analisa Pemprov, belum maksimalnya serapan tenaga kerja lokal lebih banyak dipengaruhi faktor kompetensi dan keahlian yang  tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kesempatan kerja sudah terbuka, namun tidak terisi oleh pencari kerja lokal.  Pengusaha  pasti ingin merekrut tenaga kerja yang sesuai untuk mendukung produktivitas kerja dan kemajuan perusahaan.
Dalam perspektif jangka panjang, sambung Bere Ali, Gubernur Awang Faroek telah merumuskan program kontekstual relevansi antara dunia pendidikan dan kesempatan kerja yang tersedia.  Harapan gubernur, dengan relevansi antara dunia pendidikan dan kesempatan kerja, maka jabatan-jabatan yang tersedia di perusahaan bisa diisi oleh tenaga-tenaga kerja lokal. Sebab tidak mungkin juga pemerintah daerah membuat proteksi atau larangan kepada SDM luar Kaltim untuk ikut berkarya di daerah ini.   
Langkah-langkah yang ditempuh Gubernur Awang Faroek diantaranya dengan melakukan kerjasama dengan Universitas Mulawarman Samarinda dan perguruan tinggi lainnya di Kaltim agar menyiapkan program-program studi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Langkah lain Gubernur Awang Faroek adalah mendirikan Institut Teknnologi Kalimantan (ITK), yang saat ini sudah berjalan dua angkatan dan sementara ini dititipkan di Institut Teknologi Surabaya (ITS).
“Ini adalah program nyata yang disiapkan untuk membangun relevansi dunia pendidikan dengan kesempatan kerja. Apapun alasannya, perguruan tinggi itu adalah dapur untuk menyiapkan tenaga kerja siap pakai yang bisa diterima oleh industri. Mana kala ini tidak sinkron, maka persoalan pengangguran tidak akan pernah selesai,” beber Bere.  
Selain membangun relevansi dunia pendidikan dan kesempatan kerja, program kerja gubernur lainnya yang masih terkait dengan upaya menekan jumlah pengangguran adalah dengan melakukan optimalisasi BLK di daerah-daerah.
Sementara itu, Ketua Panitia JMF yang juga Kepala Bidang Pengembangan Tenaga Kerja Disnakertrans Kaltim, HS Abdullah menyebutkan, JMF Bontang kali ini diikuti 49 perusahaan dengan 238 jabatan dan 1.264 lowongan kerja. Sedangkan jumlah pendaftar atau pencari kerja yang mengambil formulir tidak kurang dari 1.500 orang. “Mudah-mudahan semua terserap dalam JMF kali ini,” ujar Abdullah yang terlihat sangat senang melihat antusias warga Bontang dan sekitarnya mengikuti JMF ini.  
Lowongan kerja terbuka berasal dari sektor pertanian, industri, pertambangan, keuangan, perdagangan, pariwisata, kehutanan, bangunan dan sektor jasa lainnya. (sul/hmsprov)

////FOTO : Suasana kegiatan Job Market Fair di Kota Bontang.(samsul/humasprov kaltim)
 

Berita Terkait
Government Public Relation