Diklat Musik Anjungan Kaltim Lestarikan Musih Daerah

Tampil pada Parade Musik Daerah TMII

 

JAKARTA - Musik adalah salah satu kekayaan seni budaya yang dimiliki Indonesia, terutama musik tradisonal dari daerah-daerah yang sangat beragam baik nada maupun  jenis alat musiknya. Sesuai visi dan misinya Anjungan Kalimantan Timur Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII) ikut berperan aktif dalam upaya memperkenalkan, melestarikan dan mengedukasi masyarakat tentang khasanah musik tradisi daerah Kaltim dalam kegiatan lomba yang digelar di TMII Jakarta, bertajuk Parade Musik Daerah ke-3.

Acara ini dilaksanakan pada Minggu (21/9) pukul 15.00 WIB di Candi Bentar Taman Mini “Indonesia Indah”. 

Menurut Kasi Promosi dan Informasi selaku Pimpinan Anjungan Kaltim, Hj Dra Novarita MM, keikutsertaan Diklat Musik Anjungan Kalimantan Tmur ini bertujuan untuk mempertahankan eksistensi musik tradisional dan melestarikan musik khas daerah Kaltim serta memperkenalkan musik tradisi Kaltim agar dapat dikenal secara luas oleh masyarakat.

Target utama yang ingin dicapai dalam keikutsertaan kegiatan ini adalah ingin menarik minat generasi muda untuk lebih menekuni dan mengenal potensi musik tradisonal khas daerah Kaltim secara khusus .

Kegiatan Parade Musik  Daerah ini  yang bersifat apresiasif, evaluatif dan kompetitif, diikuti oleh peserta dari kontigen/diklat seni musik tradisi yang ada di 33 provinsi.  Satu Kelompok diwakili 1 group dengan 7 hingga 15 orang peserta dan setiap peserta diberikan kebebasan untuk menentukan tema, kemudian peserta wajib menggunakan alat musik tradisional khas daerah selain itu, peserta juga harus memenuhi unsur pengamatan yang meliputi musikalitas, orisinalitas kedaerahan, harmonisasi, dan penampilan saat pentas musik.

 Pj Kepala Bagian Diklat Bidang Budaya TMII Endang Sari Dewi mengatakan, acara ini digelar bertujuan untuk mempertahankan eksistensi musik tradisional dan melestarikan musik Nusantara. Pada Acara tersebut juga diserahkan piagam penghargaan kepesertaan dari Direktur Operasional TMII ke para peserta yang mewakili provinsi daerah masing-masing.

Diklat Musik anjungan Kaltim tampil dengan durasi pentas 7 menit, walau tidak menyabet juara tampilan musik membawa judul “Serunai Me’kam” dengan penata musik Yosef Petrus tampil apik dengan membawakan warna musik  khas Dayak dengan iringan “Sapeq” alat musik petik khas suku Dayak. Sementara itu, untuk tim penilai, pihak penyelenggara mengundang pengamat yang terdiri dari pakar dan seniman musik professional, berwawasan nasional, dan bertanggung jawab.

 Menurut Novarita dengan keikutsertaan dalam Parade Tari Musik Daerah, Diklat Anjungan Kaltim  ini diharapkan menjadi tolak ukur pencapaian para pengkarya seni, yakni seni musik daerah Kaltim.

Terutama  karya-karya musik yang diangkat beralaskan tradisi dari 14 daerah kabupaten/kota masing-masing. Sehingga tradisi yang mungkin saja tidak populer lagi, bahkan di kawasan tradisi itu pernah berkembang, terangkat kembali ke permukaan.

“Semakin banyak anak muda yang peduli, maka semakin kuatlah tradisi serta seni mencintai seni musik daerah Kaltim,” kata Novarita.

Dia juga mengimbau agar Pemerintah Provinsi Kaltim dapat mendukung  kegiatan rutin ini karena sesuai dengan visi Anjungan Kalimantan Timur dalam rangka mempromosikan seni dan budaya daerah Kaltim  lewat karya-karya seni yang positif.

Dikatakan pula, di bawah arahan langsung Nurlimansyah yang juga Kepala Kantor Penghubung Kaltim di Jakarta, Diklat musik Anjungan Kalimantan Timur berupaya menjadikan  kegiatan ini sebagai media dan alat promosi daerah, sebagai jati diri daerah Kaltim sehingga mendorong perkembangan kesenian daerah, sekaligus untuk memberikan kesempatan kepada kawula muda dan menumbuhkembangkan kecintaan mereka pada kesenian daerah.(wiena/hmsprov)

//Foto: Para Pemusik Diklat Musik Anjungan Kaltim. (dok/humasprov kaltim).

 

 

Berita Terkait
Government Public Relation