Disbun Latih Petani Karet Kubar

Para petani karet Kubar yang mengikuti pelatihan. (IST)

 

SAMARINDA - Komoditi karet merupakan salah satu komoditas unggulan tanaman perkebunan yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Kaltim selain kelapa sawit. Kendati perkembangan budi daya karet tersebar hampir di seluruh wilayah ini, namun harga jual getah karet yang rendah hingga saat ini masih dikeluhkan petani.

 

Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ujang Rachmad didampingi Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil H Yus Alwi Rahman mengatakan rendahnya harga jual karet dikarenakan sebagian besar dari hasil karet khususnya perkebunan rakyat masih dalam bentuk lumb. Selain itu, produktivitas dan mutu lateks yang dihasilkan masih rendah sehingga perlu ada upaya-upaya  penanganan untuk mengatasi permasalahan ini. "Kita latih para petani agar menghasilkan bokar (bahan olah karet) yang bersih dan bermutu sehingga meningkatkan harga jual dan menjadikan petani karet sejahtera," katanya pada Pelatihan Pembinaan Pengolahan Produk Perkebunan di Kabupaten Kutai Barat. 

 

Dijelaskan bahwa bokar adalah lateks atau gumpalan yang dihasilkan pekebun yang diolah lebih lanjut secara sederhana, sehingga menjadi bentuk lain yang bersifat lebih tahan untuk disimpan dan tidak tercampur dengan benda-benda asing lainnya. Melalui pelatihan ini, peserta diperkenalkan produk baru penggumpal getah karet Specta yang mempunyai keunggulan bagi petani karet yang menggunakannya. Diantaranya, Spekta mampu meningkatkan mutu bokar, menambah bobot karet, tidak berbau menyengat serta harga menjadi lebih baik dan ramah lingkungan. 

 

"Diharapkan melalui pelatihan ini, petani mampu meningkatkan kualitas bokar bersih yang memenuhi baku mutu sesuai dengan standar yang berpedoman pada SNI 06-2047 (standard bahan olah karet) dan nilai tambah yang diperoleh turut meningkat sehingga petani karet menjadi sejahtera," ungkapnya. Pelatihan pembinaan pengolahan produk perkebunan berupa karet dilaksanakan selama satu hari diikuti 35 peserta terdiri petani pekebun karet dari desa-desa di Kutai Barat. (yans/sul/humasprov)

Berita Terkait