BPS Lakukan Sensus Pertanian di Kaltim

Upaya Pemda Mewujudkan Kemandirian Pangan

SAMARINDA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim melakukan sensus pertanian per sub sektor terhadap upaya pemerintah daerah dalam mendukung program nasional mencapai swasembada pangan tiga tahun ke depan.

Menurut Kepala BPS Kaltim Aden Gultom, pihaknya telah melakukan sensus pertanian per sub sektor terhadap rumah tangga petani dalam kurun waktu Mei-Juli lalu di seluruh wilayah kabupaten dan kota di Kaltim.

“Sesuai program nasional dalam pemerintahan baru yang menetapkan prioritas mewujudkan kemandirian pangan khususnya tiga tahun kedepan menuju swasembada pangan nasional dan kami telah melakukan sensus pertanian per sub sektor,” kata Aden Gultom saat jumpa pers Sensus Pertanian Kaltim 2014 di Kentor BPS Kaltim, Selasa (23/12).

Program prioritas nasional mewujudkan kemandirian pangan menurut Aden, merupakan nawa cita ketujuh dalam program pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Yusuf Kalla (Jokowi-JK) selama lima tahun kedepan yang wajib didukung dan dilakukan pemerintah daerah.   

Adapaun sensus pertanian per sub sektor terhadap rumah tangga pertanian di Kaltim tersebut yakni sub sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perkebunan serta kelautan dan perikanan juga kehutanan.

 Hasil dari sensus pertanian tersebut diantaranya untuk sub sektor pertanian tanaman pangan adalah komoditi padi ladang (padi gogo) lebih menguntungkan dibandingkan padi sawah karena tidak memerlukan perlakuan khusus atau pemeliharaan selama musim berlangsung.

Padi ladang keuntungannya mencapai Rp6 juta sementara padi sawah sekitar Rp3 juta atau Rp4 juta per hektar. Namun kendala yang dihadapi yakni perluasan lahan untuk padi ladang karena terbatas serta pelaku utama (petani) yang menggelutinya semakin sedikit.

Demikian halnya komoditi tanaman jagung dengan keuntungan mencapai Rp6 juta per hektar tetapi lebih potensial dikembangkan di wilayah Kaltara, sedangkan komoditi kedelai untuk Kaltim masih keuntungannya mencapai Rp2 juta per hektar per musim tanam.

Aden menyebutkan biaya terbesar atau pengeluaran dalam pengembangan tanaman pangan yakni pada bidang ketenagakerjaan atau buruh tani khususnya dalam kegiatan mengelola tanah dan pemeliharaan tanaman.

Karenanya, ujar Aden Gultom, dalam upaya pengembangan tanaman pangan maka pemerintah harus terus memberikan dukungan bagi rumah tangga petani terutama dukungan subsidi baik pupuk maupun bibit serta dukungan peralatan untuk pengelolaan mekanisasi.

Sementara itu, untuk komoditi hortikultura yang lebih menguntungkan untuk wilayah Kaltim adalah tanaman cabe rawit karena biaya menanam bibit hanya mencapai Rp1,4 juta per hektar  per musim tanam jika dibandingkan Kaltara mencapai Rp8,1 juta per hektar.

“Kondisi ini menunjukkan tanaman cabe rawit di Kaltim masih sangat menguntungkan karena rendahnya biaya produksi sehingga keuntungan dapat diraih lebih banyak oleh para petani jika dibandingkan biaya produksi di Kaltara,” ujar Aden Gultom. (yans/sul/hmsprov)

/// Foto: Gubernur Kaltim Dr H  Awang Faroek Ishak di lahan tanaman padi.(dok. humasprov kaltim)

 

Berita Terkait
Government Public Relation