Dukung Gerakan Menanam dan Mengonsumsi Buah Lokal

Dukung Gerakan Menanam dan Mengonsumsi Buah Lokal

SAMARINDA - Guna mendukung gerakan menanam buah-buahan, sekaligus menekan masuknya buah impor,  Dinas Pertanian Pangan dan Hortikultura Kaltim terus berupaya mengembangkan produk hortikultura nusantara.

"Kaltim telah melakukan gerakan menanam buah-buahan. Ini dilakukan untuk menekan banyaknya buah impor.  Apalagi gizi buah nusantara lebih terjamin dibanding buah impor yang sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu di perjalanan," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim, H Ibrahim, Selasa (4/2). 

Ibrahim menambahkan, sudah saatnya masyarakat Kaltim mengonsumsi buah nusantara asal nusantara dan Kaltim antara lain jambu air dari Bulungan, pepaya mini dari Balikpapan, nanas dari Samboja, kemudian buah naga yang ditanam sepanjang jalur Samarinda-Balikpapan. Salak pondoh yang sudah terkenal. Stok buah-buahan di Kaltim sangat mencukupi.

Potensi lain yang dikembangkan adalah pisang kepok yang ditanam di Kecamatan Kaliurang, Kabupaten Kutai Timur  dengan luasan 3.000 hektare yang dikembangkan masyarakat dengan dukungan Pemprov Kaltim.

Pada kawasan itu juga dibangun Sub Terminal Agrobisnis. Selain menjual bahan mentah, nantinya di kawasan ini akan dibangun pabrik untuk mengolah buah pisang menjadi tepung pisang dan sebagainya.

Begitu pula tanaman singkong  yang  saat ini menjadi tren di kalangan petani Kaltim. Diharapkan dalam  waktu dekat akan  ada investasi untuk pembangunan pabrik singkong sehingga petani menikmati manfaat lebih besar.

Produk buah nusantara unggulan asal Kaltim tidak kalah bersaing dengan buah dari daerah lain. Sejak 2009 hingga kini, pisang kepok telah dikembangkan secara  swadaya oleh masyarakat, dengan produksi mencapai 25 ribu  hingga 30 ribu kilogram perhari.

"Sebagian produksi pisang kepok dikirim ke Banjarmasin, termasuk pisang yang berasal dari Kabupaten Kutai Barat, Paser, Samarinda dan Bontang," jelasnya.

Saat ini juga sedang dijajaki kemungkinan penjualan pisang kepok ke Surabaya dan Jakarta, bahkan Malaysia.  Keunggulan pisang kepok Kaltim ini salah satunya adalah tingkat kematangan mampu bertahan hingga 10 hari.  

Program budidaya buah nusantara unggulan berikutnya  adalah pepaya mini di Balikpapan dan Samarinda pada lahan 60 hektare dengan produksi 15 hingga 20 ton perbulan.

Produk buah ini juga sempat dikirim ke Surabaya namun kini dihentikan karena sudah masuk pasar modern dan alasan mahalnya biaya pengiriman.

Pepaya mini kini dijual di Supermarket Balikpapan Super Block (BSB), Hero Swalayan dan Giant Hypermart. Dari Samarinda juga dihasilkan pepaya dengan jumlah produksi mencapai 10 ton  perbulan.

"Pepaya-pepaya ini telah kami promosikan lewat sejumlah pameran di berbagai  tempat," tambahnya. 

Berikutnya adalah buah naga yang ditanam di Kabupaten Kutai Barat. Ada pula di Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara di lahan 600 hektare hingga sepanjang jalur ke arah Bontang. Buah asli Thailand ini tidak mengenal musim.

"Setelah berusia sembilan bulan buah naga mulai berbuahdan  setiap 20 hari bisa dilakukan panen. Jenis yang lebih disukai adalah yang dagingnya berwarna merah (jenis super red) yang pasarnya sudah merambah ke Makassar dan Jakarta," jelas Ibrahim.

Faktor penunjang disukainya buah naga karena mengandung pigmen merah terletak pada kulit. Buah ini bisa dijus atau dimasak untuk dikonsumsi langsung. Sangat baik untuk  penderita demam dan  bagian kulitnya dipercaya dapat membantu menurunkan gula darah.

Buah nusantara unggulan selanjutnya yakni jeruk keprok borneo prima yang memiliki ciri kulit berwarna oranye. Saat ini sudah  ditanam  di enam kawasan lahan dengan luas 1.570 hektare di Kabupaten Paser, Nunukan, Bulungan, Berau, Kutim serta Kukar. Jeruk Keprok sebaiknya ditanam  di dataran rendah. Tanaman asli Kaltim ini  biasanya empat tahun baru berbuah.

Ada juga juga buah lai jenis Varitas Mahakam (Durio Kutaijensis) kelompok Buah ini juga banyak ditanam di daerah  Batuah, Kabupaten  Kukar. Buah lai juga terus diperkenalkan ke luar Kaltim saat pameran dimanapun dengan keunggulan lebih tahan dari buah  durian.
            Selanjutnya, buah durian dikembangkan di Kabupaten Nunukan jenis Salisun dan Aji Kuning sejak 2010 di areal 70 hektare. Kaltim juga sedang mengembangkan jeruk nipis tanpa biji di Desa Tutung, Kecamatan Bigung Kabupaten Kubar. (tyo.hmsprov)

///FOTO : Pepaya mini merupakan salah satu komuditas buah unggulan Kaltim yang terus dikembangkan. (ist)

 

Berita Terkait
Government Public Relation