Buah Unggul Lokal Tidak Kalah dengan Buah Impor

Pengembangan Kawasan Hortikultura di Kaltim

Upaya untuk menekan masuknya buah-buahan impor ke Kaltim, Pemprov melalui Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (PTP) Kaltim terus berupaya untuk meningkatkan produksi dan kualitas buah lokal serta buah nusantara.
Dalam upaya memasyarakatkan buah-buahan lokal dan nusantara di Kaltim, sudah beberapa kali dilakukan kegiatan untuk memasyarakatkan budidaya buah unggulan lokal, antara lain, berupa tanam buah nusantara dan makan buah nusantara secara massal di sejumlah daerah di Kaltim.
Selain itu, secara intensif sejak 2009 Pemprov juga melakukan pengembangan kawasan hortikultura di beberapa kabupaten. Hortikultura yang dikembangkan merupakan jenis unggul Kaltim, diantaranya Jeruk Borneo Prima, jeruk nipis tanpa biji (Borneo Lime), durian/lai, pepaya mini dan pisang kepok.
Selama periode 2009-2013 pengembangan kawasan Jeruk Borneo Prima dilakukan di Kutai Kartanegara dengan luas 109 hektare, Kutai Timur (277 hektare), Berau (293 hektare), Bulungan (299 hektare), Nunukan (295 hektare) dan Paser (295 hektare). Total luas lahan adalah 1.568 hektare  atau sudah mencapai 31,4 persen dari target 5.000 hektare.
Pengembangan kawasan jeruk nipis tanpa biji (Borneo Lime) dilakukan di Kutai Kartanegara yang mencapai 10 hektare dan Kutai Barat 35 hektare. Total keseluruhan adalah 45 hektare. Pengembangan kawasan durian/lai dilakukan di Kutai Kartanegara dengan luasan 120 hektare, Penajam Paser Utara (263 hektare, Nunukan (70 hektare), Bulungan (145 hektare) dan Berau (60 hektare). Totalnya adalah 658 hektare  atau 43,9 persen dari target 1.500 hektare.
Pengembangan kawasan pepaya mini dilakukan di Balikpapan yang mencapai 45 hektare) dan Samarinda (60 hektare). Pengembangan kawasan pisang dilakukan di Kutai Kartanegara (188 hektare), Kutai Timur (437 hektare), Nunukan (135 hektare), Paser (50 hektare), Bulungan (15 hektare) dan Swadaya Masyarakat (975 hektare). Totalnya  1.800 hektare  atau 36 persen dari target 5.000 hektare.
“Kita juga terus menggalakkan gerakan menanam buah lokal/nusantara lainnya, berupa nanas dan buah naga. Kita akan terus support petani untuk menanam buah lokal dalam usaha menekan masuknya buah-buah impor ke Kaltim,” jelas Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim H Ibrahim.
Selain itu, disela kegiatan menunggu musim tanam padi sejumlah kelompok tani  juga menggunakan jeda waktu tersebut untuk menanam buah semangka pada lahan sawah, seperti yang dilakukan Kelompok Tani Setia Abadi Desa Babulu Darat, Kecamatan Babulu,  Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Jeda waktu musim panen ke musim tanam digunakan untuk menanam buah semangka di lahan 80 hektare. Hasil panen semangka ternyata lebih bernilai ekonomis tinggi jika dibanding dengan menanam jagung, kacang kedelai atau komoditas palawija lainnya.
Hal ini, menurut Ibrahim dapat ditiru petani lain di sejumlah kabupaten/kota se Kaltim. Petani dapat memanfaatkan lahannya untuk tanaman lebih produktif dan ekonomis.
Sebagai gambaran, saat panen raya tersebut dihasilkan buah semangka 20 ton perhektare dengan harga buah semangka mencapai Rp4.000 per kilogram di tingkat petani. Sehingga petani memperoleh pendapatan Rp80 juta per hektare. Dengan modal olah lahan dan produksi Rp15 juta per hektare, petani masih mengantongi keuntungan sekitar Rp65 juta per hektare. Sementara luas lahan yang dipanen di Desa Babulu Darat mencapai 80 hektare.
"Kita terus gencar mempromosikan bahwa buah nusantara lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi serta menambah gizi  masyarakat. Kami berharap masyarakat   lebih mencintai buah nusantara daripada buah impor yang kandungan gizi dan kesegarannya telah habis karena lamanya penyimpanan," ujarnya.
Tidak hanya itu, Pemprov juga terus berkoordinasi dengan kabupaten/kota guna berusaha melestarikan buah-buah lokal yang sudah langka dan merupakan ciri khas daerah agar tidak punah termakan zaman. Diantaranya adalah buah Wanyi, Rambutan Maritam, Ramania, Kecapi, Langsat Air Putih, Kerantungan, Ehau, Mata Kucing, Duku Bulungan, Manggis, Asam Putar dan lain-lain.
“Masyarakat harus lebih peduli dan memberikan perhatian terhadap buah-buah lokal yang diproduksi oleh petani-petani Kaltim. Selain berdampak pada pelestarian buah dan sayuran lokal juga dapat meningkatkan pendapatan petani,” harapnya. (her/hmsprov)

//Foto: Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak meninjau pasar desa di Balikpapan yang menjual aneka buah-buahan dan sayuran.(dok/humasprov kaltim).


 

Berita Terkait